2 tahun lalu · 5776 view · 3 menit baca · Politik download_33.jpg
TransMilenio BRT (sumber: wikipedia)

Anies, Angkot, dan Omong Kosong

Anies Baswedan memang pandai beretorika. Pandai membangun argumen yang disukai banyak orang. Argumen beliau umumnya enak di telinga. Sebaiknya, ucapan beliau jangan dipikirkan terlalu dalam atau dibandingkan dengan ucapan-ucapan beliau sebelumnya; anda hanya akan menemukan kekosongan atau kontradiksi di antara ucapan-ucapan tersebut.

Omong kosong beliau mengenai skema kepemilikan rumah tanpa DP telah dibantah oleh gubernur bank Indonesia. Hal itu tidak bisa dilakukan. Omong kosong beliau lainnya adalah mengenai angkot. Menurut beliau angkot perlu diintegrasikan sebagai bagian sistem transportasi kota metropolitan Jakarta.

Tulisan ini mencoba menjelaskan mengapa ide tersebut masuk dalam kategori omong kosong.

Jakarta adalah metropolitan seperti halnya Tokyo, Singapore, dan New York. Kota-kota seperti ini penduduknya padat, dan mereka sangat dinamis. Untuk itu dibutuhkan sistem transportasi massal. Sistem yang dapat memindahkan orang dalam jumlah besar dan dalam waktu singkat. Dua kriteria ini harus terpenuhi. Sistem yang tidak memenuhi kedua kriteria ini tidak bisa menjadi sistem transportasi kota metropolitan.

Sistem transportasi massal bisa berbasis bus dan bisa berbasis kereta. Yang berbasis bus adalah Bus Rapid Transit yang disingkat BRT, contohnya TransJakarta. Sistem BRT kadang disebut sebagai bus on steroid. Sistem bus seperti ini lebih cepat dibandingkan dengan sistem bus lain seperti metro mini.

Kapasitas besar dan kecepatan tinggi dalam memindahkan orang dapat dicapai oleh BRT karena sistem ini memiliki fitur-fitur berikut: lantai bus setinggi lantai halte, bus-bus dengan pintu-pintu berukuran besar, pembayaran tiket di luar bus, jalur bus yang dilindungi dari kendaraan lainnya, dan busway yang berada pada jalur cepat jalan.

Semua fitur tersebut untuk menjamin bahwa orang dalam jumlah besar bisa dipindahkan dengan cepat. Dengan lantai bus setinggi lantai halte, orang dengan cepat dan mudah keluar-masuk bus. Ukuran pintu yang besar juga dibuat dengan maksud yang sama. Pembayaran tiket di luar bus menghilangkan keterlambatan karena transaksi.

Melihat fitur-fitur yang dimiliki oleh angkot, apakah anda berpikir unjuk kerja angkot bisa menyaingi BRT?

Mari kita dengar opini ahli transportasi. Sebagai contoh, baca saja artikel yang ditulis oleh Shigeru Morichi yang dipublikasi di Journal of the Eastern Asia Society for Transportation Studies. Saat itu, beliau adalah presiden masyarakat transportasi Asia Timur. Beliau percaya yang paling cocok adalah yang berbasis kereta yang terstruktur. Dalam struktur ini, yang terbawah adalah subway dan monorail yang melayani stasiun-stasiun yang terpisahkan dengan jarak kurang lebih 1 km dengan kecepatan operasi 20-30 km/j. Di atasnya, kereta dengan kecepatan operasi 40-60 km/j dan melayani stasiun yang terpisah dengan jarak 5-6 km. Teratas, dibutuhkan kereta dengan kecepat operasi 120-130 km/j untuk melayani stasiun yang berjarak 30-50 km. Tanpa struktur ini, sistem transportasi di kota-kota metropolitan tidak akan optimal.

Shigeru Morichi sepenuhnya percaya bahwa sistem keretalah yang cocok. Hal ini karena unjuk kerja sistem kereta yang lebih tinggi dibanding sistem bus. Perlu dipertimbangkan bahwa sistem bus dapat dibangun lebih murah dan cepat. Gubernur Sutiyoso hanya butuh tiga tahun untuk membangun dan memulai operasi TransJakarta.

Saat ini, TransJakarta mampu melayani sekitar 400.000 orang per hari dengan 12 koridor. TransMilenio, BRT terbaik di dunia, mampu melayani 2,2 juta orang per hari dengan jumlah koridor yang sama. Sementara itu, di Tokyo, satu koridor subway yang bernama Yamanote line sanggup melayani 1,1 juta orang per hari.

Argumen dan fakta telah diberikan di atas. Apakah anda masih percaya bahwa angkot cocok untuk metropolitan?

Ketika New York bernama New Amsterdam, kereta kuda digunakan sebagai alat transportasi. Sekarang tidak lagi. Jakarta telah menjadi kota metropolitan seperti halnya New York, Singapore, dan Tokyo. Apakah anda menemukan angkot di Tokyo? Sudah sangat transparan bahwa angkot seringkali menjadi sumber kemacetan di Jakarta. Melihat semua fakta itu, nalar seperi apa yang digunakan untuk menghasilkan pemikiran bahwa angkot cocok untuk metropolitan?

Saya paham nalar itu. Anies Baswedan ringan mengatakan iya dan merangkul seluruh pihak, begitu kata Rian Ernest, seseorang yang pernah aktif di Indonesia Mengajar. Mungkin ini adalah upaya Anies Baswedan untuk merangkul dan mendapatkan suara sopir-sopir angkot yang merupakan rakyat bawah. Dia melupakan kita, guru, dosen, pedagang kecil, anak sekolah, mahasiswa, dan masyarakat bawah lainnya, yang jumlahnya jauh lebih banyak dan menjadi korban kemacetan.