Mahasiswa
2 minggu lalu · 9943 view · 5 min baca menit baca · Agama 11294_93642.jpg
Foto: Suara

Anjing Masuk Masjid dan Logika Busuk Felix Siauw

Beredar video seorang ibu berinisial SM (52) membawa anjingnya masuk masjid. Ia marah-marah dan mencari suaminya yang menikah di masjid. Ibu itu juga tidak melepaskan alas kaki yang dikenakannya. Sontak, takmir masjid dan jemaah lainnya mengusir secara paksa ibu paruh baya ini. 

Pertanyaannya, kenapa tidak ada dialog halus untuk memecahkan masalah?

Pria berjenggot menanyakan, apa agamamu? Hal inilah yang membuat ibu meletakkan tangannya di pinggang, lalu menjawab dengan lantang, “Saya Katolik.” Sehingga anjing yang sembari tadi berada pada gendongannya ia letakkan di atas karpet. Tangan ibu mentereng di atas pinggang, menandakan bahwa dirinya merasa geram.

Kemarahan makin menjadi setelah pria berjenggot mendorong tubuh wanita yang memakai baju putih ini. Ia mengatakan, "Kalau Katolik, sana, ini masjid." Ia memarahi bahwa anjing dilarang masuk masjid. Sedangkan jemaah lainnya, yang ikut menyaksikan, mengejar dan menendang anjing.

Namun ketika ibu mengeluarkan HP, pria jenggot langsung membantingnya. HP itu jatuh berkeping-keping. Ibu ini membalas dengan mencoba untuk menendang si pria. Alangkah refleknya kaki ibu diangkat oleh pria, lalu ia menendang balik kaki si ibu.

Peristiwa ini terjadi pada Minggu, 30 Juni 2019. Bertempat di masjid Al Munawaroh, kawasan Sentul, Bogor, Jawa Barat. 

Melalui akun yang diunggah oleh @christian_joshuapale, ia mengaku sebagai saudaranya dan meminta maaf atas tindakan yang dilakukan oleh SM. Kemudian memberi penjelasan bahwa sedang mengalami penyakit schizophrenia paranoia.


Keheranan saya terjadi pada perlakuan pria berjenggot dan jemaah lainnya. Kenapa yang pertama kali ditanyakan oleh si pria adalah identitas agamanya? Toh orang bebas untuk masuk masjid. Tampaknya dia sudah fobia dengan non-muslim.

SM padahal dapat bersikap ramah. Hal ini terbukti ketika berbicara dengan pria menggunakan baju biru. Karena pria ini menyuruh dengan lembut agar si ibu untuk berada di luar masjid. Sebagai seorang laki-laki sejati, dia tidak berhak kasar kepada perempuan. Orang siapa sih yang enggak ngegas kalau dingegasin?

Jika konteksnya adalah “najis” atas anjing dan alas kaki, apa tidak bisa diajak bicara dengan baik-baik? Urusan ini adalah urusan yang sangat sepele. Tidak sepele ketika pria sudah tidak adil sejak dalam pikirannya berbuat kasar kepada perempuan.

Ada beberapa umat Islam menganut pemahaman air liur anjing itu najis. Apalagi mengenai karpet yang digunakan untuk salat. Maka, dihukumkan sebagai barang yang najis dan tidak sah jika digunakan salat. Tetapi, menjadi sesuatu yang sangat besar masalahnya. Islam sudah mengatur bab thaharah atau bersuci.

Perlu kiranya belajar kembali tentang tata cara bersuci. Apakah tidak bisa mensucikan karpet dan lantai yang terkena najis? Najis bukanlah persoalan berat seperti perusakan lingkungan, kejahatan investor, koruptor, dan lain sebagainya. Najis anjing tidak jauh lebih buruk daripada najis politik yang masuk ke dalam masjid.

Saya juga mempertanyakan mengenai jemaah perempuan yang ikut menyaksikan. Si perempuan malah berteriak gak jelas dan ikut mengambil video aksi SM. 

Sesama perempuan, seharusnya sedikit membantu melerai permasalahan yang terjadi. Karena, biasanya, kondisi emosional antarperempuan lebih tinggi. Sejatinya, SM sedang sakit hati dengan apa yang dialaminya, yakni ditinggal nikah oleh suaminya. Wanita mana yang mau dimadu dengan kerelaan hati?

Logika Busuk Felix Siauw

Felix sorang mualaf dalam akun YouTube-nya merespons persitiwa ini. Kini sudah ditonton kurang lebih 458 ribu kali sejak 2 Juli 2019. Jelas, pernyataan felix sedikitnya menggiring opini publik akan hal ini. 

Tetapi dalam videonya yang bedurasi 8.28 menit tersebut sangat konyol. Dan, menggunakan logika busuk dengan penyataan yang tidak masuk akal.


Ia justru berangkat dari opini wargannet yang ikut serta menanggapi peristiwa ini. Tetapi dalam pengawalan videonya, Felix memberitahu tentang reaksi kaum muslimin. Ia menyangka, semua kaum muslimin marah, “apalagi yang berada di dalam masjid,” tuturnya. 

