Kisah novel ini diawali ketika Major, babi tua yang bijaksana, merasa gelisah dengan mimpi yang dialaminya. Major bermimpi tentang revolusi yang perlu dilakukan para binatang penghuni Peternakan Manor. Menurut Major, berdasarkan mimpinya, para binatang harus berani melawan, dan lepas dari belenggu eksploitasi yang dilakukan Jones, pemilik Peternakan Manor.

Ketika semua binatang berkumpul, Major memulai pidatonya:

“Tidakkah ini suatu penjelasan yang terang benderang, Kamerad, bahwa semua kejahatan dalam hidup kita muncul dari tirani Manusia? Cukup dengan menyingkirkan Manusia, dan hasil kerja kita akan menjadi milik kita.” (hlm. 7)

Ibarat seorang orator ulung, Major berhasil memantik api revolusi di benak para binatang--babi, unggas, kuda, kucing, anjing dan burung--yang tinggal di Peternakan Manor--nama Peternakan Manor diubah menjadi Peternakan Binatang pasca diusirnya Jones.

Melalui novel ini Orwell ingin menyampaikan kritiknya terhadap perilaku para tiran melalui perilaku para binatang, dan novel ini merupakan salah satu karya yang membesarkan namanya –selain 1984. Alegori politik yang dibungkus dalam bentuk fabel, menjadikan karya satir ini terbilang unik.

Dengan mengambil binatang sebagai tokoh utamanya, Orwell ingin menyampaikan bahwa perilaku para tiran tidak jauh berbeda dengan perilaku binatang. Sifat rakus, pelit, manipulator, dan licik, menjadi perilaku babi yang bisa disejajarkan dengan perilaku para tiran. Nama salah satu tokohnya, Napoleon, salah satu bentuk sindiran pedas Orwell terhadap salah satu tiran paling kejam di dunia: Napoleon Bonaparte.

Selain dari segi pemilihan tokoh, Orwell juga membangun kritik pedasnya melalui alur cerita. Kisah kehidupan para hewan pasca terjadinya “kudeta” terhadap Jones, menjadi representasi tindak-tanduk manusia ketika berebut kekuasaan; ada intrik politik yang bermain di dalamnya. Babi Napoleon yang awalnya menjadi emansipatoris--setelah mendengar mimpi Major--lupa dengan tujuan awalnya setelah mendapatkan kekuasaan. Perilakunya terhadap para penghuni Peternakan Binatang tidak jauh lebih baik ketimbang perilaku Jones.

Perbudakan yang awalnya dijanjikan akan segera hilang, justru semakin mencekik para binatang. Meminjam istilah Paulo Freire (1921-1997), tokoh pendidikan kritis asal Brasil, dalam bukunya Pendidikan Kaum Tertindas, Babi Napoleon dan para babi lainya telah mereduplikasi ideologi Jones, penindasnya. Babi Napoleon meniru tindakan eksploitasi Jones, bahkan lebih kejam: ayam betina diperintah agar bertelur lebih banyak, kuda dipaksa menggunakan tenaganya secara berlebihan, dan tindakan kejam lainya.

Kritik pedas lainya, dan yang paling kentara, adalah kritik Orwell terhadap Marxisme. Major, seorang babi yang bijaksana, bisa diidentikan sebagai propagandis ideologi Marxis yang menyebarkan utopia bahwa para binatang, kelak, bisa hidup setara. Sementara pengikutnya hanya menjadi massa yang mengamini mimpi siang bolong tersebut, tanpa mengajukan pertanyaan kritis (hlm. 6-7).

Selain itu, kepemimpinan Babi Napoleon beserta para babi lainya, bisa diidentikan seperti petinggi partai Komunis. Dalam Ideologi Marxis ada suatu tujuan (impian?) bahwa kelak masyarakat akan menuju masyarkat sosialis/komunis yang egaliter, dan sistem kapitalis akan mati dengan sendirinya. Sebelum masyarakat itu bisa terwujud ada tahapan-tahapan bentuk masyarakat yang perlu dilalui: (1.) Komunis Primitif (2.) Perbudakan (3.) Kolonialisme (4.) Kapitalisme (5.) Sosialisme/Komunisme (Wicaksono, 2013).

Kondisi para penghuni Peternakan Binatang, jika dilihat dari analisis Marxisme, sudah berada pada tahap transisi menuju masyarakat Komunis, setelah kalahnya Jones yang bisa diidentikan sebagi wujud Kapitalis.

Dalam tahap transisi menuju masyarakat Komunis, diperlukan kediktatoran proletar untuk memuluskan jalan menuju Masyarakat Komunis , dan Kediktatoran Proletar itu diisi oleh para elit partai buruh. Tujuan dibentuknya kediktatoran ini, selain memuluskan tahap transisi, juga untuk merumuskan dan mensosialisasikan langkah apa yang harus ditempuh selanjutnya. Dalam novel ini, mungkin, para babi dan anjing bisa menjadi representasi para perumus kebijakan itu

Untuk memuluskan rencana pembentukan penghuni Peternakan Binatang yang egaliter, Babi Napoleon merumuskan aturan (alat propaganda) yang tertuang dalam TUJUH PERINTAH: (1) Apa pun yang berjalan dengan adalah musuh (2) Apa pun yang berjalan dengan empat kaki dan bersayap adalah teman (3) Tak Seekor binatang pun boleh mengenakan pakaian (4) Tak seekor binatang pun boleh tidur di ranjang (5) Tak seekor binatang pun yang boleh minum alkohol (6) Tak seekor binatang pun boleh membunuh binatang lain (7) Semua binatang setara (hlm. 24).

Aturan-aturan yang dibuat itu, kelak, justru disalahgunakan untuk membuat perut para babi semakin besar, dan menindas penghuni peternakan lainya. Perliku para  babi yang sudah bertindak koruptif mengingatkan saya terhadap gagalnya Uni Soviet di bawah kepemimpinan Stalin, dan kegagalan Mao menjalankan gerakan “Lompatan Budaya” di Cina.

Penggambaran karakter yang kuat pada setiap tokohnya juga turut mempertajam kritik Orwell; para babi yang digambarkan sebagai manipulator licik; kuda –yang dalam kehidupan nyata memiliki fisik yang kuat– digambarkan sebagai hewan yang patuh, dan hanya mengandalkan otot; biri-biri yang bisa digambarkan sebagai masa pasif yang hanya “mengembik”; dan gerombolan anjing yang bisa diidentikan dengan alat represif penguasa.

Meskipun novel satir ini menjangkau kritik yang cukup luas –politik, pendidikan, dan berbagai bidang lainya-, tapi ada satu pernyataan dalam novel ini yang bisa menyatukan semua kritik itu: “Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengonsumsi, tapi tidak pernah menghasilkan apapun.” (hlm. 6)

Selain menyingkap potensi-potensi koruptif para penguasa, melalui novel ini, Orwell, ingin mengajak pembacanya agar selalu bersikap kritis; agar tidak menjadi menjadi kuda yang selalu patuh, dan hanya mengandalkan otot; atau biri-biri yang hanya bisa “mengembik” di balik ketiak penguasa.

Penulis: George Orwell

Penerjemah: Prof. Bakdi Soemanto

Penerbit: Bentang

Cetakan: Pertama, Oktober 2016

ISBN: 978-602-291-282-8

Tebal: 142 Halaman