Drrr.. drrr.. drrr.. dering ponsel yang terselip di bawah bantal membuka pagiku kali ini. Sepertinya ada seseorang yang mencoba menghubungiku dari salah satu sudut dunia sana.

“Sisa kuota utama anda tinggal 546 mb dan bla bla bla,” isi pesan tersebut. Secara harfiah memang benar ada seseorang, seseorang yang akrab dengan panggilan “operator”, menghubungiku sekadar untuk mengingatkan agar segera isi ulang kuota internet. “Bangsat!” batinku, sambil membanting halus ponselku ke atas kasur.

Beberapa kali aku mencoba untuk melanjutkan tidurku, hasilnya nihil. Aku telah terjaga.

15 menit berselang. Aku telah sadar sepenuhnya. Muka telah terbasuh oleh air dan menyisakan beberapa tetes yang kemudian jatuh di atas layar ponsel yang sedang kupegang ini. Setelah kuperiksa beberapa pesan yang masuk dari seseorang yang kiranya lebih kukenal dari sebatas operator dan tampaknya tidak ada yang benar-benar urgen. Aku pun beranjak dan keluar menuju angkringan depan gang kosan, seperti pagi-pagi sebelumnya.

“Om, seperti biasa. Kopasus satu,” ujarku kepada Om Andre, pemilik angkringan.

“Wokee!” sahutnya dari balik meja. Tampaknya laki-laki paruh baya itu sedang sibuk menyiapkan pesanan pengunjung lainnya.

Sepertinya spot favoritku – di sudut yang berhadapan langsung dengan TV led dengan stopkontak di sisi kirinya – sudah ada yang menempati. Dua laki-laki yang asing bagiku lebih dulu menempati spot tersebut. Sepertinya keduanya bukan pelanggan reguler angkringan ini. Aku lantas menempati meja kosong lainnya yang menghadap ke gang yang juga terdapat stopkontak pastinya.

“Piye, Je? Sudah dua bulan ini aku sudah bolak balik kirim lamaran kerja tapi ya masih belum ada respons sekarang,” ujar salah satunya dengan muka kusut. “Mana cicilan motor juga masih panjang ini. Haduhhh!!”

Sebenarnya aku tidak berniat menguping pembicaraan keduanya. Namun selain dikarenakan jarak dengan keduanya yang tidak terpaut jauh dariku, juga suasana angkringan yang lagi sepi – hanya ada aku dan kedua orang asing tersebut, selain Om Andre – yang pada akhirnya memaksaku untuk mendengar obrolan keduanya.

“Wah gimana ya? Aku juga lagi bingung ini. Dua hari lalu pihak leasing mampir ke rumah. Sudah dua bulan ini..” kata-kata laki-laki satunya disela oleh Om Andre yang baru saja mengantarkan pesanannya: kopi hitam. “Matur suwun, Pak,” ujarnya kepada Om Andre. 

Om Andre kembali ke mejanya sedang laki-laki itu melanjutkan perkataannya. “Biaya perawatan mobil-mobil rental juga tambah buat bingung. Lah wong dua bulan ini mobilku yang jalan bisa dihitung jari. Ya mau gimana lagi.”

Ia lantas menyeruput kopi yang masih panas itu. Bibirnya mengerut. Entah karena kepanasan atau kopinya yang terlalu pahit. Atau mungkin karena cobaan yang diterimanya kelewat pahit. Who knows.

Tak mau terlarut dalam kepahitan mereka, eh bukan bukan. Tak mau terlarut dalam per-nguping-an yang tidak sopan ini, aku lantas mengalihkan fokus pada layar TV yang tak jauh dari keduanya. Dan isinya pun tak kalah pahit. Angka kriminalitas hingga kabar klarifikasi hoaks-hoaks media sosial.

“Woyy. Jangan banyak ngelamun.” Om Andre beserta segelas kopasus, kopi ampas susu, sedikit mengagetkanku. “Bisa-bisa kesambet, Kowe.” Ia terkekeh. “Shift siang lagi?” tanyanya kemudian.

“Inggih, Om. Lagi pula paket yang mau dikirim juga nggak banyak-banyak amat,” sahutku.

“Kalau bisa jangan pulang malam-malam. Kemarin lusa ada kejadian begal di Merr.” Kata-katanya sontak membuatku kaget.

“Loh, iya tah, Om?” tanyaku kemudian.

“Korbannya mahasiswa, kata orang-orang. Anaknya sih nggak apa-apa, cuma motornya berhasil dibawa kabur. Nggak nutut dikejar warga. Lek iso, mending jangan lewat situ kalo malam,” tutur bapak dua anak tersebut.

“Waduh, piye ya, Om? Itu jalan biasanya saya lewati berangkat-pulang kantor.” Kabar tersebut sedikit membuat saya cemas. Mana saya bakal pulang malam hari ini.

-

Perjalanan pulang kali ini terasa sangat panjang. Meski di google map jarak kantor dan kosan hanya terpaut 15 km, namun rasanya kok nggak nyampek-nyampek.

