Seperti yang tertera pada judul, tulisan ini sejatinya berangkat dari sebuah keresahan. Meresahkan tindak tanduk sebagian besar orang yang kian hari makin mengundang amarah. Utamanya di masa pagebluk seperti saat ini. 

Keresahan ini seolah tumbuh makin besar membuncah di dalam dada dan memaksa saya untuk segera mengeluarkannya. 

Sebab akan sangat menyiksa jika ditahan lebih lama lagi. Sebagaimana tersiksanya Anda saat dengan terpaksa mendengarkan ocehan ibu pemilik kos yang menceramahi Anda lantaran telat bayar sewa kos (sekalipun tidak semua sih ibu kos seperti itu).

Selain resah terhadap tubuh-tubuh yang sok kebal dengan si virus Corona sehingga membuat mereka makin pede untuk berkerumun, bahkan enggan mengenakan masker. Pun demikian sama resahnya terhadap mulut-mulut yang sok bijak bestari dan merasa benar saat melafazkan kata-kata yang sifatnya anjuran seperti "jangan lupa untuk selalu mengonsumsi makanan yang bergizi". 

Jujur saja, setiap kali saya mendengar kalimat itu, jiwa saya ini yang sebenarnya cukup penyabar tiba-tiba sangat ingin meronta-ronta dan mengamuk lalu berteriak keras-keras di depan lubang telinga para pelantunnya "Woiiii, emang kalian doang yang hidup di dunia ini. 

Ingat.... Negara kita ini bukan negara maju, yang rakyatnya makmur semua. Alih-alih buat ngelist barang belanjaan yang isinya makanan bergizi semua, mikirin besok apa masih bisa makan saja itu masih banyak yang dialami oleh saudara-saudara kita yang ada di negara tercinta kita ini. Huuufftttt."

Anjuran tersebut kemudian makin gencar digembar-gemborkan, terlebih lagi di masa pandemi seperti saat ini. Di mana semuanya dituntut untuk senantiasa meningkatkan dan menjaga daya tahan tubuh. Sehingga peluang untuk terjangkit virus lebih sedikit.

Utamanya di berbagai acara yang sering tayang di TV (yang paling sering sih kayak di acara-acara berita gitu), biasanya anjuran yang seperti itu akan disampaikan pada sesi akhir dari sebuah acara tertentu. "Jangan lupa untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, dan yang terpenting adalah selalu mengonsumsi makanan yang bergizi." Demikian kalimat yang sering digunakan.

Anak tetangga saya juga belum lama ini sampai nangis-nangis segala setelah dimarahi oleh ibunya. Sebabnya, karena si anak lupa minum susu di waktu pagi pada hari itu. Keyakinan ibunya, semakin banyak anaknya minum susu, semakin kebal pula ia dari berbagai macam penyakit dan virus, khususnya si Corona.

Ya, saya pun sebenarnya sangat setuju bahwa salah satu upaya yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh adalah dengan mengonsumsi makanan yang bergizi. Bahkan seluruh dunia pun juga mengakuinya. 

Salah satu buktinya bisa kita lihat di banyak iklan yang setiap hari tidak bosan-bosannya menghiasi layar kaca TV kita. Di mana seluruhnya hampir berisikan tentang berbagai macam merk produk makanan dan minuman yang katanya mengandung gizi yang sangat paripurna, sehingga bisa membantu meningkatkan kekebalan tubuh. Apalagi iklan yang "minum makanan bergizi". (Eh, gak usah dibaca sambil nyanyi segala. Hehehehe).

Tapi, yang perlu dipermasalahkan kemudian adalah saat anjuran tersebut menyeruak ke ranah publik. Seperti yang kita tahu, publik adalah sekumpulan dari banyak orang dengan latar belakang ekonomi yang berbeda-beda. 

