Mahasiswa
3 bulan lalu · 13 view · 3 min baca · Sosok 97818_87686.jpg
MyHeritage

Ani Idrus, Sang Pelopor

Dalam sejarah hidup ini, kita tidak dapat dielakkan dari sosok pribadi yang menginspirasi. Lewat cara dan teladan hidup mereka, kita belajar bagaimana membentuk diri supaya bisa mewujudkan mimpi. 

Demikian halnya dalam suatu tempat, daerah, suku, kita mengenang orang-orang yang berjuang dalam sejarah jaya atau berkembangnya daerah atau kota yang kita tempati. 

Pribadi-pribadi tangguh tersebut tidak hanya terbatas pada laki-laki saja, tetapi juga perempuan yang berani menyuarakan hak demi kemajuan hidup. Mereka ini memiliki disposisi batin yang tetap dalam memperjuangkan kebaikan lewat karakter dan prinsip hidup yang dipegang.

Salah satu wanita berdarah Minang yang menginspirasi adalah Ani Idrus. Ani Idrus lahir di Sawah Lunto, Sumatra Barat, pada 25 November 1918. Ayahnya bernama Sidi Idrus dan ibunya bernama Siti Djalisah. Ani Idrus dikenal sebagai sosok yang tegas, mandiri berjiwa pemimpin dan bagak (galak, berani, dan jagoan). 

Sejak usia 12 tahun, Ani Idrus dihadapkan dengan penjajahan kolonial Belanda yang memaksa kerja para tahanan sebagai kuli yang sekaligus sebagai hukuman atas kesalahan mereka. Walaupun masih belia, Ani Idrus merasa memberontak dalam hatinya, ia protes dan menentang perlakuan yang menindas tersebut.


Peristiwa yang demikian membentuk semangat nasionalis dalam diri Ani Idrus. Entah apa gerangan, ia memiliki kemampuan menulis, sehingga ia meluapkan semua itu lewat tulisan walaupun masih berusia 12 tahun. Tulisan itu diterbitkan di Balai Pustaka dan Pandji Pustaka. Adapun riwayat pendidikan Ani Idrus, beliau Sekolah Dasar/SD di Sawahlunto.

Kemudian Methodist English School, Meisjeskop School, Schakel School (SMP dan SMA Sederajat), dan lanjut kuliah di Fakultas Hukum UISU Medan (1962-1965). 

Lewat kemampuannya ini, sejak selesai dari SMA, tepatnya berusia 18 tahun, Ani Idrus bekerja sebagai wartawan di majalah SADAR dan SINAR DELI. Ani Idrus banyak meliput peristiwa penting pada zamannya. Salah satunya adalah tahun 1956, beliau meliput pertemuan baling ke Penang (menteri Malaya, menteri Singapura yang menetang tentara Inggris).

Sejak bekerja di tempat tersebut, Ani Idrus bertemu Muhammad Said yang kemudian menikahinya. Lewat pernikahan itu, keduanya dikaruniai enam orang anak yang bernama Tribuana Said, Saida Said, Indra Buana, Rayati Syafrin, Teruna Jaya Said, dan Prabudi Said. 

Ani dan Muhammad Said sama-sama peduli akan masa depan rakyat di Sumatra. Mereka memperjuangkan supaya banyak orang menempuh pendidikan yang layak.

Oleh karena sama-sama minat di bidang politik, keduanya mendirikan pusat surat kabar dan sekolah di Sumatra seperti surat kabar Seroan Kita, Waspada, Dunia Wanita (Majalah tentang dunia kewanitaan, bentuk kepedulian Ani Idrus kepada kaum perempuan yang berhak bersuara dan memimpin), STIKP (Sekolah yang ada di Sumatra), Sekolah Sepak Bola Waspada, dan mendirikan Organisasi Wanita Demokrat


Lewat karyanya tersebut, Ani Idrus memperoleh penghargaan sebagai sosok perempuan yang berpengaruh baik dan memberi banyak sumbangsih bagi dunia jurnalistik dan pendidikan. Adapun penghargaan yang ia peroleh, antara lain: Penghargaan dari PWI pada tahun 1959 dan Piagam Pembina Penataran Tingkat Nasional dari BP7 tahun 1979. 

Lewat semua karya dan perjuangannya, Ani Idrus berpulang dalam damai pada usia 80 tahun karena faktor usia, tepatnya pada Sabtu malam, 9 Januari 1999. Sosok Ani Idrus tetap terkenang di hati banyak orang dan sekolah serta kantor surat kabar yang ia dirikan masih berjaya sampai sekarang.

Lewat kisah singkat sang pelopor sosok Ani Idrus ini, beliau menyiratkan sosok yang memiliki posisi sikap yang tetap. Beliau memiliki keutamaan yang terus dipegang sebagai prinsip hidupnya demi kebaikan hidup banyak orang. 

Lewat keutamaannya yang pemberani, tegas, mandiri, bagak, dan berjiwa nasionalis, itu telah menghasilkan banyak perubahan dan kemajuan bagi dunia jurnalistik, wartawan, pendidikan, emansipasi, dan seterusnya.

Dalam hal ini, kita sebagai penerus bangsa yang masih berziarah di dunia ini diajak untuk terlibat dalam membangun kemajuan negeri kita tercinta ini. Entah apa pun karakter dan minat kita, kiranya atas dasar cinta kepada negeri ini, lewat pribadi-pribadi yang ingin kita ajak untuk bagkit sungguh membawa perubahan besar yang membanggakan semua orang. 


Lewat teladan sang pelopor Ani Idrus, kita diajarkan bagaimana menjadi pribadi yang berkeutamaan dan berpengaruh bagi banyak orang. 

Kiranya kita bisa menjadi inspirasi dengan segala bakat, minat, dan kemampuan kita yang dilandaskan atas dasar cinta untuk perkembangan negeri ini. Di mana pun asal kita, daerah kita, suku kita, agama kita, budaya dan adat-istiadat kita, kiranya kita bisa menjadi pribadi yang menginspirasi seperti Ani Idrus.

Sumber

Artikel Terkait