Memang bukan hanya perjalanan pulang, hari ini rasanya sangat panjang. Dimulai ketika sadar kalau saldo rekening nggak sampai 500 ribu saat mampir ke ATM siang tadi. 

Selain itu ada juga kabar dari teman sekantor yang katanya akan ada pengurangan pegawai imbas dari berkurangnya keluar-masuk paket di perusahaan ekspedisi kami. Mungkin karena aku terus-terusan mbatin dari awal saya keluar kantor, yang menyebabkan perjalanan ini sangat terasa lama.

Baru ingat juga kalau masih ada biaya servis motor yang lagi ngandang di bengkel. Hash. Aku mencoba hanya fokus pada perjalanan pulang kali ini. Lalu hasilnya? Nihil. Angka-angka tersebut masih berkeliaran dalam benak ini.

Pada akhirnya aku tersadar kalau sedang melaju di jalan yang dituturkan oleh Om Andre pagi tadi. Aku pun makin kalut. Mana motor yang sedang kupakai ini pinjam dari teman pula. Duh Gusti, lengkap sudah kekalutanku kali ini.

Dengan sedikit waswas lihat kanan-kiri-spion, aku mulai tancap gas. Bayangan-bayangan kekhawatiran akan begal pun turut muncul kemudian.

“Motor belakang kok lampunya redup ya, jangan-jangan..”

“Lampunya kok nggak ndang hijau, ya”

“Kalo motor ini kebegal, gimana ya? Apalagi kalo ke-PHK, terpaksa pulang ke desa, terus minta bapak buat lunasi semuanya, terus..”

Entah kenapa dingin angin malam makin menusuk, melewati lapisan jaket, seragam, dan kaos yang sedang ku kenakan saat ini. Makin kencang motor ini kupaksa melaju, makin menusuk pula dinginnya. Dan anehnya pandangan terasa makin kabur.

“Sepertinya masuk angin,” batinku. Membuatku makin memaksa motor pinjaman ini untuk melaju makin kencang. Tak lain agar cepat sampai kosan, cepat merebahkan badan, juga pikiran.

Pandangan makin kabur, hingga pada akhirnya. Sretttttt.. bruak.. waduoh.. Seorang laki-laki tua berteriak terpelanting ke rumput trotoar, beserta motor dengan rombong pentol miliknya yang patah di sisi kanannya. Sedangkan aku? Tersungkur di atas aspal tertimpa motor. Alhasil celana jeans yang sedang kukenakan sobek besar di bagian lutut kanan.

Aku mencoba untuk bangkit dan menepikan motor yang tergeletak di tengah jalan.

“Hati-hati, Le, kalo bawa motor.” Bapak-bapak yang tadinya tersungkur kini melotot dan menunjuk-nunjuk ke arahku. Dengan kaki kanan yang berdarah – tak terlalu parah sih, hanya lecet – aku lantas menghampirinya. Kini bapak tersebut malah menuju rombongnya, mengambil kain lap dari dalamnya. “Pakai ini dulu buat nutup lukamu.” Beliau melemparkannya kepadaku, aku hanya mengangguk.

“Bapak nggak apa-apa? Sebelumnya, saya minta maaf, Pak. Ini tadi saya mendadak mbliyur,” tuturku sambil memegangi kain lap dari si bapak, menutupi lutut yang berdarah. Untung saja aku masih sempat menarik rem dalam-dalam sebelumnya sehingga tragedi kecelakaan ini tidak lebih parah.

“Aku sih nggak apa-apa. Cuma ya kamu tahu sendirilah rombong ini patah, saya jadi nggak bisa jualan ini. Mangkanya kalo pusing, mending melipir dulu,” kata si bapak.

“Iya, Pak. Sekali lagi saya minta maaf.” Aku coba merogoh dompet, mengeluarkan dua lembar seratus ribuan. “Pak, mohon maaf. Saya adanya cuma ini. Semoga cukup buat perbaikan rombong dan ganti jualan bapak buat hari ini.” Sambil menyodorkan salam ‘damai’ kepada bapaknya.

“Yawes, nggak apa-apa. Ini tak terima, Le.” Beliau membenarkan kembali posisi rombong agar sementara tidak jatuh dari motor. “Lain kali yang lebih hati-hati yo!” ujar bapak tersebut. Beliau pun pergi.

Aku masih terdiam di trotoar mencoba menenangkan diri. “Gara-gara pikiran dan angka-angka tanggungan membuatku seperti ini.” Merogoh saku dan mengambil sebungkus surya 16 yang tinggal satu batang, “Setidaknya sebatang ini bisa lebih menenangkanku,” batinku. 

Aku coba menghubungi si empunya motor, sekadar memberi kabar motornya tergores aspal dan memintanya untuk datang ke sini. Namun belum sempat tersambung, sebuah pesan masuk kemudian. Tampaknya dari orang yang telahku kenal sebelumnya yang isinya “Sisa kuota utama anda tinggal 0 mb, dan bla bla bla”.

“OH, FAHKKKKKKKK!!!1!11!”