Memang sulit melihat bagaimana warga Jakarta yang sudah memilih Anies Baswedan diberikan sebuah berita dihancurkannya karya seni yang bernilai 550 juta rupiah itu. Rasanya warga Jakarta harus benar-benar melatih ketahanan dirinya dalam emosi mereka melihat pemimpinnya menghabiskan uang dan menghambur-hamburkan setengah miliar lebih itu di Jakarta.

Bayangkan, hanya dalam 11 bulan, Anies sudah menghancurkan instalasi bambu Getah Getih yang bikin hati ini bergetar karena emosi berkecamuk dan tangisan merintih karena sehari warga Jakarta harus membayar 1 juta untuk melihat karya seni di Bundaran HI selama 11 bulan. Hanya di era Anies, melihat karya seni dipungut biaya.

Sedih sekali, bukan, wahai warga Jakarta? Jujur saja, penulis sedih melihat bagaimana pemborosan semacam ini demi penyerapan anggaran yang efektif.

Jujur saja, penulis agak bingung melihat bagaimana bambu yang disebut-sebut sebagai karya seni ini malah dianggap sampah; bukan oleh rakyat Jakarta, tapi oleh pemprov DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Anies.

Hanya dalam waktu 11 bulan, karya seni yang katanya bagus itu dibongkar hanya karena alasan yang rasanya kurang masuk akal.

Alasan keamanan? Bukankah di lokasi bambu memang tidak boleh ada orang yang berlalu lalang? Artinya, jika jatuh ya jatuh, tidak akan membahayakan siapa-siapa. Bukankah karya seni yang makin lama malah makin tinggi nilainya?

Selain nilainya yang fantastis secara biaya, nilai seninya juga dipertanyakan. Katanya Anies, Getah Getih ini mirip Bunga Matahari. Kalau berbicara tentang instalasi bambu yang dianggap mirip bunga matahari, seharusnya bisa membuat yang di bawah 550 juta. Seharusnya bisa, bukan? Saya kurang memahami hal ini.

Jujur saja, saya tidak pernah melihat karya ini secara langsung. Karena saya juga tidak terlalu berminat ke Jakarta sejak saya pulang dari Jakarta untuk sebuah misi mencerdaskan diri di kampus daerah Grogol.

Selama belasan tahun, penulis tidak menginjakkan kaki di Jakarta lagi. Tapi begini, dunia makin terkesan sempit, karena media yang begitu luas.

Bagaimana pun juga, nilai benda itu tidak sesuai dengan yang dibayarkan. Tidak ada hak penulis untuk mengatakan karya ini jelek atau buruk. Tapi apakah penulis boleh bertanya bahwa instalasi bambu ini merupakan karya seniman?

Loh? Apa hak saya untuk mengatakan karya seni itu adalah seni atau bukan? Begini, coba penulis jelaskan sedikit dan perlahan mengenai hal ini.

Penulis sebagai penilai. Memang penulis melihat karya ini patut dipertanyakan. Beberapa hal yang saya lihat kenapa buruk, ada alasannya. Saya memiliki rubrik tersendiri dan indikator yang bisa saya jelaskan kepada para pembaca mengenai alasan saya mengatakan karya ini patut dipertanyakan.

Pertama, dari aspek lokasi. Secara lokasi, tidak tepat bambu diletakkan di tengah-tengah jalanan yang berdebu dan terpapar sinar matahari.

Apalagi bambu ini bambu ini sudah menjadi barang mati dan tidak bisa bertumbuh. Malah dengan keringnya bambu itu, makin hilang nilai seninya. Dan lama kelamaan pasti uang setengah miliar lebih ini akan menjadi sampah. Sooner or later.

Kedua, dari aspek bahan. Bahan yang digunakan adalah bambu. Karya bambu ini tidak semestinya seharga 550 juta. Ternyata ketika saya hitung, perkiraan penulis, tidak sampai 500 juta untuk bambu sejumlah itu.

Mungkin saya prediksi setengah saja. Lah, setengahnya lagi ke mana? Kecuali bahan itu dibuat dari besi atau aluminium atau logam seperti yang digunakan Nyoman Nuarta yang membangun Garuda Wisnu Kencana. Cocok untuk outdoor. Malah makin lama makin baik.

Memang logam ini kalau terpapar oksigen, alias oksidasi, justru makin lama makin bagus. Bambu adalah pilihan yang kurang bijak oleh seniman itu, atau memang disengaja?

Ketiga, dari aspek biaya. Biayanya sangat besar untuk tempat yang seperti itu. Apakah termasuk sewa tempat? Atau bagaimana? Apakah boleh saya meminta agar Anies ditelusuri oleh KPK? Boleh kan?

Mengapa? Karena bagi penulis, rasanya kurang tepat biaya tersebut dilakukan untuk bahan tersebut.

Keempat, dari aspek manusia yang ada di baliknya. Mereka benar-benar tidak bisa memaknai karya seni. Di ibu kota yang besar ini, seharusnya karya yang dipajang dan dipertontonkan oleh jutaan orang ini merupakan karya seni kelas tinggi. Sayangnya, ternyata karya seni ini malah dianggap kurang indah dipajang di daerah Bundaran HI.

Kelima, dari aspek teknologi yang dipakai. Sepertinya lebih canggih teknologi yang digunakan untuk merusak bambu ini dan melumatnya ketimbang teknologi yang dipakai untuk membangun karya ini. Unik sekali, ya?

Dari kelima rubrik inilah saya melihat bagaimana Anies ini terlalu terlihat ceroboh untuk mengeluarkan uang begitu mudahnya. Apa jangan-jangan memang ini adalah proyek Anies?

Jadi secara keseluruhan, ini adalah sampah. Karya seni itu seharusnya tidak pernah ada dan semahal ini. Walhasil, waktulah yang menjadi guru terbaik, 11 bulan tepatnya.

Semoga saja kita berharap Anies ke depannya bisa lebih baik lagi mengurus kota ini. Masih ada 3 tahun, Pak Anies. Perbaiki diri Anda!