Dan yang hadir di ranah ini bukan hanya mereka saja yang setiap harinya selalu meluangkan waktunya untuk ke minimarket, mall, atau toko-toko mewah lainnya. Ditemani dengan "kereta mewahnya" sambil menenteng dompet gedenya dan berjalan dengan gaya berpongah-pongah.

Melainkan ada juga perut-perut yang sering kesakitan karena menahan rasa lapar, kerongkongan yang sering dehidrasi, orang tua yang anaknya terpaksa menganggur karena mahalnya pendidikan, mereka yang kesulitan untuk melunasi biaya rumah sakit, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Bagi golongan pertama, tentu saja tidak ada masalah dengan anjuran yang semacam itu. Bahkan itu sudah menjadi agenda yang wajib bagi mereka, yakni pergi ke pasar untuk berbelanja daging, ikan-ikan besar, sayur-sayuran, buah-buahan, susu dan sederetan jenis makanan dan minuman lainnya yang dianggap sangat bergizi.

Namun tentunya akan lain soal bila anjuran tersebut dihadapkan kepada mereka yang berada di golongan kedua. Karena boro-boro berniat untuk mematuhinya, bahkan sekedar memastikan apakah besok masih bisa "menguyah" atau tidak saja itu masih sering membuat mereka kewalahan.

Sementara anjuran untuk senantiasa mengonsumsi makanan yang bergizi bisa dipahami sebagai keharusan untuk sebisa mungkin dapur yang ada di rumah kita tidak pernah kosong dari makanan yang setiap harinya diborong oleh golongan pertama itu. Dan sudah barang tentu biaya yang dibutuhkannya bukan main banyaknya, di mana yang demikian tentu saja akan sangat menyulitkan bagi golongan yang kedua.

Bagaimana tidak, lha wong mereka yang penghasilannya sudah sangat minim, kok malah disuruh untuk senantiasa mengonsumsi makanan yang bisa dibilang hanya sekali dalam beberapa bulan baru mereka bisa cicipi lagi. Belum lagi di masa pandemi. Haadeehh! 

Sehingga kita pun juga tidak perlu merasa heran jika tidak sedikit dari rumah sakit yang tersebar di negara kita ini banyak diisi oleh para penderita kurang gizi. Hal itu juga didukung oleh data-data yang dikeluarkan menteri kesehatan kita (Kemenkes RI) yang menyebutkan bahwa Indonesia termasuk ke dalam negara dengan gizi buruk yang cukup parah. 

Lagi pula, rajin mengonsumsi makanan yang bergizi bukanlah alternatif satu-satunya yang bisa kita lakukan untuk terhindar dari cengkeraman Corona. Masih ada kok pilihan-pilihan lainnya yang lebih praktis, murah, dan tentunya menjangkau seluruh kalangan (universal). Seperti mencuci tangan dengan sabun, memakai masker, menjaga jarak, berolahraga, serta berpikiran positif.

Olehnya itu, melihat ketidakmungkinannya anjuran tersebut (rajin mengonsumsi makanan bergizi) bisa dipatuhi oleh semua kalangan karena faktor finansial, ditambah lagi di masa pandemi seperti saat ini yang membuat ekonomi banyak orang dalam keadaan krisis, sekiranya sudah cukup menjadi bukti bagi kita untuk tidak lagi meneriakkan kalimat seperti itu. 

Di sinilah perlunya untuk menumbuhkan kesadaran sosial di dalam diri. Kesadaran untuk memahami kondisi yang dialami oleh saudara-saudara kita sesama manusia. Karena sejatinya yang disebut manusia adalah saat ia mampu ikut merasakan apa yang dialami oleh sesamanya, baik pada saat bahagia ataupun sedih. 

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Dr. Ali Syariati "Jika kau mampu merasakan derita, berati kau hidup. Jika kau bisa merasakan derita orang lain, berarti kau manusia".

Kecuali jika rasa kemanusiaan mereka (yang tak henti-hentinya menggalakkan anjuran tersebut) sudah mulai pudar, ya itu sih wajar-wajar saja. Eh.