Penulis
2 minggu lalu · 2948 view · 3 menit baca · Politik 53560_36640.jpg
ngompol.co.id

Anies Mundur

Petisi dan suara nyaring mendesak Anies Baswedan dicopot muncul ke permukaan. Mereka ingin Anies yang dicopot karena dianggap gagal memimpin Jakarta. Mereka menutup mata atas prestasi Anies yang diraih bahkan tanpa seorang wakil. 

Mereka emosional karena Anies malah santun menjawab semua suara-suara dari mereka yang gagal keluar dari delusi bahwa Ahok bukan lagi Gubernur DKI. Dan kompetisi pilkada juga telah selesai, maklum saja dendam memang belum tuntas.

Baiklah, Anies harus dicopot atau mundur; lalu siapa gantinya? Mau pilkada lagi? Bukankah Anies sudah melewati dua kali pilkada DKI Jakarta? Rakyat Jakarta sudah diberi dua kali kesempatan memilih gubernurnya melalui tahapan pilkada putaran pertama dan dua. 

Petisi tersebut mengatakan Anies gagal mengatasi banjir, sampah, pemborosan, dan segudang alasan lainnya. Sayangnya mereka lupa bahwa beragam penghargaan telah diraih Anies.

DKI Jakarta masuk dalam peringkat ke-47 Smart City Government pada 18 Januari 2019. Peringkat DKI setingkat dengan kota Paris di posisi ke-46. Dari 10 indikator penilaian, DKI Jakarta meraih 3 nilai tertinggi pada indikator, yaitu visi Pemprov DKI Jakarta, Kepemimpinan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Anies Baswedan sebagai Kepala Pemerintahan, dan Alokasi Anggaran/APBD Provinsi DKI Jakarta.

Tak hanya itu, DKI juga menerima penghargaan sebagai PTSP Provinsi terbaik se-Indonesia dari Kemenpan RB dan PTSP dengan tingkat inovasi terbaik dari Lembaga Administrasi Negara (LAN). Pada 10 Desember 2018, DKI Jakarta menerima penghargaan Reksa Bahasa dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). 


Sementara dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Pemprov DKI menerima penghargaan terkait laporan hasil kekayaan pejabat negara (LHKPN), gratifikasi, serta aplikasi pelayanan publik.

Penghargaan-penghargaan tersebut menggambarkan bahwa Anies hebat dalam kepemimpinan dan visi, bahkan literasi. Jadi aneh bahkan cenderung dengki mereka-mereka yang menginginkan Anies mundur. 

Mereka harusnya bersyukur memiliki Gubernur yang gak pamer marah-marah namun kinerja apik. Mereka harusnya bersyukur memiliki Gubernur yang tak banyak diekspose media namun terus bekerja. Bahkan Anies baru-baru ini memberangkatkan rakyatnya mudik secara gratis. 

Lalu bagaimana Anies menjawab semua tudingan termasuk petisi copot Anies? Ia menegaskan bahwa pejabat publik di ranah publik harus siap dicaci bukan hanya dipuji. Ia hormati pandangan itu, Anies sadar tidak mungkin mampu menyenangkan semua orang, apalagi mereka yang masih menyimpan dendam. Bagi mereka, Ahok lebih baik dari Anies, tentu saja dengan dalil fanatisme yang melekat dalam dada mereka.

Semua yang dibuat Anies salah, misalnya soal penanganan banjir. Bahkan ketika Anies mendatangi keluarga korban 21-22 Mei juga disalahkan. Lawan-lawan politik Anies mulai gerah dengan prestasinya yang sudah melampaui Ahok maupun Jokowi selama memimpin Jakarta. Barangkali Ahok lebih baik ketimbang Jokowi dalam memimpin Jakarta, namun Ahok tidak lebih baik dari Anies.

Tindakan Anies yang mengusik sumber dana para mafia dengan menutup diskotik-diskotik yang melanggar aturan menambah daftar panjang musuh dirinya. Anies yang bersikeras ingin menjual saham PT Delta Djakarta Tbk juga menjadikan dirinya sebagai musuh penikmat minuman berakohol maupun distributornya. 

Akibatnya, muncul petisi yang mengada-ada, petisi kekanakan, petisi yang tidak paham mekanisme demokrasi. Syukur bahwa Anies paham pembuat petisi tersebut.

Dan media-media tak banyak yang ingin melakukan blunder. Mereka, media cetak maupun online, punya data yang menunjukkan Anies memiliki prestasi selama memimpin Jakarta. 

Hari ini Jakarta sudah selevel Paris, setidaknya dari 140 Kota di dunia Jakarta berada di peringkat ke-47 Smart City Government. Penghargaan dari Eden Strategy Institute dilakukan melalui riset dengan menyaring 140 kontestan. Mereka menilai kota-kota tersebut berdasarkan komitmen kotauntuk membangun Smart City dengan 10 indikator yang digunakan untuk menentukan peringkat Smart City Government.


Semoga prestasi-prestasi Anies diakui lawan-lawan politiknya. Biarkan Anies bekerja dengan ikhlas dan tuntas. Siapa pun pembuat petisi dan sponsornya, Anies gak bakal laporkan ke polisi. Anies sudah siap berdemokrasi, ia tak antikritik karena kritik merupakan vitamin bagi pejabat publik. Anies sudah biasa dihujat, ia sudah paham itu sebelum masuh ranah politik. 

Anies tak akan mengadu pada anaknya karena di-bully lawan-lawan politik maupun pembencinya. Anies juga gak bakal curhat di media sosial, gak bakal main gebuk, dan setiap pertanyaan dari wartawan maupun warga akan lugas dijawab tanpa menyalahkan bawahan. Anies juga gak bakal menyalahkan Ahok maupun Djarot. Anies akan terus bekerja dengan ikhlas dan tuntas. Baginya, petisi merupakan bagian dari dinamika demokrasi.

Sesungguhnya para pembencinya tak perlu membuat petisi copot Anies. Sebabnya, selain sudah memenuhi janji kampanye, Anies malah membuat Jakarta lebih baik dari sebelumnya. 

Dan jika hasrat agar Anies dicopot begitu besar, petisi itu juga gak diperlukan karena Anies akan mundur bila gagal memimpin Jakarta. Anies mundur bukan mustahil, ia siap mundur kapan saja bila memang gagal memimpin. Tapi faktanya, penghargaan terhadap Jakarta malah makin bertambah.

Bagi anda yang tak senang dengan Anies dan berharap Anies segera dicopot, bersabarlah. Anies mundur tak lama lagi. Dalam hitungan saya, sekitar 3 tahun 5 bulan lagi. Anies mundur pada tahun 2022, jadi tak perlu panik. Mari bantu Anies membangun Jakarta lebih baik lagi. Kerja ikhlas dan tuntas; maju kotanya bahagia warganya.

Artikel Terkait