1 tahun lalu · 420 view · 7 min baca · Budaya 79851_79252.jpg

Anna Karenina, Mencapai Surga dan Psikologi Kekerasan Daimonik

Ekstremisme dan Psikologi Kekerasan

“Ia yang melawan monster hendaknya berhati-hati agar tak menjelma monster itu sendiri.” - Friedrich Nietzsche. 

Dulu saya meyaksikan penangkapan maling motor di jalanan. Tubuhnya lunglai dipukuli. Rambut dan wajahnya lengket oleh darah. Bensin disiapkan untuk membakarnya.

Sejenak saya dan pelaku berpandangan, dan pelotot dendamnya seolah berkata, ”Jadi kalian mau membunuhku? Apa bedanya kita, hah? Sama-sama binatang!”

Saya teringat saat itu karena kini adalah momen gila moral. Banyak pihak mengatasnamakan berbagai hal: institusi, konstitusi, agama, atau apalah, untuk mempraktikkan intoleransi ekstrem.

Mengatasnamakan moral, padahal belum tentu di tingkatan memadai di tahap-tahap perkembangan moral Lawrence Kohlberg. Seakan tahu segala, padahal mengidap Dunning-Krueger.

Mudah mengkafirkan dan melabeli setan, tanpa mencoba memahami kejahatan dan setan. Akhirnya menjadi pelaku kekerasan itu sendiri.

Lingkaran setan ini harus diputus, dan langkah awalnya adalah memahami.

“Setiap keluarga bahagia itu sama, namun yang tidak bahagia punya masalah berbeda,” tulis Tolstoy dalam bukunya Anna Karenina. Prinsip Anna Karenina berarti agar sesuatu sukses, tiap faktor penting wajib tersedia. Sebaliknya, kurang satu saja berujung pada kegagalan.

Dalam esai ini, konteksnya adalah tiap manusia terkendali memiliki variabel-variabel lengkapnya, sedangkan pelaku kekerasan ekstrem punya kekurangan masing-masing.

Implikasinya: ketiadaan kausal tunggal. Karena absennya faktor kondisi bisa banyak sebabnya. Di zaman overpopulasi, banyak jenis manusia, dan generalisasi bisa memicu bencana.

Tiap kasus punya multi-sisi sendiri. Tiap pelaku memiliki kombinasi kondisi berbeda. Seperti kata Jack Crawford saat investigasi: jangan paksakan prasangka kita atasnya, biarkan dia mengungkapkan dirinya.

Ini juga disinggung Stephen Diamond dalam Anger, Madness, and the Daimonic. Tentang daimonik, semua fungsi alami yang mampu mengambil alih paksa seseorang.

Daimonik bersifat inheren. Elemen esensial yang menjadikan kita manusiawi. Berupa faktor instingtual (biologis), genetis, serta pengalaman kolektif maupun personal. Daimonik sering disangkal, disalahpahami, dan direduksi oleh masyarakat umum.

Di realita sehari-hari, ia bisa mewujud sebagai letusan kekerasan dalam berbagai sosok. Berikut sebagian jenis kasusnya

Niat Baik Salah Kaprah

Konvensionalitas menyatakan segala niat baik berujung baik. Ini jauh panggang dari api. Fakta membuktikan bahwa kompetensi dan keawasan konteks juga diperlukan. Jika tidak akan berujung pada kehancuran sekitar.

Contoh konkretnya adalah persekusi R dan M di Cikupa yang diduga mesum. Diarak, ditelanjangi, dan direkam. Belakangan diketahui keduanya tidak bersalah, tapi terlambat, mereka sudah trauma amat mendalam.

Ini setara dengan Chopper di awal kemunculannya di manga One Piece. Ingin mengobati Hiluluk, namun berujung menewaskannya dengan jamur beracun Amiudake.

Esensi kesalahan fatal ini adalah tidak memverifikasi. Padahal, bukan sekadar melibatkan diri sendiri melainkan mencakup orang lain. Ini bukan main-main.

Mohon izinkan saya menjernihkan. Yang salah bukan moral atau agama, bukan pula kepercayaan pada agama, melainkan manusianya. Poinnya adalah perilaku, kematangan mental, dan tahu di mana dia tahu dan di mana ia tidak tahu.

Masalahnya adalah ‘pelaku kebaikan’ nirakal dan brutal. Jika ilmu belum mampu meneduhkan masalah, baiknya menahan diri daripada memperbesar konflik.

