2 tahun lalu · 5130 view · 5 menit baca · Politik man_wet.jpg
Foto: pixabay.com

Anies Ngojek Blusukan Tanpa Inovasi

Mana ujan, ga ada ojek, becek.

Anda tentu masih ingat kata-kata Cinta Laura yang populer ini. Kenapa kalimat itu sangat epic pada tahun 2008? Karena kalimat tersebut terasa ganjil. Kata-kata ini sangat khas menggambarkan kehidupan rakyat jelata. Tetapi, diucapkan dengan logat Bahasa Inggris oleh selebriti bule seperti Cinta Laura. Tentu, Cinta bukan seperti masyarakat umum. Saat hujan, Cinta tidak harus susah payah mencari ojek untuk menghadapi lahan becek.

Keganjilan yang sama terlihat dari safari politik yang dilakukan oleh Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Pada beberapa pemberitaan, Anies-Uno tampak meniru gaya Jokowi untuk blusukan, tetapi dengan naik ojek ke Kampung Magesen, Kelurahan Manggarai, Tebet, Jakarta Selatan, Minggu (9/10/2016) siang. Ojeknya pun yang sudah kekinian, yakni yang berbasis online atau Go-Jek.

Menariknya, beberapa media menyebut bahwa masih banyak warga di kampung yang tidak mengenal Anies-Uno. Dua pasangan ini disebut-sebut hanya dikenal di kelas menengah ke atas. Padahal di area perkampungan padat voters itulah pertarungan pendulangan suara banyak terjadi.

Yang ganjil dari peristiwa Anies-Uno ngojek ke kampung ini adalah mereka datang tanpa seragam, lalu masuk ke gang-gang. Kemudian, mereka berorasi program, bersalaman mohon restu dengan warga, dan berfoto bersama.

Ini sangat berbeda dengan gaya blusukan ala Jokowi-Ahok pada pemilihan Gubernur tahun 2012 yang lalu. Jokowi-Ahok sangat strategis dalam melakukan blusukan. Ada tiga hal yang menjadi keunggulan Jokowi-Ahok dalam melakukan blusukan ke kampung dan sayangnya tidak dilakukan oleh Anies-Uno.

Pertama, Jokowi-Ahok waktu itu datang dengan branding yang sangat kuat. Dimulai dari seragam kotak-kotak, Jokowi-Ahok yang notabene bukan warga Jakarta dapat menarik perhatian dengan inovasi visual. Tidak seperti pejabat biasanya, Jokowi-Ahok tampil muda, merakyat, dan fresh dengan ide baru. Secara simbolik, pesan itu ditunjukkan dengan seragam kotak-kotak.

Jokowi-Ahok juga berkomitmen tidak menggunakan baliho iklan yang besar-besar seperti politikus kebanyakan. Ini menunjukkan komitmen mereka untuk menghormati ruang publik agar tidak dijajah iklan. Sangat kontras dengan petahana waktu itu, Fauzi Bowo. Ia terlihat tua, elit, pasang baliho dimana-mana, kurang inovatif, dan tampak old school.

Sedangkan Anies-Uno hingga kini belum memiliki inovasi secara visual yang mendobrak. Tidak hanya masalah seragam yang tidak kompak (Anies berkemeja putih, sementara Sandi kemeja warna), mereka tampak tidak memiliki konsep kampanye yang baru untuk menarik perhatian warga. Kalau toh mereka berusaha naik ojek, Jokowi-Ahok sudah duluan naik bemo, ojek, bis Kopaja, dan Busway.

Apa inovasi Anies-Uno? Lebih parahnya, timses Anies-Uno masih menggunakan baliho-baliho ala politikus yang ditempel di ruang publik di kampung. Entah itu ruang legal atau tidak. Ini adalah bentuk kampanye yang masih old school, tidak ada inovasi atau paling tidak, ada komitmen kebaharuan tentang ruang publik seperti Jokowi-Ahok dulu.  

Kedua, Jokowi sendiri tampak luwes masuk ke rumah-rumah warga. Ia menyambangi rumah mereka. Tidak hanya nongkrong di panggung yang disediakan oleh panitia. Jokowi melakukan inovasi dengan jemput bola. Ia menyentuh elemen masyarakat dengan duduk di rumah warga dan ngobrol seperti teman sendiri. Apalagi, Jokowi memiliki wajah seperti the man from the block, alias berwajah sangat merakyat. Mungkin malah sedikit ndeso.

Tapi, justru ini yang memikat warga kampung karena mereka melihat Jokowi ini seperti bagian dari mereka. Pesona lokalitas Jokowi sebagai insider begitu terasa jika Anda kembali menengok kampanye Jokowi masa itu di video-video YouTube.

Itu yang banyak menyentuh hati masyarakat dan menjadikan Jokowi sebagai media darling. Jokowi mampu menunjukkan pesonanya yang membaur dekat dengan warga kampung, bukan seperti pejabat yang sekedar menengok untuk pencitraan.

Ini sangat kontras dengan Anies yang berwajah begawan, serta Sandi yang berwajah nyaris bak selebriti berkulit mulus tanpa cela. Anies memang memiliki pesona untuk kelas menengah berpendidikan. Itu sebabnya, waktu Jokowi berkampanye sebagai Presiden tahun 2014, Anies-lah yang mendongkrak performa Jokowi yang kurang meyakinkan dan ndeso di mata calon pemilih kelas menengah berpendidikan.

