Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) atau Domestic Violence menjadi salah satu problem yang patut mendapatkan perhatian serius guna meningkatkan kualitas keluarga di Indonesia. Tingginya angka KDRT menunjukkan bahwa masih saja ada keluarga yang tidak dalam kondisi baik-baik saja.

Indonesia semenjak 2004 telah memberlakukan Undang-Undang No. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. UU ini melarang tindak KDRT terhadap orang dalam lingkup rumah tangganya dengan cara (1) kekerasan fisik, (2) kekerasan psikis, (3) kekerasan seksual, atau (4) penelantaran dalam rumah tangga.

Artinya, aturan tersebut melarang tindak kekerasan terhadap orang-orang dalam lingkup rumah tangga, terdiri dari suami, istri, anak, serta orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga karena hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, perwalian, menetap dalam rumah tangga serta orang yang bekerja membantu dan menetap dalam rumah tangga tersebut.

Meskipun aturan yang tertulis dalam UU-PKDRT tersebut cukup detail, namun demikian data di lapangan menunjukkan angka KDRT yang masih cukup tinggi. Kita dapat melihat hal tersebut dalam Catatan tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan yang dirilis setiap tanggal 8 Maret, bertepatan dengan peringatan Hari Perempuan Sedunia (International Woman’s Day)

Catahu 2022 yang merangkum kekerasan pada perempuan sepanjang tahun 2021 menunjukkan bahwa terdapat 2.527 kasus kekerasan dalam ranah personal yang dilaporkan kepada Komnas Perempuan. Belum termasuk yang dilaporkan pada lembaga lain seperti Pengadilan, DP5A, maupun lembaga lainnya.

Dilihat dari jenis pelaku, diketahui bahwa ayah menjadi pelaku terbanyak kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh anggota keluarga inti (nuclear family). Artinya, rumah yang seharusnya menjadi tempat yang paling aman sekalipun masih memungkinkan terjadi kekerasan di dalamnya.

Ditambah lagi, pandemi memunculkan fenomena gunung es terkait dengan KDRT, dimana jumlah kasus diduga semakin banyak akibat pertemuan antara anggota keluarga yang semakin intens dengan berbagai persoalan yang kompleks di dalamnya. Di sisi lain, laporan kasus yang diterima semakin sedikit.

Menurut Komnas Perempuan, penurunan laporan tersebut dikarenakan 1) korban dekat dengan pelaku selama masa pandemik (PSBB); 2) korban cenderung mengadu pada keluarga atau diam; 3) persoalan literasi teknologi; 4) model layanan pengaduan yang belum siap dengan kondisi pandemi (belum online). Selain itu juga disebabkan turunnya jumlah kuesioner yang dikembalikan.

Terdapat diskusi yang menarik terkait pandangan Islam terhadap Kekerasan dalam rumah tangga. Diskusi tersebut dipicu perbedaan pemahaman terdapat salah satu ayat dalam al-Quran yang membicarakan pemukulan terhadap istri.

Hal tersebut tertuang dalam QS An-Nisa ayat 34, yang artinya “Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur, dan pukullah mereka”.

Menurut Faqihuddin Abdul Kodir, yang paling fundamental  pada  konteks  ayat  ini adalah tidak  ada  satupun  ulama yang memahami kalimat ini sebagai perintah dari Allah pada suami untuk memukul istri. Perintah ini paling jauh berarti pemberian wewenang (mubah).

Dalam kaidah ushul fiqh, perintah al-Qur’an  bisa  mengandung arti beragam,  diantaranya  berarti  kebolehan. Sebagaimana  ayat  mengenai  makan  buah-buahan (Q.S Al-An’am:141)  atau perintah makan secara umum (Q.S 5:4). Jika setiap kata perintah bermakna keharusan, maka

Hal tersebut ditopang oleh HAMKA dalam tafsirnya, Al-Azhar. Menurutnya kebolehan memukul tersebut dapat dilakukan apabila sudah sangat diperlukan. Namun menurutnya orang baik-baik dan dan berbudi tinggi akan berupaya supaya tidak melakukan pemukulan. Artinya, kebolehan terhadap pemukulan bukanlah sebuah kewenangan yang serta-merta dapat dilakukan begitu saja.

Yang menarik adalah, adanya penafsiran yang melakukan takwil, yakni pengalihan makna dari makna hakiki terhadap makna majazi. Kata dlaraba yang bermakna memukul, beserta derivasinya, sering digunakan untuk kegiatan lain yang tidak selalu bermakna pukulan. Misalnya kata “Yadlribuuna fil ardh” yang kemudian bermakna “mereka berjalan di muka bumi”.

Artinya, bukan dengan memukul secara fisik, namun meberikan sikap tegas agar persoalan maupun konflik yang saat itu terjadi bisa segera diselesaikan.

Terlepas dari ayat tersebut, lebih banyak ayat lain dalam al-Quran yang berbicara tentang bagaimana sebaiknya pola perilaku antara suami-istri dalam keluarga. Misalnya dengan perumpamaan pakaian (QS Al-Baqarah : 187), yang menjadikan antara keduanya untuk saling melindungi, memperindah dan menguatkan satu sama lain.

Ada juga perintah kepada antar anggota keluarga untuk ber-mu’asyarah atau bersosialisasi dengan cara yang ma’ruf (QS Al-Baqarah : 229). Tentu ayat-ayat yang menunjukkan narasi positif tersebut lebih banyak dan lebih penting untuk diamalkan.

Sebagai agama yang menjadikan rahmah sebagai salah satu prinsip penting, tentu saja Islam mengedepankan kasih sayang, termasuk dalam relasi antar anggota keluarga. Artinya, sudah barang tentu Islam mengajarkan anggota keluarga untuk menjauhkan diri dari perilaku kekerasan, dengan melakukan hal-hal baik antar anggota keluarga.

Dengan memahami serta mengamalkan ajaran Islam secara utuh, maka setiap anggota keluarga tentu akan berlomba-lomba untuk menunaikan kewajibannya untuk berbuat baik kepada anggota keluarganya, sehingga diharapkan keluarga tersebut bisa berlabuh dalam dermaga Sakinah, sebagaimana tujuan keluarga dalam Islam.