Dentuman detik jam di tangan patung Citadella sudah menunjukkan pukul 23.30 malam, tiga puluh menit menuju hitungan 00.00. Aku merasakan nafasku masih terengah-engah setelah hampir satu jam mendaki bukit Gellert yang akan menjadi saksi betapa sakralnya perayaan 14 Februari di kota Budapest, Hungaria.

Sementara, gumpalan uap dari permukaan sungai Danube yang membelah kota Budapest menjelma dingin yang kian menyengat. Aku dan ribuan muda-mudi lainnya telah siap menyambut pergantian hari yang begitu krusial. 

Hari yang oleh sebagian besar penduduk Eropa dan dunia menjadikannya sebagai kiblat kasih sayang. Iya, 14 Februari. Pasangan bulan dan tanggal istimewa yang begitu diagung-agungkan khususnya oleh mereka yang telah menobatkan diri menjadi sepasang. 

Perayaannya yang selalu melahirkan momentum mampu merepresentasikan esensi primer dari kasih sayang. Sementara, di lain cerita, kaum penyendiri menjadikannya sebagai hari pengucilan yang begitu diskriminatif.

Sementara, sehari sebelumnya, kamu telah menjanjikan aku untuk tetap terjaga di 30 menit menjelang momen itu – tepat malam ini. Sayangnya, bentangan jarak yang sepersekian kilometer ini membuat waktu kita tak selaras. Barangkali fajarmu akan menyingsing tepat saat 00.00-ku menjelang. 

Telepon darimu akan berdering tepat setengah jam lagi.

25 menit menuju hitungan 00.00 terus melaju, 5 menitku baru saja berlalu. Ribuan pasang mata akan turut bersaksi betapa istimewanya peluk cium 14 Februari. Betapa hidupnya langit malam saat seluruh penduduk kota tumpah ruah dalam perayaan ini. 

Bersyukur aku terlahir di tanggal dan bulan yang semoga selalu terpuji ini.

Dingin malam semakin terasa menembus tulang. Fokusku tetap pada arah jarum jam yang kian beranjak berkelebat. Sementara hasratku malam ini masih mendominasi hati. Telepon darimu belum juga tiba pada waktu yang sudah kita sepakati. Itulah hal paling krusial yang kunanti-nanti. 

Aku mulai ragu bahwa ini bentuk kejutanmu atau bagaimana?

Aku harap ini adalah sebuah kejutan yang tengah kamu siapkan dengan tiba-tiba hilang tanpa kabar, atau dengan sengaja tidak ingin mengirimiku pesan duluan. Aku tahu betul bahwa kamu adalah tipe manusia yang begitu tergila-gila dengan prosesi. Segala sesuatu harus dihantarkan dengan sempurna dan terencana.

Masih dengan detakan jarum jam yang terasa berlari kian cepat, aku tetap setia menunggu kejutanmu di ujung pergantian usiaku. Ada hal-hal yang bergejolak dari dalam hati yang tak bisa kutahan seiring beranjaknya malam yang dinginnya semakin mencekam. 

Aku lalu membuka pesan-pesan lama kita guna memecah keheningan di tengah keramaian.

23.55, euphoria kota telah membawaku menuju insomnia. Sementara itu, dua puluh lima menitku berlalu dengan hanya menatap layar ponsel sembari menunggu datangnya ucapan “selamat ulang tahun” darimu. Jempolku, sedari tadi, sudah siap siaga membuka notif yang siapa tahu itu dari kamu.

Betapa sabar dan loyal-nya aku perihal menunggu segala hal yang berbau kamu. Semoga kamu menyadari itu.

00.00, celaka! 14 Februariku baru saja tiba. Panggilan darimu belum jua muncul ke permukaan layar ponsel. Jarum jam di tangan patung Citadella bahkan sudah lima menit berlalu dari hitungan awal. Sementara, muda-mudi mulai menyepi. Penduduk kota, satu per satu, berlalu menuruni bukit. 

Bulan di langit Budapest terlihat kian mengecil.

Kemanakah kamu yang pesannya telah aku nanti-nanti semenjak tanggal 13 kemarin? Adakah kamu mengingat bahwa hari ini ada selamat ulang tahun yang mesti kamu ucapkan?

