Sekelas gubernur seharusnya bisa membedakan antara “kritik” dan “rundung” alias bully. Apalagi orang ini mahir dalam tata kata. Mestinya orang ini bisa memahami kosakata alias vocabulary Indonesia, khususnya tentang dua kata ini.

Menurut KBBI, kritik adalah kata benda, yang berarti kecaman atau tanggapan, atau kupasan; kadang-kadang disertai dengan uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya. 

Sedangkan bully alias perundungan adalah proses, cara, perbuatan merundung yang berarti mengganggu, mengusik terus-menerus, menyusahkan, menyakiti orang lain, baik secara fisik maupun psikis dalam bentuk kekerasan verbal, sosial, atau fisik yang berulangkali dan kronis (dari waktu ke waktu), seperti memanggil nama orang dengan julukan yang tidak disukai, memukul, mendorong, menyebarkan rumor, mengancam atau merongrong.

Kedua hal ini tentu berbeda secara etimologi dan esensi. Secara etimologi, sudah dijelaskan dari KBBI. Jadi dalam hal ini, izinkan saya untuk mengajarkan Bang Karni Ilyas sebagai “Bos” ILC yang memberikan judul salah didik dan mengajari Gubernur Anies untuk membedakan antara “gagasan” dan “kerja”.

Untuk Bang Karni, saya melihat bahwa judul ILC itu terlalu tendensius dan memberikan nuansa bahwa Anies selama ini dirundung atau di-bully. Saya khawatir jika memang polemik ini dipercaya oleh publik, publik akan merasa iba dengan Anies, dan menganggap Anies benar-benar dibully.

Padahal semuanya hanyalah kritik. Saya bisa jamin itu. Beberapa kritikan saya kepada Anies terkadang sangat keras. Tapi kalau kritikan saya dianggap bully-an oleh Anies dan Bang Karni, saya keberatan sekali.

Seluruhnya murni kritik. Melihat dari apa yang menjadi isi pemberitaan selama ini, saya melihat bahwa Anies ini tidak dibully. Anies ini dikritik dengan sangat keras. Kerasnya kritik kepada Anies ini sebenarnya berbanding lurus dengan kinerjanya yang memang masih jeblok.

Seharusnya Karni Ilyas sebagai orang penting yang ada di direksi acara Indonesian Lawyers Club alias ILC bisa memberikan pertimbangan judul yang lebih baik. Masa judulnya “Anies di Pusaran Bully”? Sungguh penggiringan opini yang tidak jelas. TVOne memang dikenal beda.

Puncak perbedaan TVOne ada di tahun 2014 ketika di sana divideokan acara sujud syukur Prabowo dengan Hatta Radjasa secara live. Benar-benar berbeda. Kemudian selama 2014-2019, ILC sering membawakan acara dengan judul-judul yang aneh.

Mereka seolah menjadi duri dalam daging media yang seharusnya independen menjadi begitu berpihak. Saya agak khawatir, jika polemik ini terus ada, Indonesia bisa ada dalam masa-masa kelam media dan kebebasan pers.

Kebebasan pers yang dulunya diikat oleh rezim Orde Baru sekarang malah sembarangan dipergunakan sebagai alat kekuasaan memberitakan hal-hal yang tidak sehat. Seharusnya Karni Ilyas bikin judul yang lebih baik, yakni “Anies di Pusaran Kritik”.

Kritik sangat baik jika diimbangi dengan solusi. Akan tetapi, kritik tanpa solusi pun juga masih dianggap sebagai sesuatu yang baik. Kritikan kepada Anies adalah kritikan yang memiliki solusi. Saya mengkritik kebijakan Formula E yang menggelontorkan 350 miliar, senilai Simpang Susun Semanggi dengan solusi yang jelas. Solusinya apa?

Solusinya ya pakai 350 miliar itu untuk hal yang lebih baik. Bahkan hal yang lebih baik bisa saya jabarkan juga. Kalau bicara olahraga, silakan alokasikan uang tersebut untuk membangun Stadion Persija yang dikoar-koarkan. Bagus, kan?

Kenapa tidak pakai uang 350 miliar itu untuk sesuatu yang bermanfaat jangka panjang? Bukankah Bang Anies ini dulu suka kritik Asian Games yang disebut-sebut buang duit banyak? Kenapa sekarang malah buang 350 miliar untuk Formula E, yang kabarnya itu baru uang mukanya saja?

Saya khawatir, ada agenda yang memang sengaja dilakukan oleh ILC, untuk mendiskreditkan warga Indonesia yang mengkritik Anies. Pengritik Anies itu adalah warga Indonesia yang sah dan kebanyakan warga Jakarta yang merasakan tidak adanya hasil kerja Anies. 

Saya khawatir, jika acara ini dilakukan untuk menutupi kelemahan-kelemahan Anies dengan cara memberikan penggiringan opini bahwa Anies ini tidak dikritik, melainkan dibully. Lucu dong kalau kritik disamakan dengan bully, Bang Karni?

Anies pun seperti menyambut umpan lambung dan gayung bersambut dari judul misleading ILC. Dia malah menempatkan posisi sebagai The Good Guy.

Dia di acara tersebut mengatakan dengan nada heroik, seolah dia akan membalas setiap perundungan alias bully itu dengan hasil kerja. Dari sini sepertinya Anies harus diajari mengenai perbedaan antara “kerja” dan “gagasan”. Selama ini rakyat Jakarta hanya melihat “gagasan-gagasan”, yang cenderung tidak realistis, ketimbang hasil kerja.

Ada hasil kerja bambu pun jadi sampah. Benar-benar mengherankan. Wartawan senior kok tidak bisa bedakan antara kritik dan bully, dan gubernur tata kata kok tidak bisa bedakan antara gagasan dan kerja?

Semoga saja kita tidak terjebak dalam permainan penggiringan opini semacam ini. Sekian dan terima ga… eh kasih.