Pengusaha
2 tahun lalu · 647 view · 3 menit baca · Politik 51609.jpg
https://chirpstory.com

Anies Baswedan Yang Selalu Gagal

Anies Baswedan tidak pernah berhasil mengemban amanah sebagai pemimpin, baik ketika menjabat sebagai Rektor Paramadina maupun saat menjadi Menteri Pendidikan dalam Kabinet Kerja Jokowi.

Perjalanan hidup dan karir Anies Baswedan seperti Roller Coaster, yang hanya di awal-awal saja menanjak, namun di tengah-tengah ia menukik tajam ke bawah. Ketika itu, banyak orang mengharapkan sosok Anies akan membuat perubahan di Indonesia, khususnya di bidang pendidikan.

Namun, harapan tinggi masyarakat tampaknya sirna. Anies sampai sekarang tidak menghasilkan karya apapun alias tidak berprestasi. Selain itu, dipilihnya Anies menjadi Rektor Paramadina dinilai sahabatnya, Mohammad Monib banyak kejanggalan dan banyak penolakan berbagai pihak.

Perlu kita ketahui, Mohammad Monib sendiri merupakan teman dekat Anies. Ia mulai kenal dengan Anies ketika sama-sama berjuang di Indonesian Institute, yang ketika itu Anies bukanlah siapa-siapa, hanya lulusan doktor politik alumnus Universitas di Amerika Serikat.

Pasca wafatnya Nurcholis Madjid, Universitas Paramadina mengalami kekosongan rektor. Melalui kualifikasi remang-remang dalam struktur yayasan yang tak berjalan sehat, Anies terpilih menjadi rektor. Menurut Monib, ia berhasil menyelinap dalam tikungan.

Selain prosesnya yang dinilai tak sehat, terpilihnya Anies juga mendapat penolakan keras dari istri almarhum Nurcholish Madjid, Omi Komaria Madjid. Alasan mendasarnya, Anies belum berkeringat dan tak mengeluarkan peluh dalam perjalanan Paramadina.

Universitas Paramadina yang menjadi wujud materi dari seorang cendekiawan Nurcholish Madjid, yakni seorang pemikir Islam, cendekiawan dan budayawan Indonesia, serta pejuang pluralisme Indonesia. Seharusnya, Anies sebagai rektor penerus “Cak Nur” harus ikut dan melanjutkan estafet perjuangan Nurcholis Madjid.

Kegagalan Anies

Pengkhianatan Anies atas apa yang diperjuangkan Nurcholis Madjid dan dirinya merupakan kegagalan Anies yang amat besar dan orang akan terus mengingatnya. Bagaimana tidak, Anies yang semula menggaungkan menenun kebhinnekaan dan kemajemukan NKRI, langsung sirna ketika ia sowan ke Frot Pembela Islam (FPI).

Sowannya Anies ke FPI sangat merendahkan dirinya dan Nurcholis Madjid. FPI dulu ia benci habis-habisan karena dianggap bertindak sewenang-wenang dan penuh kekerasan, namun saat ini ia rangkul sebagai afiliasi politik. Dalam tindakannya, mereka tak canggung mengatasnamakan agama dan Tuhan, mencatut nama Tuhan, bernaung dalam paham jihad yang gagal paham, bersumbu pendek, menghalalkan segala cara, melakukan kekerasan dan tindakan menghakimi sendiri

Jelas, tindakan FPI tersebut jauh dari nilai-nilai yang selama ini diperjuangkan. Hanya karena libido kekuasaan untuk menjadi gubernur, Anies rela berkawan dengan orang atau kelompok yang selama ini dibencinya.

Bukan hanya itu, harapan masyakarat Indonesia kepada Anies dalam memperjuangkan semangat keislaman yang inklusif, semangat pluralisme dan toleransi, semangat demokrasi tanpa diskriminasi dan kekerasan telah sirna. Anies dalam hal ini jelas-jelas dinyatakan gagal.

Kegagalan Anies berikutnya adalah ketika ia menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Kegagalan ini diperkuat dari penilaian Ombudsman terhadap Kemendikbud yang menempatkannya di posisi ke-22 atau urutan paling buncit dari semua kementerian.

Yang menjadi dasar dari kegagalan Anies selama menjadi Menteri adalah pendistribusian Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang tidak merata. Padahal, kita tahu KIP adalah janji politik Jokowi ketika berkampanye dan seharusnya menjadi prioritas Anies dalam mengawal kesuksesan program tersebut.

Kegagalan Anies tersebut disebabkan karena kemalasan Kemendikbud dalam mencari data yang lebih spesifik dari Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Karena dalam Dapodik sendiri tak ditemukan data yang mendetail, seperti apakah siswa itu mampu atau tidak.

Hal ini juga diamini oleh pengamat pendidikan, Indra Charismiadji. Menurutnya, sudah 20 bulan berjalan, namun perkembangan dari program tersebut mandeg. Karena tak sesuai ekspektasi Presiden Jokowi, Anies yang kala itu menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dipecat dan digantikan oleh kalangan profesional, Muhadjir Effendy.

Selain gagal dalam mengawal program KIP, Anies juga bertindak fatal dalam menghitung anggaran tunjangan profesi guru dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2016. Untungnya, Sri mulyani menemukan kesalahan tersebut dan berhasil menyelamatkan 23,3 Triliun uang rakyat.

Bayangkan, jika uang sebanyak itu lolos atau luput dari pemeriksaan hingga tahap pencairan, siapa yang paling dirugikan, tentu seluruh rakyat Indonesia. Dana sebesar itu lebih dari cukup untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas seluruh sekolah-sekolah di Indonesia. Hingga akhirnya dana tersebut terselamatkan setelah Kemenkeu setelah menelusuri anggaran atas dana transfer ke daerah tahun anggaran 2016.

Benar, tak ubahnya hanya seorang doktor politik alumnus Amerika Serikat yang prestasinya biasa-biasa saja, tidak ada yang luar biasa. Bahkan, banyak kegagalan yang dilakukan seorang Anies ketika ia diberikan amanat menjadi pemimpin.

Secara umum, Anies Baswedan tidak punya prestasi yang patut dibanggakan,yang bisa dijadikan modal untuk menjadi Gubernur Jakarta. Layaknya seorang motivator, ia hanya bisa berkata-kata indah, menyihir para pendengar. Dengan bermodalkan kata-kata itu, ia berupaya untuk memenuhi hasrat kekuasaannya.

 Dalam hal ini, warga Jakarta mesti waspada. Zaman sudah berubah. Republik ini harus dipimpin oleh seseorang yang mau bekerja untuk mewujudkan perubahan bagi warganya. Bukan oleh seorang pemimpin yang dalam rekam jejaknya penuh dengan kegagalan.

Artikel Terkait