Begitu malang nasib anjing yang dibawa masuk oleh seorang wanita yang diduga sakit jiwa beberapa waktu lalu. Selain si pembawanya telah diproses hukum, nasib anjing tersebut sama naasnya. Dikabarkan, anjing itu tewas tertabrak. Sungguh mengerikan dan menyedihkan.

Pasalnya, anjing tersebut tidak bersalah, wanita diproses hukum dan akhirnya anjing tersebut mati. Saya yakin bahwa pecinta anjing pasti sangat bersedih mendengar dan melihat fakta ini. Berita anjing masuk masjid hangat maupun viral diberitakan di berbagai media.

Dikabarkan dari Kompas.com, 3/7/2019, bahwa anjing tersebut selama dua hari dicari, tetapi tidak ketemu hingga pada hari selasa ditemukan dalam kondisi sudah tergeletak berdarah. 

Atas temuan tersebut, anjing itu diserahkan kepada tim satwa untuk dikuburkan.

Fakta yang buruk ini adalah bagian kesedihan buat kita dan seluruh pecinta anjing tentunya. 

Hanya karena masalah anjing masuk masjid membuat berita tersebut dibesar-besarkan, padahal sebenarnya yang tak perlu dibesarkan. Apalagi wanita yang membawa anjing tersebut memiliki riwayat gangguan jiwa.

Secara hukum, wanita tersebut tidak dapat dijadikan tersangka maupun diproses hukum, pasalnya dia tidak cakap bertindak dalam hukum. Orang yang memiliki gangguan jiwa dapat dikatakan tidak cakap bertindak dalam hukum, sehingga harusnya wanita itu dibebaskan. 

Tak perlu terlalu membesar-besarkan masalah yang sebenarnya tidak butuh dibesarkan. Hal itu dilakukan oleh wanita gangguan jiwa yang secara hukum tidak dapat dituntut hukuman pidana.

Jadi, kita sudahi pemberitaan ini, tak perlu dibesar-besarkan lagi. Pihak kepolisian pun pasti mengerti kalau dikatakan tidak cakap bertindak dalam hukum itu, salah satunya adalah orang yang memiliki gangguan jiwa. 

Pertanggungjawaban pidana yang diberikan padanya tidak dapat dipertanggungjawabkan karena gangguan jiwa itu.

Saya yakin pihak kepolisian profesional dan berintegritas dalam hal ini dan akan menyudahi kasus dan kejadian ini. Masyarakat pun dihimbau agar tidak lagi memviralkan kasus ini karena tidak berdasar hukum juga. 

Anjing tersebut adalah korban dan wanita itu juga diduga memiliki gangguan jiwa. Layak kasus ini selesai sudah dan kembali kita beraktivitas seperti biasanya.

Berduka

 Rasa duka layak kita berikan terhadap anjing yang tewas tersebut. Anjing itu tidak mengerti apa-apa dan juga tidak dapat dipersalahkan karena itu tindakan wanita yang membawanya. 

Karena itu, ketika dikabarkan anjing tersebut tewas bersimbah darah diduga ditabrak, maka itu adalah bagian dari duka kita. Apalagi para pecinta anjing tentunya.

Malah kita ingin mengetahui siapa oknum yang menabrak anjing tersebut, apakah disengaja atau tidak?. Perlu juga sebenarnya kita mengetahui informasi tersebut. Jangan kita terlalu fokus pada wanita yang membawa anjing yang tidak cakap bertindak dalam hukum.

 Saya lebih setuju untuk saat ini kita berduka atas tewasnya anjing itu, diduga ditabrak daripada memviralkan berita anjing masuk masjid. Apapun alasannya, tak perlu hal itu diviralkan. 

Memang berbagai orang berpendapat bahwa itu hal yang salah, namun jangan kita besarkan kasus tersebut. Perlu juga kita memaafkan yang bersalah dan diduga memiliki gangguan jiwa agar pahala kitya besar di sorga.

Setelah diperiksa lebih lanjut, si wanita ternyata mengalami gangguan jiwa, jadi salah besar bila memviralkan berita tersebut dan membawa-bawa wanita itu ke ranah hukum yang tidak bisa dipertanggungjawabkan olehnya. 

Maka, kita harus sepakati untuk menolak berita anjing masuk masjid diviralkan oleh media. Saya lebih suka kalau berita anjing yang mati tersebut diviralkan agar kita sama-sama berduka.

Anjing itu tak bersalah, tetapi nasibnya harus mati di jalan. Menyedihkan sekali. Saya juga berpendapat bahwa karena viralnya anjing masuk masjid ini semakin banyak hujatan yang datang, ketika kita mengetahui agama dari wanita yang membawa anjing itu, bahkan bisa jadi akan berujung pada mencemarkan agama.

Semoga saja tidak ada kasus pencemaran terhadap suku, agama, ras dan antargolongan terjadi akibat berita tersebut. Sebagaimana Keuskupan Bogor mengatakan agar masyarakat menahan diri dan tidak terprovokasi. 

Begitu juga Imbauan Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta umat Islam untuk tenang dan tidak terprovokasi oleh informasi bernada SARA.

Karena berita itu viral, maka akan beragam tanggapan masyarakat yang mengalir dan bisa membuat perpecahan diantara kita umat beragama. Jadi, ada baiknya berita itu seharusnya tidak viral, cukup sekedar pemberitaan saja dan diserahkan kepada pihak berwajib. Hal itu agar timbul ketertiban dan keamanan bagi kita semua.

Semoga kita dapat memaknai berita tersebut dengan bijak dan bukan bagian penodaan agama. Di satu sisi anjing sudah mati, wanita gangguan jiwa dan sedang diproses hukum dan disisi lain, kita berdamai dan tidak mempersoalkan kasus itu lebih dalam dan lebih panas lagi. 

Alangkah baiknya kita menghormati apa yang sedang dikerjakan pihak terkait dan tidak beropini lebih dalam lagi. Ayo kita berduka saja dengan kabar matinya anjing tersebut, meskipun wanita yang membawanya sudah membuat kita terluka.