Colosseum adalah sebuah pusat hiburan di Jakarta yang memiliki program-program entertainment yang begitu wah, yahud, dan terus-menerus membuat kita tegang. Seorang rekan cerita Colosseum adalah sebuah tempat yang begitu breathtaking dan memberikan sensasi seperti di Alexis.

Kelab malam ini berdiri di Jakarta dan memberikan greatest impression kepada kota yang berisi 10 juta lebih penduduk. Colosseum merupakan tempat hiburan yang berdiri di atas lebih dari 1000 meter persegi. Dengan tinggi langit-langit 16 meter, memberikan kesan yang sangat mantap.

Diskotek ini menjadi diskotek yang diberikan penghargaan oleh Anies Baswedan. Ia adalah gubernur yang disebut-sebut sebagai gubernur yang paling memperjuangkan hak-hak orang kecil. Tapi dengan memberikan penghargaan kepada kelab malam ini, membuat Anies seolah tidak lagi ada di pihak orang-orang kecil. Apa yang dikerjakan Anies di Jakarta adalah sebuah tindakan yang patut dipertanyakan konsistensinya.

Dulu, di awal-awal kampanye, ia mengancam Alexis untuk ditutup. Dan ia menggunakan Satpol PP perempuan menutup Alexis. Akhirnya Alexis mati dan tumbang. Tidak ada yang bisa membuka Alexis lagi. Dan apa yang terjadi? Para pendukungnya memuja-muja Anies sebagai gubernur anti-maksiat.

Namun sekarang, di mana suara para pendukungnya saat Anies, gubernur seiman itu, memberikan penghargaan kepada kelab malam yang sebelas-duabelas dengan Alexis? Mereka mendadak diam. Namun ada segelintir orang yang menganggap dan menuding Anies adalah gubernur maksiat.

Selama ini kita melihat bagaimana silat lidah yang dilakukan oleh Anies Baswedan kepada rakyat Jakarta. Ia menjalankan fungsinya bukan sebagai pemimpin DKI Jakarta, tapi sebagai penguasa dan lebih ke arah merusak tatanan yang sudah ada.

Sebenarnya dari awal saya tidak pernah setuju dengan penutupan Alexis. Apa yang dikerjakan oleh Anies saat itu adalah pencitraan murahan. Selama ini mata kita diarahkan kepada Anies yang merupakan pembela orang kecil dan pembela agama. Ia didukung oleh kaum 212 yang terus meneriakkan akan kesucian agama.

Dan setelah ia memberikan penghargaan kepada kelab malam Colosseum, semua mata mendadak tertutup dan tidak mau melihat kepada Anies. Saat ini kita tahu bahwa kondisi kota Jakarta adalah sangat miris.

Aneh sekali Alexis ditutup, tapi dua tahun kemudian, dulu tahu sekarang tempe, Colosseum malah diberikan penghargaan. Saya tidak tahu logika macam apa yang dijalankan oleh Anies, kecuali sedang menggalang dukungan.

Ada tanda tangan Anies Baswedan di bawah penghargaan Colosseum. Padahal kita tahu, tempat itu adalah kelab malam yang di dalamnya, tidak bisa kita tahu apa yang pernah terjadi. Selain Colosseum, Anies juga memberikan izin DWP alias Djakarta Warehouse Project.

Dalam pandangan penulis, penulis sebetulnya tidak mempermasalahkan adanya kelab malam atau acara-acara late night show yang dijalankan. Itu adalah bentuk hiburan kepada warga Jakarta. Warga ibu kota yang memiliki motto work hard, play harder.

Namun yang saya permasalahkan adalah konsistensi Anies yang berubah-ubah. Dia sekarang ini sudah mengkhianati rakyat yang mendukungnya. FPI yang selama ini meneriakkan kesucian dalam agama dan harus pemimpin seiman malah salah pilih pemimpin.

Saya malah memiliki kecurigaan bahwa Anies sedang panik saat ini. Ia sudah mulai kehilangan dukungannya. Kita tahu bahwa dukungan Anies itu sudah mulai pudar.

Nelayan merasa dikhianati dengan janji tolak reklamasi yang ternyata hanya bohong. Orang-orang kecil dikhianati dengan rumah DP Nol yang ternyata sangat mahal. Pejalan kaki dikhianati dengan pelebaran trotoar yang ternyata diperuntukkan kepada PKL. Pemotor dikhianati dengan kemacetan yang parah. Pemobil juga tidak bisa berjalan.

Banjir juga makin parah. Pohon ditebang. Si Anies ini tidak bisa ngapa-ngapain lagi. Jadi saya mencurigai bahwa orang ini malah sedang menggunakan strategi penggalangan dukungan dari tempat yang gelap, yakni kelab malam.

Ini kecurigaan saya saja, ya. Bisa saja salah, namun bisa benar. Saya menduga, orang ini sedang panik dan mencoba untuk mencari-cari dukungan dari berbagai tempat yang ia bisa tembuskan. Kita tahu bahwa Ahok menutup Kalijodo dengan sukses, Anies menutup Alexis dengan banyak tanda tanya.

Maka dengan demikian, kita bisa melihat bahwa sebetulnya Anies ini bukan gubernur maksiat. Tapi Anies ini adalah gubernur yang memanfaatkan kemaksiatan untuk menarik banyak pendukung.

Saya jadi teringat mengenai wacana penjualan saham minuman keras dari DKI. Ternyata itu hanya wacana yang digunakan untuk menenangkan para pendukungnya yang radikal. Dan apa yang terjadi? Penjualan saham tidak jadi.

Pemberian penghargaan dari Anies kepada Colosseum ini bisa dikatakan sebagai pencitraan dan upaya Anies menggalang dukungan. Jadi bisa kita simpulkan bahwa Anies ini adalah orang yang tidak konsisten. Untuk menyebutnya Gubernur Maksiat, rasanya tidak.

Saya serahkan saja kepada para pembaca, bagaimana pandangan Anda terhadap Anies Baswedan ini. Semua fakta sudah saya paparkan. Silakan opini lanjutan, para pembaca yang berikan.