Aku tak tahu, entah kamu memang benar-benar lupa dengan ulang tahunku atau kamu memang begitu sungkan untuk sekedar mengucapkan. Jika karena alasan lupa, aku bisa maklumi. Karena akhir-akhir ini, kamu sedang sibuk-sibuknya dengan tugas akhir yang harus segera rampung dalam waktu dekat.

Tapi, bagaimana jika rasa sungkan itu yang malah membawamu menuju lupa? Atau mungkin ada orang lain yang kebetulan memiliki tanggal lahir yang sama denganku dan ia kau dahulukan? 

Lihatlah betapa perhatian ini membawaku menuju cemas yang berlebihan. Betapa khawatir ini memaksaku membangun stigma yang tak elok tentang dirimu.

Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menuduhmu yang tidak-tidak. Tetapi pahamilah, pradugaku tentang keberadaanmu dan apa yang tengah kamu perbuat begitu merusak momen ulang tahunku yang seharusnya bertemakan bahagia. 

Satu jam dari hitungan umurku yang baru, lewat begitu saja. Betapa ini menjadi 14 Februari yang ingin kusegerakan saja berlalu.

Sumpah! Ini kali pertama aku mengamini harapan ulang tahun agar aku bisa memasuki lorong waktu dan kembali ke masa 24 tahun lebih muda saja. Lalu aku akan menjelma sperma, bertemu sel telur, dan kembali menjadi cairan mani. 

Setidaknya, proses pembuahan memungkinkanku untuk bisa  memilih hari jadi yang lebih baik dari hari ini.

02.00, akhirnya aku memutuskan beranjak pergi. Dari kejauhan bukit, terlihat patung Citadella seolah melambai iba kepadaku. Layar ponsel kupadamkan, beberapa lampu kota ikut terpejam, 14 Februari-ku berubah suram. 

Semoga malam ini aku bisa tertidur cukup lama hingga aku akan terbangun tanggal 15 nanti - sehari setelah hari ini.

***

Beberapa detik menuju lelap, layar ponselku menyala dan sedikit berdering. Sial! Kenapa mesti ada saja hal yang mengganggu di saat aku sudah berada di ambang gerbang menuju mimpi? Ingin rasanya ponsil itu aku banting saja jauh-jauh. 

Baiklah, berbekal seperempat nyawa yang masih tersisa, aku membuka  mata.

Rupanya itu notifikasi WhatsApps darimu. Segera kubuka! Sebuah video singkat berdurasi, kurang lebih, lima menit yang berisi video ucapan ‘selamat ulang tahun’ darimu yang dibarengi dengan latar foto-fotoku tempo dulu serta ukiran kalimat-kalimat indah yang berjalan secara vertikal.

Kamu tahu? Jelas ada campur tangan malaikat atas turunnya kamu ke muka bumi ini.

24 tahu yang lalu, di tengah manusia-manusia yang sekarang kamu sebut keluarga

Jelas pula ada campur tangan semesta atas hati dan watakmu yang baik.

Jelas ada doa murni orang tuamu atas terciptanya namamu yang berarti petunjuk kebahagiaan.

Aku mencintai segalamu, tampan dan burukmu, sehat dan sakitmu.

Tidak ada umur yang sia-sia, memang. 

Tetapi kedepannya, buatlah tak ada menit yang hilang begitu saja.

Cita-citamu juga masih tinggi, bukan?

Tak ada bismillah-ku yang tak diikuti namamu.

Tak ada amin-ku yang tak didahului doa baik untukmu.

Selamat ulang tahun wahai calon imamku.

Kamu harus sehat terus, semangat terus, dan berkah selalu.

Lihatlah! Kamu selalu berhasil merencanakan prosesi dengan sempurna dan terencana. Caramu mengagumkan momentum membuatku terus percaya bahwa kamu selalu mampu menghidupkan 14 Februariku dengan sesuatu yang tak pernah kuduga.

Meski sederhana, namun caramu menyampaikannya begitu istimewa dan membekas selamanya. Meski sedikit terlambat dari waktu sepakat atau tanpa tiupan lilin yang harus tepat pada hitungan 00.00, namun lima menitmu sudah mampu mengganti lima jamku yang sempat terbuang.

Selamat ulang tahu aku. Terimakasih Tuhan.