Sembari melirik informasi korona, saya sedikit tersenyum menyaksikan fenomena politik Indonesia. Meski remang-remang, namun sejatinya nyata dan jelas terlihat. Selalu asyik melihat gerakan panik di dalam politik, apalagi dilakukan dengan pola itu-itu saja.

Seperti permainan sepak bola, sebuah tim dengan pelatih yang sama, meski menghadapi lawan berbeda gaya permainan, akan cenderung sama. Pada saat itu, biasanya lawan akan meraih keuntungan karena telah paham dengan permainan tim tersebut. Apalagi jika tim tersebut cukup dikenal.

Tim bertabur bintang dengan seabrek prestasi barangkali mampu mengatasi hal itu. Tentu saja dengan mengandalkan skill individu pemain. Namun bayangkan bila para bintang malah panik, melakukan blunder yang merugikan tim.

Masih ingat bagaimana final sepak bola Piala Dunia 2006? Semua menjagokan Prancis pada saat itu, dan memandang seperempat mata pada tim Italia. Kemenangan yang sudah di depan hidung akhirnya sirna. Italia sukses mengangkat trofi juara pada saat itu.

Jika kita ambil sedikit pelajaran dari perhelatan 4 tahunan itu, terutama final 2006, bahwa segala kemungkinan masih mungkin sebelum peluit panjang. Materazzi menjadi sosok utama dalam kemenangan Italia. Ia pencetak gol penyeimbang, dan kemudian sukses mengobok-obok emosional Zidane.

Ketika seorang panutan melakukan blunder, para pemain di lapangan kehilangan GPS permainan. Moral runtuh, emosional naik, dan pastinya memperburuk stamina para pemain.

Hari ini, saya dan barangkali Anda sedang menyaksikan pertandingan yang sedikit mirip. Tentu saja penilaian saya dapat sangat salah, seburuk-buruk kesalahan barangkali. Menyamakan taktik Anies menghadapi Prabowo dan Jokowi yang sudah 'seranjang', dengan taktik Italia.

Anies memilih bertahan sebagaimana Italia ketika dikepung pasukan Prancis. Hanya sesekali menyerang guna memecah konsentrasi lawan. Pada saat ini, sejatinya lebih lama lagi, pasca kembalinya Prabowo dalam pelukan Jokowi, Anies memang wajib memilih bertahan. 

Selain seorang diri mengelola Jakarta, Anies tak memiliki kendaraan politik. Bisa kapan saja digulingkan dari posisi saat ini, apalagi Wagub Jakarta merupakan kader Gerindra. Itulah mengapa Anies sering mengalah dalam titik tengkar dengan para menteri atau para utusan Mas Jokowi.

Dalam urusan penanganan korona hal itu tampak nyata, meski media massa yang dikontrol oligarki demokrasi memvonis Anies yang bersalah dan segudang argumen yang bukan hanya tak masuk akal namun akal-akalan saja.

Maklum saja, meski tanpa partai, Anies memiliki elektabilitas di atas semua kontestan Pilpres mendatang. Sedikit di bawah Prabowo yang memiliki partai. Artinya, jika survei capres tanpa melibatkan anggota parpol, Anies pasti juara.

Ini berbahaya, Anies harus disingkirkan secepat mungkin. Kita pun hendaknya tertawa atau minimal tersenyumlah. Perpolitikan tanah air masih dikuasai partai politik. Wajar bila Ahok kemudian menjadi anggota PDIP. Biar selamat karier, terbukti ia langsung dapat posisi enak tenan.

Dalam hitungan politik, Anies sudah tamat sejak Prabowo dipeluk Jokowi. Dan bertambah remuk ketika PKS gagal mendapat posisi wagub. Anies butuh keajaiban guna mengalahkan para 'raksasa' politik. Sialnya lagi, Demokrat sudah memiliki calon sendiri, padahal hanya mereka yang punya pengalaman mengalahkan penguasa.

Koalisi PDIP-Gerindra hanya dapat dikalahkan oleh Cikeas dan teman-teman. Sayangnya, beberapa kader Demokrat juga ikut menyerang Anies. Pupuslah harapan Anies untuk sementara ini. Situasi itu diperparah dengan lemahnya Anies secara finansial. Selesaikah Anies?

Sebagaimana sudah saya urai di atas, Anies sudah selesai secara hitungan matematis. Namun selalu mungkin secara politik, tentu saja ketika akumulasi hasrat berkuasa membutuhkan peran strategis jika Anies jadi presiden.

Kompromi politik akan selalu menyajikan tontonan yang menarik. Anies akan terus menaikkan elektabilitasnya. Syarat itu wajib dilakukan agar parpol tertarik pada Anies. Dan Anies mau tidak mau harus menjadi kader salah satu parpol.

Sejauh ini belum pernah ada presiden yang bukan bagian dari parpol. Entah Dewan Pembina, Penasihat, Ketua Umum, atau minimal petugas parpol. Kedua syarat itulah yang akan mengubah skenario tragis Anies. Jika tidak, Anies akan jadi santapan para raksasa. 

Lalu parpol mana yang ideal buat Anies? Demokrat barangkali yang pas untuk Anies selama ia ikut kata SBY. Bila ini terjadi, Demokrat mengusung Anies, maka PKS, Nasdem, PKB, PAN, dan PPP akan ikut bersama Demokrat.

Kisah selanjutnya kita bakal tahu, PDIP dan Gerindra kembali menjadi oposisi. Mereka belum pernah menang melawan Demokrat di Pilpres bahkan ketika Demokrat masih partai baru. Dengan pengalaman dua periode ditambah elektabilitas Anies, nasib Anies akan berubah.

Situasi hari ini di mana Anies seolah tanpa daya. Hanya mampu menyaksikan manuver para pendukung Prabowo dan Jokowi menyerangnya. Ibarat Italia menonton permainan timnas Prancis yang dipimpin Zinedine Zidane.

Timnas Italia hanya mengandalkan serangan balik maupun sepakan bola mati. Anies pun begitu, ia hanya mampu memaparkan beberapa fakta yang ketika diserang namun tidak viral. Tidak memengaruhi posisinya, tidak menaikkan elektabilitasnya.

Namun demikian, meski Materazzi yang jatuh akibat sundulan Zidane, justru timnas Italia-lah yang membawa pulang trofi Piala Dunia 2006. Mari kita saksikan drama kolosal politik kita.