Amok

Pada kasus ini, pelaku awalnya tidak mampu bertindak ekstrem, terutama mencelakai masyarakat. Namun, mereka mengalami tekanan bertahun-tahun dalam hidup sehari-hari. Berbagai permasalahan mendera berurutan dalam jangka panjang.

Perbedaan krusial dengan penderita depresi lain yang biasanya melemah secara soliter adalah pelampiasan akumulasi stres dalam ledakan amukan. Bagai letusan gunung berapi, membawa serta korban sekitar. Sebelum kejadian, biasanya ada indikasi, baik samar maupun terang-terangan.

Sampel konkretnya misalnya insiden penusukan di kapal Wira Glory pada Rabu (20/12/17) oleh pelaku DL. Lainnya: sebelum menggila dalam Tragedi Columbine (20/4/99), Harris dan Klebold, pelaku yang sebelumnya dirisak dan dikucilkan, memposting kebencian dan persiapan mereka di situs web.

Pola ini juga muncul di pembantaian di Akihabara ((8/6/08) oleh Tomohiro Kato. Dua puluh menit sebelum kejadian, ia memposting niatannya di situs web. Motif akumulatifnya: tekanan brutal terkait pendidikan, kegelisahan masa depan, serta kesendirian teramat panjang.

Di kancah literasi, antara lain diwakili oleh Margio dalam novel “Lelaki Harimau” karya Eka Kurniawan. Banyak aspek hidup membentuk keputusasaan luar biasa. Saat titik kritis dan pemicu sepele tiba, maka terjadilah. Amok.

Cedera Otak

Orang sering menganggap mental dan psikologi secara samar. Jika ia abstrak, bumikanlah. Bentuk konkret dari mental adalah area tertentu di otak. Seperti kecerdasan majemuk, berbagai komponen mental ditangani di bagian tertentu di otak kita.

Ini dikaji di antaranya melalui neuropsikologi.

Partisipasi dalam kehidupan sosial yang beradab mensyaratkan koordinasi berbagai faktor. Membaca suasana, memahami aturan tak tertulis, pengendalian emosi, dan sebagainya. Semua ini memungkinkan kita menapaki labirin konsensus sosial super dinamis.

Ketika elemen tertentu di otak rusak, semua kacau. Muncullah perilaku ekstrem dan kasus kriminal ‘di luar akal sehat’. Ini wajar, karena pelaku sudah kehilangan infrastuktur biologis untuk berakal sehat, terutama fungsi lobus frontal dan korteks.

Salah satu pakar masalah ini adalah Jonathan Pincus. Ia telah meneliti latar medis dan psikologis banyak kriminal, dan kebanyakan mereka mengalami cedera parah. Dan ini biasanya di luar kuasa pelaku.

Contohnya adalah Richard Hickock, korban kecelakaan parah pada 1950. Sejak itu hidupnya terhisap spiral degradasi. Puncak kejatuhannya adalah pembunuhan keluarga Clutter, yang diabadikan Capote dalam In Cold Blood.

Sebab lain, yakni penyiksaan brutal dan berulang di masa kecil, momen krusial-formatif otak. Konsekuensinya terbawa seumur hidup dan membrutalkan subjek. Ini terjadi pada Billy Milligan, si pemilik 24 kepribadian. Kisahnya dijabarkan Daniel Keyes dalam The Minds of Billy Milligan.

Di kancah literasi, ini muncul dalam Jagaaaaaan dalam istilah fractured human. Terpecah, terserak, dan terbelah.

Korban Eksploitasi

Di sini mirip dengan amok, di mana pelaku awalnya adalah orang biasa dengan berbagai cobaan. Bedanya, di titik kritis, muncul pihak luar pengeksploitasi kondisi.

Provokator ini sengaja memangsa rentannya korban. Mengatasnamakan ini-itu, si agitator mencuci otak subjek demi menjadi ‘martir’, ‘pejuang’, dan semacamnya.

Contohnya Dzhokhar Tsarnaev, salah satu pelaku bom Boston. Contoh lainnya, yakni pembuat gas sarin di serangan kereta bawah tanah Tokyo (20/3/95), yang dihasut Shoko Asahara, pendiri Aum Shinrikyo. Juga para pemuda yang dimanipulasi Raffaele Cutolo untuk jadi prajurit NCO.

Kerumunan

Mark Granovetter mencoba menjabarkan kejahatan kerumunan, semisal kerusuhan dan intoleransi massal, melalui “Model Ambang Batas Perilaku Kolektif”. Di mana pelakunya heterogen dan memiliki berbagai motif dan ambang kekerasan berbeda. Reaksi berantai bertingkat yang tereskalasi satu per satu.

