Walau terkesan apartheid, Israel sudah lama menggunakan Bahasa Arab sebagai salah satu bahasa resminya, mendampingi Bahasa Ibrani. Penggunaan Bahasa Arab sebagai bahasa resmi tentunya mempunyai riwayat panjang.

Warga Israel berketurunan Arab adalah sebagian besar dari mereka, warga Palestina, yang tidak meninggalkan tanah kelahirannya ketika negara Israel didirikan pada 1948. Jumlah mereka sekitar 20 persen dari total populasi Israel. Warga ini tersebar di Wadi al-Hamam, Wadi Ara, Nazaret, Lod, dan Yaffa.

Bahasa, masyarakat, dan budaya adalah trinitas yang entitas. Ketiganya erat terpadu. Ketiadaan salah satunya menyebabkan kepincangan budaya. Bahasa Arab di Israel, selain sebagai penanda eksistensi budaya, ia juga merupakan cermin bagi keberadaan masyarakat Arab di Israel. 

Hampir pasti bahwa bahasa itu adalah sebagian menunjukkan bangsanya. Artinya, Bahasa Arab dan Bahasa Ibrani tak bisa lepas begitu saja bagi sejarah negara Israel.

Bagi bangsa yang maju, maka otomatis bahasanya akan maju, tertera, serta bermartabat. Bahasa Arab dan Bahasa Ibrani merupakan kunci untuk bertukar dan memberikan informasi ke sesamanya. 

Bilingual Arab-Ibrani di Israel lahir atas kesepakatan bersama sebagai bahasa yang diakui oleh pihak resmi, yang kemudian menjadi bermartabat untuk digunakan oleh dewan perwakilan rakyat yang bernama Knesset.

Bilingual Arab-Ibrani gencar digunakan secara meluas di setiap sekolah dan lembaga pendidikan lainnya. Pengembangan Bahasa Arab di Israel ditangani dengan serius, seperti pengembangan yayasan-yayasan dan lembaga pengembangan pendidikan Bahasa Arab yang banyak tersebar di Kota Haifa sejak tahun 2008.

Selain sebagai kepentingan bahasa resmi, usaha tersebut juga bertujuan untuk mencetak kader intelijen yang pandai berbahasa Arab. Pihak intelijen Israel telah menempatkan orang-orangnya untuk menjadi pengajar bahasa Arab hingga di jenjang SMP dan SMA.

Sedangkan di jenjang kampus, perangkat untuk mengajar bahasa Arab juga telah disiapkan. Universitas Haifa merupakan salah satu contoh model pengembangan bahasa Arab untuk kepentingan intelijen. Penghormatan Bahasa Arab juga terlihat dalam pemakaian nama-nama jalan di wilayah Israel.

Bahasa Arab sangat lazim dan digunakan sebagai perantara pertalian marga antara Islam dan Yahudi di Yerusalem. Kedua bahasa ini dilindungi perundangan yang resmi secara sah dan tanpa diskriminasi dalam bentuk apa pun.

Arab dan Ibrani tidaklah jauh berbeda. Keduanya mirip dan menjadi bahasa bersama kaum Semit. Bentuknya mirip satu sama lain. Begitu pun beberapa kosakata dan gramatikalnya meski tak semua. 

Bahkan lebih jauh, antara bahasa Arab dan Ibrani saling berkaitan dalam sejarah kitab suci. Bahasa sangat berhubungan dengan masyarakat dan budaya, karena bahasa merupakan budaya masyarakat.

Hingga pada akhirnya, parlemen Israel, Knesset, telah meloloskan undang-undang kontroversial yang menetapkan Israel sebagai negara khusus Bangsa Yahudi. Undang-undang yang menekankan bahwa Israel adalah Tanah Air Bangsa Yahudi. Dengan demikian, mereka punya hak eksklusif menentukan nasib sendiri di dalamnya.

Konsekuensinya, Undang-Undang tersebut telah 100 persen mencabut bahasa Arab dari daftar bahasa resmi. Penetapan Bahasa Ibrani sebagai satu-satunya bahasa nasional mereka adalah hak asasi kebebasan Israel yang merdeka. Sementara itu, Bahasa Arab yang telah diturunkan statusnya sebagai bahasa khusus adalah sebuah keputusan yang bebas pula.

Kebebasan bahasa yang arbitrer, di mana eksistensinya bergantung pada kesepakatan pengguna, menjadi salah satu pertimbangan penting bagi Knesset untuk mereduksi bahasa Arab. Mungkin, secara psikologis, warga Israel sudah muak dengan pengguna bahasa Arab, yang sewaktu-waktu bisa saja menghujani mereka dengan peluru kendali.

Knesset berpikir ekonomis: daripada dana habis untuk pengembangan bahasa Arab, mungkin lebih bijak untuk digunakan dan menambah dana pembuatan sistem pertahanan militer untuk melindungi warga sipilnya, Skyshield dan Iron Dome

Knesset tentunya lebih memprioritaskan warganya, yang bisa jadi tiap hari dihujani peluru kendali, di mana operatornya berbahasa Arab.

Termasuk apa yang diputuskan oleh Rumah Sakit Rambam Health Care Campus di Haifa, kota yang bersejarah mengembangkan bahasa Arab di Israel, kini sudah melarang perawatnya berbahasa Arab. Seluruh pegawai dan perawat di rumah sakit itu hanya dibolehkan berbahasa Ibrani.

Anjloknya penggunaan Bahasa Arab di Israel juga dipicu oleh ulah pemakai bahasa Arab itu sendiri. 

Seperti kejadian tentang sebagian penduduk Israel keturunan Palestina yang merasa takut menggunakan bahasa Arab di tempat-tempat umum seperti di bus. Hal ini terjadi ketika ada peningkatan penusukan dan penembakan terhadap orang Yahudi.

Sebagian pelaku serangan yang diketahui adalah orang Palestina, sehingga orang Yahudi curiga terhadap mereka yang berbahasa Arab.

Hingga, percakapan alami transaksional seperti di bus, ataupun tempat umum, rata-rata mereka lakukan dengan menggunakan telepon genggam dalam bentuk SMS atau pesan WhatsApp. Mereka lebih baik memilih tidak berbicara dengan suara dalam bahasa Arab.

Begitulah nasib bahasa surga, yang sebagian teori telah mengatakan bahwa bahasa Arab ada sejak Nabi Adam, sebuah pendapat yang merupakan interpretasi Alquran surah al-Baqarah ayat 31. 

Klaim sebagai bahasa pertama yang digunakan manusia kini telah menjadi bahasa pertama yang turun takhta di negara Israel. Bahasa rumpun Semitik dan turunan rumpun Afroasiatik ini akan segera kehabisan napas di Israel.