Beberapa hari lalu, saya makan berempat di warung cepat saji bersama teman-teman yang baru saya kenal hitungan minggu. 3 teman saya ini sudah saling kenal cukup lama. Kami bertemu karena sedang mengerjakan pekerjaan bersama.

Senja itu, kami cukup akrab. Kami menyisipi aktivitas makan kami dengan berbincang santai.

Kawan yang duduk di seberang saya, Pak A, seorang dosen di salah satu kampus di Jakarta, terlihat menyisihkan tulang ayam sisa ia makan di sebuah wadah. Mendapati saya memperhatikan apa yang ia lakukan, dia lalu berkata, "Ini buat yang di rumah, Mas."

"Siapa nama anjingnya, Pak?" tanyaku yang saat itu juga tahu jika tulang-tulang itu untuk anjingnya, karena tetangga saya juga melakukan hal yang sama ketika makan di luar.

"Journey."

"Widih, namanya keren," kata kawan lain, Bang J, seorang aktivis lingkungan, yang duduk di samping Pak A.

Bapak A bercerita dengan sangat antusias tentang si Journey yang memiliki sikap dan tingkah lucu, menggemaskan, nyebelin, dan pintar; bagaimana ia mendidiknya; dan ia juga bercerita bagaimana tulang-tulang itu ia masak terlebih dahulu sebelum disajikan pada Journey. Saya sesekali menimpali dengan bahasa-bahasa ekspresi bahwa saya tertarik dengan ceritanya.

"Jenis apa, Pak, si Journey?" tanya Mas E yang duduk di samping saya.

"Saya gak tahu. Dia anak dari anjing yang suka nongkrong di kantor DPP partai di Lenteng Agung. Saya adopsi."

"Saya dulu juga punya anjing," kata pria yang kesehariannya mengelola sebuah koperasi yang memproduksi batik alami, makanan dan minuman tradisional di Jogja.

"Oh ya?" sahut Pak A yang mungkin kaget jika Mas E yang muslim itu memelihara anjing.

"Tapi sudah nggak ada. Mati," lanjutnya datar.

"Kenapa emang?," tanya Bang J di seberangnya.

"Ada tetangga yang tidak suka saya memelihara anjing. Ia menjebak anjing saya dengan makanan yang diberi racun."

Kami masing-masing mengekspresikan sikap empati pada Mas E. Sesaat, mulut kami berempat kompak tidak bicara, tapi sibuk mengunyah. Entah dalam hening itu masing-masing kami benar-benar sibuk dengan aktivitas menyantap, atau mereka yang lain seperti saya, sibuk dengan apa yang mendengung dalam pikiran.

Kisah klise dan sering saya dengar. Anjing milik seseorang diracun tetangganya sendiri secara diam-diam dengan alasan anjing hewan najis. Dipercayai lebih najis 7x lipat dari kotoran manusia, dalam keyakinan mayoritas masyarakat kita. 

Jangankan anjing, manusia lain (yang bahkan satu agama, berbeda keyakinan) juga dibenci dan dibunuh oleh sebagian mereka, jika sudah menyangkut keyakinan yang mereka yakini secara fanatik dan membabi buta. Pikirku.

"Saya dulu didatangi Bu RW," kali ini Pak A membuka suara dengan nada pelan dan ekspresi datar. "Kata Bu RW, ia mendapat aduan dari beberapa tetangganya yang keberatan dengan saya yang memelihara anjing. Bahkan mereka mengadakan rapat khusus. Tapi saya tidak mau diam. Saya mempersilakan mereka yang keberatan untuk mempermasalahkannya di pengadilan. Tapi sampai saat ini tidak ada undangan untuk saya ke pengadilan."

Saya tersenyum. Turut senang dengan sikap dia. Dari cerita itu, saya jadi mengerti mengapa si Journey selalu berada di dalam rumah dan hanya sesekali bermain di luar rumah dengan pengawasan penuh Pak A.

"Tahun-tahun awal saya tinggal di situ," Pak A melanjutkan, "kami bertetangga secara baik. Saat balik dari mudik, kami saling bertukar oleh-oleh. Saya dan istri mengikuti aktivitas halalbihalal. Tapi sekarang suasana jauh berbeda."

"Gara-gara masalah si Journey kah, Pak?"

"Nggak melulu soal itu. Suasana tidak enak ini setidaknya sudah terjadi 10 tahun terakhir. Sekarang malah cenderung makin menguat. Entah kenapa belakangan ini Grup WA warga isinya broadcast hal-hal yang tidak nyaman untuk dibaca saya dan istri yang non-muslim," tutupnya dengan nada makin memelan.

"Saya malah menyarankan istri saya tidak ikut grup WA lingkungan warga," Mas E kali ini yang bicara. "Gara-garanya saya mendapati konten grup WA yang bikin kami tidak nyaman. Saya sih tidak apa-apa soal orang yang menganjurkan orang lain memakai jilbab. Tapi masa ajakannya cenderung sarkas, begini: 'Ibu, masa nunggu mati untuk rambutnya dihijabin, dengan kafan?'"

Saya cuma geleng-geleng kepala mendengar akhir cerita Mas E.

"Kawan saya ada pengalaman juga soal resistensi orang lain terhadap anjingnya," Mas E melanjutkan dengan kembali ke topik anjing. "Kawan saya ini muslim juga seperti saya. Anjingnya ia rawat sejak kecil, ia membelinya saat putrinya baru lahir. Maka wajar jika putrinya dan anjingnya sangat akrab. Setiap berangkat sekolah PAUD, putrinya diantar oleh si anjing. Mereka jalan berdua. Setiap sampai gerbang sekolah si putri meminta si anjing pulang sendiri ke rumah."

Kami tertawa membayangkan adegan lucu antara anjing dan gadis kecil itu.

Berdasarkan cerita lanjutan Mas E, guru PAUD-nya ternyata tidak senang dengan itu. Dengan cara lembut Bu Guru PAUD bilang ke Putri. 'Besok kamu jangan berangkat bareng anjingmu lagi ya. Anjing itu hewan najis. ....'

Sesampainya di rumah, gadis kecil itu meceritakan pada ayahnya apa yang terjadi dan yang dikatakan ibu gurunya soal anjingnya yang jika memegang liurnya, setelahnya tangan harus ducuci 7x yang salah satunya dengan tanah.

"Nggak salah kalau kamu berangkat sekolah bareng dia. Nggak salah kita punya anjing. Dia baik. Nanti kamu bilang Ibu Gurumu, kalau anjing kita itu sudah Islam. Sudah baca syahadat."

Kami tertawa mendengar Mas E mengulang apa yang dikatakan temannya kepada putrinya. Mas E tidak melanjutkan apakah si anak mengatakan pada ibu gurunya soal anjingnya yang masuk Islam. Yang pasti, kawannya tidak lagi menyekolahkan anaknya di sekolah itu yang memiliki guru yang melarang anaknya bermain dengan anjing.