Misal, awalnya ada orang hanya menangkap maling motor. Orang berikutnya mendorong pelaku. Yang berikutnya memukuli pelaku. Yang berikutnya lagi menyiapkan untuk membakar hidup-hidup. Berikutnya merekam, dan seterusnya.

Artinya, bisa saja ada orang biasa, namun melihat kesempatan dan akhirnya terseret berpartisipasi dalam kondisi kerumunan.

Benang merah dari semua kasus di atas adalah tidak semuanya dilakukan bajingan brengsek yang sadar mencelakai. Tentu, di dunia ini tetap ada setan. Koruptor busuk, pelaku investasi bodong, penipuan travel umrah, dan sebagainya.

Mereka mampu melakukan ini karena tidak menatap mata dan ekspresi wajah secara langsung. Nihil kedekatan sebagai basis empati. Korban dipandang sebagai mangsa, bukan manusia. Statistik abstrak tak berwajah untuk diperah.

“Satu kematian adalah tragedi, tapi sejuta kematian hanyalah statistik,” ujar Joseph Stalin.

Namun, kini jelas disfungsi empati punya banyak dimensi. Pelaku kekerasan ekstrem bisa juga orang biasa seperti kita. Ini jauh berbeda dari stereotip bahwa pelaku ekstrem adalah orang ‘gila’, bahwa orang biasa bukan pelaku, bahwa pelaku pasti sengaja dan terkendali.

Tidak semuanya bermula dari motif sengaja merusak. Bisa karena niat baik tapi asal share dan ikut persekusi. Bisa akibat muntab hidup sehari-hari. Tertimpa kecelakaan. Akibat dieksploitasi, atau karena kesempatan, sengaja menunggangi situasi kerumunan.

Poin saya sederhana. Untuk mengatasi daimon, pertama kita harus mengenalinya, yang di luar maupun di dalam diri. Dari sana muncul pendekatan yang tepat, sekaligus mencegah daimon menguasai kita.

Roda Samsara senantiasa berputar, menggulirkan kita bersamanya. Kadang di atas kadang di bawah. Ada bibit daimonik di setiap kita, yang bisa menggila kapan saja. Hari ini Deva, besok mungkin menghuni neraka. Saat ini manusia, ke depannya bisa saja menjelma Asura.

Tertelan daimon, menjadi korban sekaligus pembawa kemarahan, kebencian, dan penerus siklus kekerasan. Mengipasi distribusi api jahili di bumi. Let’s be humble.

Mari mensyukuri akal jernih yang masih dikaruniakan pada kita. Mencoba mengenali orang dan diri sendiri. Tidak menggila jadi polisi moral, siapa tahu kita masih newbie di level perkembangan moral Kohlberg. Dari sana lalu menyebarkan kristal solusi ke sekitar.

Bisa dimulai dari memverifikasi, tersenyum dan mengajak makan, membagi info loker agar orang tidak mudah terhasut, mencegah pembakaran maling motor, dan sebagainya. Mungkin ini langkah kecil bagi kita, namun bagi orang lain bisa mengubah dunia mereka.

Maling motor itu tidak jadi dibakar. Ada yang mengintervensi, lalu si pelaku dibawa ke kantor polisi. Di situ saya merasakan kedamaian.

Sejak itu, saya tak lagi percaya pada dikotomi biner baik jahat. Mulai mencoba mencari tahu kebenaran, tidak mudah termakan hoaks, dan mencoba mendengar kemanusiaan.

Ada momen-momen ketika saya lepas dari siklus kebencian dunia ini.

Ketika gerbang nirvana terbuka, dan ruhnya mengaliri nadi. Keteduhan bening yang berlangsung sepanjang hari. Sangat halus dan jernih, dan di saat-saat itu, tidak ada polusi emosi negatif yang bisa menjangkau.

Dalam naungan kubah keteduhan itu, jiwa saya merdeka seutuhnya dari kebencian dunia.

Inilah kebebasan.

I conquered the daimons, dan Anda juga bisa melakukannya.

Mencoba menjaga spirit kita sebagai manusia. Berawal dari pribadi, lalu menyebar di bumi.

Seperti cuplikan puisi Ulysses oleh Alfred Tennyson:

Walau bersimbah luka, tegakku berdiri
Tetap jiwa gagah berani
Tergoyah waktu dan nasib, namun teguh tekad
Berupaya sekuat tenaga, untuk mencari, menemukan, dan tuk pantang menyerah

Artikel Terkait