Kita tentunya masih ingat situasi politik menjelang pemilihan presiden pada 2014 silam. Panas, tentu saja. Menegangkan, pastinya. Pertarungan merebut kursi RI-1 yang bisa disebut sebagai sajian demokratis yang paling menegangkan. 

Menegangkan karena pertarungan tersebut merupakan representasi dari kalangan militer (purnawirawan) versus masyarakat sipil. Prabowo Subianto yang mewakili militer melawan Joko Widodo yang merupakan wakil dari rakyat sipil.

Selain itu, pertarungan itu juga melibatkan beragam kampanye hitam dan kampanye negatif dari kubu Prabowo terhadap kubu Jokowi; kasus Obor Rakyat barangkali bisa mewakili jenis tersebut. 

Syukur alhamdulilah, bahwa tensi persaingan di masa-masa kampanye pemilihan presiden tersebut segera turun setelah Jokowi-JK dilantik.

Prabowo dianggap sebagai seorang negawarawan yang mampu menempatkan diri sebagai lawan politik yang baik bagi pemerintahan berjalan, terutama sebagai oposisi yang setia mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah yang dianggap tidak adil bagi bangsa Indonesia. 

Sosok Anies yang Manis di Pilpres 2014 

Ada satu hal yang menarik dari momentum pemilihan presiden 2014: hadirnya Anies Baswedan ketua tim pemenangan pasangan Jokowi-JK. Sudah pasti lawan politiknya Anies pada waktu itu, yang notabene pro Jokowi-JK, adalah Prabowo Subianto. 

Anies Baswedan dengan latar belakangnya sebagai akademisi yang cerdas dianggap tepat memjabati ketua tim pemenangan. Jokowi perlu bersyukur memiliki Anies Baswedan sebagai salah satu think tank beliau yang kokoh dan tangguh menahan serangan kubu sebelah, bahkan membungkam lawan politik Jokowi. 

Saya makin yakin untuk tidak memilih orang yang sudah menghabiskan uang enggak tahu berapa jumlahnya selama bertahun-tahun beriklan, untuk sebuah posisi, seakan-akan hidup itu hanya untuk jadi presiden. Sementara Jokowi menghabiskan waktu 15 tahun terakhir untuk bekerja mengabdi kepada masyarakat.

Demikian Anies Baswedan pada waktu itu. 

Satir Anies itu tentu saja dimaksudkan untuk menyindir Prabowo yang dianggapnya tak layak menjadi suksesor Susilo Bambang Yudhoyono sebagai presiden RI.

Bagi Anies, Prabowo bukanlah orang yang tepat untuk jabatan tersebut. Prabowo, menurutnya, tidak memiliki pengalaman sebagai pemimpin sipil seperti Jokowi yang sudah malang melintang dalam memimpin masyarakat sipil.

Dengan satir tersebut, Anies hendak mengatakan bahwa Prabowo tak lebih dari sekedar bintang iklan yang narsis. Tak lebih!

Selain itu, Anies Baswedan juga mengatakan bahwa Prabowo adalah representasi Orde Baru yang hendak menancapkan kakinya di negeri demokratis ini. 

"Kita tak inigin pendekatan lama dipakai memimpin negeri ini, kesempatan orang lama (Prabowo dan Orde Baru) sudah cukup. Biarkan generasi muda (Jokowi) membuat terobosan memajukan negeri", kata Anies. 

Anies menganggap Prabowo tidak lain daripada pengejawantahan Soeharto masa kini yang selalu menggunakan pendekatan militeristik dalam memimpin.

Dengan demikian, menurut Anies, Prabowo dan Soeharto sama saja dan tak layak dan pantas menjadi pemimpin bangsa karena akan membangkitkan trauma bangsa Indonesia akan keterpasungan kebebasannya selama Orde Baru berkuasa. 

Satir Anies Baswedan terhadap Prabowo yang paling menohok dan mencolok mata kita adalah tentang Prabowo sebagai trouble maker di saat dirinya menjabat sebagai Komandan Jenderal Kopassus. 

"Tugas kita adalah membantu orang baik agar negeri ini menjadi baik. Kalau kita membantu orang yang bermasalah, jangan-jangan kita akan terciprat dan terseret masalahnya", ungkap Anies. 

Prabowo dianggap sebagai pelanggar HAM berat masa lalu yang bertanggung jawab atas penculikan aktivis mahasiswa yang memberontak melawan Orde Baru. Posisi politik Anies, pada waktu itu, jelas tidak mengizinkan orang jahat yang tangannya berdarah atas kemanusiaan seperti Prabowo, menjadi pemimpin Republik.