Tetapi kini, Anies dan Uno harus memperkenalkan diri di kampung-kampung. Sayangnya, secara fisik dan visual mereka tampak seperti selebriti. Ini tidak strategis sebab mereka akan tetap dianggap sebagai the outsider atau pendatang. Warga hanya berfoto bersama, tetapi kedatangan mereka tidak benar-benar berkesan karena tidak menyentuh hati masyarakat akar rumput. Masalahnya, ini bukan sekadar perkara untuk foto, tetapi to vote!

Mari kita tengok dengan strategi blusukan Ahok pada masa sekarang. Ahok pun tidak memiliki pesona merakyat seperti Jokowi. Ia harus bekerja keras agar pesonanya bisa berkesan di kalangan masyarakat kampung. Jelas, karena Ahok adalah keturunan Tionghoa, berbadan tinggi, dan berkulit putih. Tetapi, Ahok dengan cerdik memanfaatkan kelemahannya ini dengan momentum pernikahan kampung.

Secara situasional dan kultural, saat tuan rumah mengadakan pernikahan di kampung dan bisa menghadirkan tamu istimewa, maka itu akan menjadi hal yang membanggakan. Dengan pesona Ahok dan posisinya yang tinggi sebagai Gubernur DKI Jakarta, ini membawa magnet dan kesan khusus bagi tamu undangan pernikahan.

Ahok masuk sebagai tamu kehormatan yang pas untuk menarik perhatian warga dan meninggalkan kesan melalui word of mouth atau diekspos oleh media.

Ketiga dan yang paling penting, Jokowi-Ahok pada masa itu membawa sebuah festival gagasan yang nyata dengan menenteng Kartu Jakarta Pintar dan Kartu Jakarta Sehat ke kampung manapun. Mereka tidak sekedar membawa konsep.

Mereka tidak sekadar menyampaikan teori mengenai keadilan sosial. Tetapi, mereka membawa hal yang nyata dan mudah dipahami, yakni KJP dan KJS. Seperti salesmen, Jokowi dan Ahok membawa produk nyata yang sudah bisa dilihat wujudnya, meski service yang ditawarkan masih di ranah ide.

Tentu ini sebuah inovasi. Gagasan yang strategis, mudah diingat, dan efektif. Jokowi-Ahok tidak hanya minta restu dan berorasi, tetapi menjadi solusi. Paling tidak, jika warga kampung tidak suka orangnya, mereka tetap ingin mendapatkan KJP dan KJS sehingga memilih Jokowi-Ahok. Hanya Jokowi-Ahok saja yang waktu itu membawa kartu sakti ini. Sementara, tidak ada satu pun kandidat lain yang repot-repot mengantongi produk nyata.

Bagaimana dengan Anies-Uno? Sayangnya, mereka tidak membawa sangu apa-apa untuk warga. Inovasi yang nyata seperti Jokowi-Ahok pada masa itu tidak ditampilkan. Anies-Uno, seperti yang dicatat oleh banyak media, hanya menyampaikan orasi mengenai empat program yakni pendidikan, kesehatan, pekerjaan dan terjangkaunya harga bahan pokok. Tetapi apa bentuknya, apa brand-nya, dan apa pesan sederhana agar mudah ditangkap? Sayangnya, tidak ada.

Lebih parah, pada beberapa media disebut-sebut warga kampung meminta agar KJP jangan dihapus. Ini sesungguhnya menjadi suatu tamparan untuk Timses Anies-Uno, yang masuk ke area becek kekuasan Ahok. Warga kampung ingat dan bahkan mengingatkan betapa bagusnya program KJP itu. Tentu dengan diplomatis, Anies-Uno menjawab akan meneruskan. Tetapi, jika hanya sekedar meneruskan tanpa inovasi, kenapa harus pilih dua kandidat ini?

Di sisi lain, petahana Ahok-Djarot memiliki keuntungan dengan wujud nyata pembangunan infrastruktur di wilayah tersebut. Misalnya, adanya Taman Tebet yang dikelola oleh Dinas Pertamanan DKI, kebersihan sungai Ciliwung mulai dari pintu air Manggarai, program KJP, hingga KJS. Inilah lahan becek Anies-Uno yang harus digarap lebih keras lagi, karena jelas sudah dibuktikan oleh Gubernur dan Wakil Gubernur petahana.

Jika memang pemilda DKI adalah festival gagasan, Jokowi-Ahok tahun 2012 sudah lebih dahulu membuktikannya. Kini, tinggal Anies-Uno yang harus lebih strategis dalam blusukan sehingga tidak terkesan ganjil seperti Cinta Laura mengucapkan: “Ada Anies, ada ojek, becek.” Jangan sampai mereka seperti pendatang yang safari politik dengan kata-kata tanpa bentuk nyata dan minim inovasi.

Bagaimana jika Anies-Uno tetap mempertahankan cara ini dan mereka menang di lingkungan kampung? Maka, mereka perlu berterima kasih pada seruan-seruan di masjid kampung yang mengancam warga ke neraka jika memilih yang tidak seiman. Lalu, festival gagasan, hanya sekedar omong kosong belaka di negeri ini.