Dari balik jendela, aku melihat kota Warsaw masih sepi dari ingar-bingar serta lalu-lalang. Mataku tak sedikit pun mengerjap menyaksikan keindahan langit Warsaw yang menyelimuti seluruh kota. 

Aku bersyukur karena setiap pagi aku bisa menikmati lukisan Tuhan yang satu ini dengan mata telanjang - dari lantai tujuh sebuah flat yang aku tinggali.

Pagi ini aku terbangun dua jam lebih awal dari biasanya. Di atas meja kerjaku, sebuah laptop usang yang di layarnya tertempel sticky-note yang bertuliskan “14 Mei untuk hari jadimu” siap untuk kueksekusi. 

Aku tak begitu banyak konsep dalam mengusung ucapan selamat ulang tahun untukmu. Terlebih, jarak kita yang tak memungkinkan untuk menyongsong temu.

Sebelumnya, izinkan aku berkhidmat untuk ritual pagi yang tak pernah kulewatkan, selepas membuka mata, ialah membesukmu dalam sebuah doa. Meminta kepada Tuhan agar segala harap yang selama ini kulangitkan suatu saat Ia wujudkan. 

Semesta mana lagi yang harus kuaminkan, jika sosokmu sudah lebih dari yang kusemogakan.

Semenjak namamu termaktub di hati, aku selalu menjadi seseorang yang pandai bersyukur. Aku bersyukur bahwa aku bisa menjelma produktif dalam kurun waktu yang singkat karena harus merangkai ribuan diksi yang menarasikan kekagumanku pada sosokmu. 

Aku juga bersyukur karena dengan terus mencintaimu, aku semakin tak punya waktu untuk membenci.

Selepas medeklarasikan rasa syukur, pun tak lupa kulangitkan ucapan terimakasih kepada orang-orang yang begitu berjasa dalam membantumu bertahan hidup 22 tahun lamanya di planet ke tiga dari deretan tata surya ini. 

kepada Ibumu, Bapakmu, kedua saudara kandungmu, serta orang-orang yang kamu nomor-satukan setelah Tuhan.

Prosesi ketiga yang akan kulayangkan adalah ucapan maaf yang sebesar-besarnya atas ketidakmampuanku menafsirkan rasa kagum dalam wujud kasih sayang yang semestinya teraplikasikan secara fisik maupun emosional. 

Lagi-lagi, dalam hal ini, aku harus merelakan posisiku tersalip orang-orang dengan mental dan ego anti pecundang.

Aku tahu, ada wajah lain yang senantiasa mengincar tempat di hatimu. Tetapi, mencintaimu adalah takdirku dan setia adalah sikap yang kuperjuangkan. Aku berhak mengingatmu karena tak ada lagi yang bisa  kulakukan. Aku tak sekalipun cemburu meski yang mencintaimu bukan hanya aku.

Rembulan adalah analogi sederhana untuk menggambarkan betapa sosokmu adalah unsur yang patut diagungkan. Aku suka memandang rembulan meski aku tahu ada banyak orang yang turut menyukainya. 

Aku tak akan membenci mereka yang suka rembulan. Karena mereka adalah bukti bahwa keindahan rembulan nyata adanya, pun begitu denganmu.

Aku juga sadar bahwa siapa pun dapat membuatmu tertawa. Realitasmu dapat menghadirkan rasa bahagia. Dan orang-orang yang menggantungkan rasa di dadamu akan mati-matian mengedepankan segala sesuatu yang istimewa. Maka dari itu, biarkan aku menjadi berbeda dari mereka.

Karena kelak, jika kamu terluka atau ditinggalkan oleh salah satu dari mereka, aku harap aku bisa menjadi tempat yang akan kamu tuju untuk pertama kalinya. Meskipun begitu, aku terlalu jauh dari kata-kata dunia. 

Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk membahagiakanmu adalah dengan menjadi panghapus air mata.

Percayalah, dalam jarak terjauh sekalipun, ada aku yang selalu menunggumu dalam hangat. Ada aku yang setia berdiri untukmu dalam semua rasa yang tidak akan pernah berubah. Untukmu rasa maaf akan selalu tersedia. 

Tak perlu khawatir bahwa keseriusanku akan ternoda. Yakinlah bahwa aku telah menobatkan hatiku untukmu. 

Kamu hanya perlu tahu, bahwa di sini ada lapangnya hati yang setia menunggumu tanpa pernah beranjak sedikit pun. Sungguh, sampai kapan pun, sampai waktu menjemputku dalam lekang yang belum aku ketahui kehadirannya. 

Sekali lagi, segala harap yang aku rapalkan adalah nyata adanya. Berikut dengan hasrat yang tak pernah penat disandingnya.

Aku hanya bisa berharap, hanya bisa menggantungkan permintaan dalam sebuah doa. Aku hanya bisa menyemogakanmu. Semoga kelak saat ribuan penat mengitari ragamu, kamu tahu bahu siapa yang sanggup menopangmu. 

Semoga dalam lelahnya pencarian kebahagiaan, kamu tahu bahwa di sini ada sebuah rasa yang siap sedia melakukan apa saja untukmu.

Berlarilah sekencang-kencangnya. Menghilanglah sejauh-jauhnya. Aku akan selalu percaya pada ketetapan Tuhan. Jika kau benar-benar takdirku, sejauh apa pun kamu beranjak, sejauh apa pun kita berjarak, kamu akan tetap dekat denganku. Sedikit pun tidak akan pernah jauh. Ada doaku yang senantiasa mengikutimu.

Hati demi hati yang kini menggenggam hatimu hanyalah sebuah hiburan. Karena nanti, jika kamu adalah sebuah ketetapan untukku, maka di setiap perjalanan yang kamu langkahkan akan selalu menuju ke arahku. Kini, biarlah begini adanya. Kamu sibuk dengan orang lain, dan aku sibuk dengan semua kebaikan untuk diriku.

Kelak, jika kamu benar-benar orang yang telah Tuhan gariskan untukku, maka aku hanya perlu berkata bahwa hanya ada satu orang yang mampu menerima dan menyayangi semua kekurangan dan kelebihanmu, masa silam dan jayamu, sedih dan bahagiamu, serta sehat dan sakitmu, yaitu aku.

Demikian pengantar singkat dari sebuah rasa yang kadarnya tak akan pernah habis. Berikut dengan segala harap yang akan kulayangkan untukmu. Kupastikan ini akan sampai tepat pada hari ulang tahunmu. 

Ingat! Hanya rentetan kata, harap dan doa. Tak ada bingkisan cokelat pun teddy bear yang terbungkus rapi seperti hadiah lain yang bukan tandingannya.

Aku tidak tahu apakah ini bisa dikatakan sebagai sebuah hadiah atau hanyalah wacana belaka. Seandainya ini bisa disebut puisi, aku ingin namamu menjadi rumah bagi seluruh kata-kataku. Pun seandainya ini sebuah kiasan rindu, aku ingin pelukanmu menjadi alamat satu-satunya yang kutuju. Tak jelas garisnya, tapi ada.

Sebagai penutup, kuucapkan selamat ulang tahun untukmu. Tak ada doa khusus yang bisa kupanjatkan. Sebab kali ini, tugasku hanyalah untuk mengamini seluruh doa-doamu.

Warsaw, 14 Mei 2020