Bagi Anies, tak ada tempat bagi pelanggar HAM berat untuk menjadi pemimpin Indonesia.

Saat itu, saya menganggap Anies adalah salah satu representasi intektual Indonesia yang kritis dan cerdas dengan posisi moral politik yang tegas dan jelas, hitam putih tak abu-abu, dan suara kebaruan yang lahir dari rahim reformasi.

Hari ini, bagi saya pribadi, Anies tak lain adalah pecundang kesucian intelektual yang ia dipegang teguh pada waktu itu demi menghamba pada pragmatisme politik kekuasaan. Anies rela mengangkangi prinsip-prinsip moral politik dalam demokrasi demi memenuhi hasrat berkuasanya. 

Keberpihakannya kepada golongan garis keras di Republik ini, kepada FPI terutama, membuat posisi moral politiknya tak lagi hitam putih, bukan pula minus malum, tapi abu-abu oportunis.

Anies kini bukan lagi seorang idealis, ia hanya sekedar seorang oportunis sejati yang bersembunyi di balik retorika indah penuh bualan. Anies, saya adalah satu orang dari banyak anak muda yang cukup menyesal dengan keputusan Anda! 

Amnesia Akut Prabowo?

Keputusan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, mengusung Anies Baswedan sebagai calon gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022, bagi banyak orang merupakan tindakan seorang negarawan sejati.

Hal itu mengingat Anies Baswedan merupakan sosok antagonis yang melawan Prabowo habis-habisan di pemilihan presiden silam. Namun, tak sedikit yang mencela keputusan politik Prabowo memilih Anies menjadi calon gubernur Ibu Kota. Saya salah satu di antara sedikit orang tersebut. 

Mengapa? Pertama, tak sedikit orang Indonesia gampang melupakan masa lalu kelam yang menimpa dirinya. Prabowo salah satunya; Anies tentu saja masuk dalam kategori ini.

Prabowo memilih lawan politiknya yang menghina dirinya habis-habisan di masa lalu; dan Anies, dengan sadar dan waras, menerima pinangan orang yang dulu dia cap sebagai penjahat kemanusiaan, yang dia anggap sebagai trouble maker.

Anies dan Prabowo sama saja, sama-sama gampang melupakan demi kepentingan politik mereka, tentunya. 

Kedua, mengapa Prabowo meminang Anies? Jawabannya sederhana saja, karena tak ada kader Gerindra yang mampu bersaing di Pilkada DKI Jakarta.

Sandiaga Uno tentunya bukan solusi yang tepat untuk persoalan-persoalan yang rumit di Jakarta. Itu makanya pecatan menteri ini dianggap pas untuk itu, tanpa peduli dirinya pernah mencap Prabowo sebagai penjahat HAM di masa lalu.

Tapi sayangnya, belakangan, setelah melihat dalam debat-debat yang sudah berlangsung, Anies belum mampu menjawab kebutuhan Jakarta. Ia masih nyaman berkanjang di dunia ide yang mengawang-awang tak menyentuh bumi. 

Ketiga, Prabowo lupa kalau ternyata Anies adalah pecatan menteri. Yang namanya pecatan pastinya orang yang bermasalah; tak mungkin orang yang berprestasi dipecat.

Prabowo lupa akan kata-kata Anies yang menyebut: "kalau kita membantu orang yang bermasalah, jangan-jangan kita akan terciprat dan terseret masalahnya." 

Prabowo tak peduli masalah apa yang sudah membuat Anies dipecat, dengan watak oportunisnya, ia menunjuk Anies sebagai calon gubernur. Kadang politik membuat lumpuh akal sehat, Prabowo sedang mengidapnya. 

Di Jakarta, saat ini, kita sedang menghadapi calon gubernur yang tak konsisten antara kata dan perbuatannya: Anies Baswedan. Kita sedang menghadapi sosok Anies yang menjilati ludahnya sendiri. 

Bagaimana mungkin orang yang tidak konsisten dengan dirinya sendiri, yang tidak komit dengan kata-katanya sendiri, mau membahagiakan warga Jakarta dengan janji-janjinya?

Saya sangsi Anies bakal menepati janji-janji manisnya selama masa kampanye ini ketika nanti menjadi gubernur. 

Saran saya untuk para pemilih: lihat rekam jejaknya, jangan dengar retorika yang indah, jangan lihat senyum yang manis. Retorika dan senyum gampang sekali dikhianati...