Ini sepertinya hanya kaummu sendiri, Lix, yang menganut islam marah, bukan islam ramah. Karena ada beberapa elemen kaum muslim yang tidak marah. Justru memberikan solusi bahwa menanggapi tindakan SM tidak harus dengan marah. 

Tetapi, kemudian Felix tidak sepakat dengan penyamaan kasus ini. Ia keberatan jika disandingkan dengan peristiwa zaman Nabi, yakni seorang Badui yang kencing di dalam masjid, tetapi oleh Rasulullah SAW dibiarkan. Setelah selesai diguyur dengan air dan disucikan kembali, ia mengatai bahwa orang-orang dengan penggambaran ini adalah orang sok bijak.

Padahal dia mengatakan sendiri bahwa melihat konteksnya, Rasulullah mewajari. Orang, kan, belum paham tentang islam. “Lantas bukan dia untuk menistakan agama,” katanya. Jika Badui ini dimarahi, maka akan keliling-keliling dan mengotori masjid.

Felix berpandangan lain. Ia sulit menerima jika si SM tidak mengetahui tindakan yang dilakukannya. Tetapi dalam pernyataannya tidak disebutkan apa indikator bahwa ibu ini sebenarnya sudah mengetahui. Mengingat SM sendiri beragama Katolik.

Ia juga mengatakan bahwa persoalan ini bukan menjadi problematika urusan fikih. Memang benar, bukan. Tetapi, yang dipersoalkan oleh seluruh umat islam terkhusus aliram marah-marah adalah najis dari anjing dan alas kaki SM. Tambah satu lagi, yakni perbedaan identitas agama.

Bayangan Felix terlalu jauh. Jika berpikiran mencomot satu hadis lalu mempertanyakan, kenapa tidak seluruhnya? Situasi yang terjadi dalam kasus ini sama halnya masa rasul. Pertama, subjek jelas tidak memahami apa itu kenajisan. Kedua, konteks yang dipersoalkan adalah najis. Ketiga, subjek berbeda keyakinan antara Badui dengan SM bukan islam.

Perbedaannya justru pada cara penyelesaian sengketanya. Nabi tidak memarahi orang Badui tersebut ketika kencing. Beliau langsung mensucikannya. 

Sedangkan, apa yang terjadi di masjid Bogor, kebalikannya. Seseorang justru memulai dengan mendorong subjek. Padahal, kita tahu, islam bersifat ramah dan saling mengasihi sesama manusia.

Jika tindakan islam terus-menerus seperti ini, “marah” dalam menyikapi persoalan, islam tidak akan berkembang. Dakwah yang diajarkan oleh rasul melalui adab dan perilaku menjadi terbelakang. Yang ada hanya perpecahan dan pertikaian atas nama islam di mana-mana. 


Lah wong kayak Felix ini belum move on atas kekalahan di pilpresnya. Buktinya, dalam menanggapi kasus ini, ia hubungkan dengan persoalan politik. Padahal, jauh dengan unsur politik.

Atas dalih pencomotan satu hadis yang kemudian dicerminkan berprilaku seperti nabi, ia habiskan dengan pernyataan mengapa tidak semua saja diterapkan. Menurutnya, baik segi pemerintahannya, ekonominya, keluarganya, pandangan terhadap hukum-hukum yang dulu beliau terapkan di Madinah. Lah jelas ini, kan, tidak bisa diterapkan jika berdasarkan pemahaman islam? Pahami dulu apa agama dan perbedaan di luar konteksnya.

Felix justru tidak melihat akar permasalahan yang menyebabkan SM marah. Pandangan saya, SM tidak akan ngamuk jika si pria berjenggot tidak melakukan reaksi semacam itu. SM hanya sedang merasa sedih, karena dalam pikirannya, suaminya menikah di masjid. 

Dangkalnya analisis Felix dalam mencermati kasus ini. Justru, jika kita harus marah seperti apa yang dianjurkan oleh sok islami ini, akan menyebabkan kerusakan tatanan hidup. Seperti apa yang dikatakannya dalam cuplikan video, “Ini, kan, bakal bisa merusak hubungan antarumat beragama.”

Ada ketakutan yang merasuki jiwa Felix: jika kasus ini dibiarkan, maka umat islam akan diperlakukan tidak adil. Ia juga merambah ke jalur persoalan yang dianggapnya kecil, seperti boleh mengikuti kata-kata dari agama lain. Selain itu, ibadah dalam islam dicirikan sebagai hal yang mengganggu ketertiban dan ide-ide islam dianggap makar.

Dengan cara berpikirnya yang seperti itu, saya curiga, jangan-jangan ini hanya akan terjadi pada golongan Felix. Ia membutakan umat islam mana yang tidak diperlakukan secara adil. Mengingat, islam di Indonesia selama ini damai-damai saja. Kecuali umat islam yang dizalimi oleh keserakahan manusia lain yang mengutamakan kekayaan.

Artikel Terkait