Anies Baswedan telah menggadaikan idealisme dengan mengejar kekuasaan. Ia mendatangi dan merangkul ormas radikal yang acap kali mencabik-cabik persatuan di tengah kebhinnekaan. Ia telah merusak tenun kebangsaan yang sebelumnya kerap ia suarakan. Sungguh perilaku buruk dan tak sedikit pun mencerminkan sebagai sosok pemimpin.

Terkuak

Sosok Anies yang terlihat pluralis, moderat dan berwawasan luas dan menjadi harapan masyarakat sebagai penjaga gawang kebhinekaan, kini mulai terkuak sifat aslinya. Ia rela mengorbankan semangat kebhinekaannya demi kekuasaan dalam Pilkada. Apalagi konsepnya “Tenun Kebangsaan” yang mencerminkan kemajemukan, telah ia coreng sendiri demi ambisi kekuasaan.

Sosoknya kian hancur lebur setelah ia menggadaikan idealismenya demi ambisi kekuasaan politik sesaat. Penampilan yang bagus dan senyum yang dimilikinya memang menjadi nilai tambah untuk membangun citra dirinya. Apalagi ia pandai beretorika dan memotivasi orang.

Sayangnya, tak sedikit pun prestasi diraih selama menjadi pejabat publik, termasuk saat menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Ia tidak mampu mewujudkan kata-kata indahnya menjadi kenyataan. Ia tak mampu mengejewantahkan konsep-konsep kebhinekaan dalam perpolitikan nasional. Artinya, Tenun Kebangsaan, hanya jadi citra bagi dirinya.

Padahal seorang pemimpin harus selaras ucapan dengan tindakannya. Jika tidak, maka publik akan meninggalkannya karena pencitraannya yang kerap menghalalkan segala cara untuk kepentingan politik jangka pendek.  

Anies memang sosok yang terlihat santun, lemah lembut, kalem dan berwawasan luas, ditambah paras wajah dan pembawaanya yang mendukung. Namun kesantunan dan kehalusan kata-kata Anies menyimpan ambisi politik yang dibingkai dengan isu-isu SARA.

Merangkul Ormas Radikal

Apalagi semenjak ia merangkul Rizieq Shihab sebagai partner dalam kontestasi pilkada, integritasnya sebagai seorang pemimpin kini tak bisa lagi dipercaya. Ia juga merangkul ormas fundamentalis-radikalis seperti Front Pembela Islam (FPI) dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Padahal ormas ini kerap melakukan tindakan kriminal dan kekerasan di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang damai.

Padahal berbagai pihak telah banyak yang mendesak agar pemerintah membubarkan FPI. Bahkan Nahdlatul Ulama (NU) telah menyatakan sikap dukungan agar pemerintah segera membubarkan FPI. Hal ini karena setiap tindakan kekerasan yang dilakukannya tidak saja melanggar prinsip hukum Indonesia, tetapi juga merupakan bentuk pelanggaran terhadap agama.

Mungkin Anies lupa bahwa keberadaan FPI di tanah air ini telah melahirkan kekacauan di tengah kerukunan masyarakat. Betapa tidak, FPI kerap memimpin aksi tindakan kekerasan. Aksi yang pernah dilakukan seperti penyerangan dan perusakan terhadap rumah ibadah (2005), perusakan kafe (2004), penyerangan terhadap aliran kepercayaan (2007), membakar rumah makan dan restoran (2011), dan masih banyak lagi tindakan kekerasan yang dipimpinnya.

Masyarakat tidak akan pernah memilih pemimpin yang pro-kekerasan. Masyarakat juga pasti tidak akan memilih pemimpin yang menjadikan ormas radikal sebagai partner dalam afiliasi politiknya. Hal itu karena publik tidak mau terus menerus diresahkan oleh aksi-aksi anarkisnya.

Anies seharusnya sadar akan hal ini. Jangan sekali-kali menggunakan ormas radikal untuk menopang kekuatan politiknya, karena itu tidak saja berbahaya namun juga menjadi ancaman bagi agama itu sendiri.