Penulis
1 tahun lalu · 24667 view · 3 min baca · Politik 12262_65997.jpg

Anies Akhirnya Memilih Jokowi

CLBK

Prabowo bertemu Tomy dan Aguan yang merupakan pengembang proyek reklamasi. Pertemuan itu menimbulkan banyak tanya dan respons negatif. Pasalnya, Anies-Sandi dalam kampanye mereka selalu mengatakan menolak proyek tersebut. Publik mulai curiga Anies-Sandi akan berbalik arah untuk melanjutkan reklamasi.

Langkah Prabowo bertemu pengembang dan dihadiri Anies, seolah telah terjadi politik transaksional. Publik akan menilai penolakan Anies-Sandi hanya konten kampanye untuk pilkada semata. Cara politisi menang dalam sebuah kompetisi politik, menebar janji tanpa aksi apalagi memenuhi janji tersebut.

Saat ini Anies-Sandi sedang diuji. Integritas mereka menjadi pertaruhan. Bila mereka ingkar janji, bukan hanya keduanya yang akan ditinggalkan konstituen, akan tetapi Prabowo dan Gerindra akan mengalami hal yang sama. Apalagi jauh sebelumnya, Sanusi salah satu kader Gerindra menerima suap terkait reklamasi.

Tak heran bila publik terutama warga Jakarta mempertanyakan komitmen Anies-Sandi serta Gerindra terkait reklamasi. Selama ini Prabowo juga tak banyak bicara soal reklamasi. Tidak pernah secara tegas Prabowo menyatakan menolak proyek reklamasi. Itu artinya Anies-Sandi bisa saja melanjutkan proyek reklamasi atas perintah Prabowo yang ternyata teman lama dari Tomy dan Aguan.

Secara hitungan politik, baik Anies maupun Sandi tidak memiliki kekuatan bila Gerindra tidak mendukung langkah mereka. Kecuali, Anies-Sandi berbalik arah untuk memohon dukungan kepada Jokowi. Dalam hal ini, Jokowi bisa saja mendukung Anies-Sandi agar menghentikan proyek reklamasi.

Jokowi bisa saja menjadikan reklamasi sebagai ajang menaikkan popularitas dan elektabilitasnya. Dukungan Jokowi kepada Anies-Sandi dengan sendirinya akan mencoreng Prabowo yang melakukan blunder karena mengundang pengembang ke rumahnya. Proyek reklamasi memang menggoda, investasi yang dapat menjadi sumber dana pemilu dan pilpres 2019.

Anies yang pernah menjadi jubir saat pencapresan Jokowi-JK, menjadi menteri dalam kabinet Jokowi-JK, bisa saja dan berpeluang berbalik melawan Prabowo demi nama baik dan integritasnya. Bagi Anies tidak ada keuntungan jangka panjang melanjutkan reklamasi bersama Prabowo. Anies bisa bersuara lantang kepada publik alasannya melawan Prabowo. Ia ingin menghentikan reklamasi bersama Presiden.

Bila itu yang terjadi, karir politik Prabowo bisa selesai sebelum waktunya. Kabar penundaan pencalonan Dedy Mizwar sebagai cagub Jabar karena Meikarta juga mengganggu elektabilitas Prabowo. Kabar tak enak itu dimulai ketika ada dugaan Hasyim adik Prabowo sudah melakukan deal politik dengan James Riyadi.

Gerindra boleh saja mengatakan bahwa Tomy merupakan teman lama Prabowo, namun pertemuan yang melibatkan Anies tentu bukan pertemuan biasa. Gerindra boleh saja mengklarifikasi, namun publik butuh fakta nyata. Beranikah Prabowo bersama Anies menghentikan reklamasi, apa pun taruhannya?

Publik telah bosan dengan retorika politik. Klarifikasi pertemuan Prabowo-Anies dengan pengembang tidak cukup membuang kecurigaan publik. Anies-Sandi nampaknya memilih opsi melawan Prabowo. Keduanya akan bertemu Jokowi sekaligus meminta dukungan Jokowi.

Mengingat elektabilitasnya dan pilpres tak lama lagi, pilihan mendukung Anies-Sandi cukup rasional dilakukan Jokowi. Politik tidak mengenal teman sejati. JK pernah bertentangan dengan Jokowi, namun akhirnya menjadi wapres Jokowi. Anies pernah menghina kubu Prabowo saat pilpres 2014, namun kemarin saat pilkada DKI Jakarta malah meminta dukungan Prabowo.

Politik juga menghadirkan kejutan yang menarik. Bila esok atau lusa Anies bersama Jokowi menentang reklamasi, Anies telah menepati janji kampanyenya. Anies akan berargumen bahwa ia berada bersama rakyat karena rakyat yang memilihnya. Popularitas dan elektabilitasnya akan terus naik, bukan hanya Jokowi yang kembali didukung rakyat.

Karenanya, Prabowo harus berani tegas dalam hal reklamasi. Menolak reklamasi bersama Anies-Sandi atau melanjutkan reklamasi bersama teman lamanya Tomy dan Aguan. Kedua pilihan itu memiliki konsekuensi politik. Bila Prabowo memilih opsi pertama, berarti hubungannya dengan Anies akan biasa saja. Namun, bila memilih opsi kedua, berarti ia harus rela Anies bersama Jokowi.

Uang dan kekuasaan memang saling terkait, memilih uang untuk meraih kekuasaan atau meraih kekuasaan untuk uang. Anies memiliki pilihan menarik, menjadi cawapres bersama Jokowi atau tetap sebagai gubernur bersama Prabowo. Apakah mungkin Anies menjadi cawapres Jokowi? Satu hal perlu saya tegaskan, satu-satunya yang pasti dalam politik adalah ketidakpastian itu sendiri!

Pernyataan beberapa petinggi Gerindra sebelumnya juga mengarah kepada kata sepakat pada reklamasi asal sesuai aturan. Anies tentu tak ingin bunuh diri. Kalaupun ia setuju melanjutkan reklamasi secara politik, ia akan memilih bersama Jokowi ketimbang melanjutkan reklamasi bersama Prabowo. 

Dan bila Jokowi menawarkan kerja sama untuk menolak reklamasi, pastilah Anies lebih sangat sepakat. Selain tetap menjaga nama baik dan menepati janji, Anies telah bertindak benar sebagai zoon politicon. Episode ini akan terungkap secepatnya.

Artikel Terkait