Adakah yeng lebih mengekal
daripada angin musim kemarau
yang datang membayang sejuta kenang?
Panasnya menerjang garang
dinginnya menusuk tulang.

Adakah yang lebih mengabadi
daripada angin musim kemarau
yang lesap mengecap sejuta harap?
Panasnya melindap tatap
dinginnya mengerjap nanap.


Hujan Awal November

Tangis langit pecah
di awal November. Disambut azan
asar membubung. Setelah
tetumbuhan dan katak lelah menunggu
remah-remah rahmat-Mu.

Aku teringat kawanku
di seberang samudera. Di Pulau Perca.
Di Borneo. Digelap kabut asap.
Mata, paru-paru, darahmu mengertap.
Api membinasa belantara. Membakar segala

Hujan awal November. Menghapus
lolong dan lenguh. Sore dingin merenyah.
Rindu hampir rapuh. Cinta terperangah.
Menapaki senja mengarus. Sedang
kepak kelelawar sebentar lagi terdengar.


Trilogi Cuaca Pagi Ini

(1)
Angin di pagi ini
Menyapa gundah seraut wajah
Mendayung murung segenggam marwah
Merintih lirih seputik sedih
Meronta lara semangkuk perih

(2)
Mendung di pagi ini
Menjamah remah menu rindu
Mengurai sansai seonggok pilu
Meremas ganas semadah gundah
Mengarus deras sebongkah resah

(3)
Hujan di pagi ini
Melumat rimbun pohon kenang
Menyisir getir wajah membayang
Menerabas kilas seberkas rindu
Menyasar nanar sehampar syahdu


Daun Kering Bertebaran

Daun kering bertebaran di halaman
meminta dibersihkan.
Apakah kita juga seperti daun kering
setelah lama menatap matahari
berkawan angin dan hujan?


Riau Terkapar Menggelepar

Hutan belukar terbakar berkobar
Asap keluar menyebar menghampar
Riau terkapar menggelepar nanar

Kekar dolar cukong menampar
Mafia gegar mengumbar onar
Riau terkapar menggelepar nanar

Pejabat gusar mendengar kabar
Asap liar mendampar menyasar
Riau terkapar menggelepar nanar

Lapar lahan mendebar mencecar
Makelar berkibar mafia mengincar
Riau terkapar menggelepar nanar

Hutan terbakar mendampar hampar
Debar mafia menggelegar kasar
Riau terkapar menggelepar nanar

Mafia barbar tenar berkoar-koar
Melanggar hukum memutar hingar
Riau terkapar menggelepar nanar

Mafia sangar melempar jangkar
Mencakar lahan berhektar-hektar
Riau terkapar menggelepar nanar

Pejabat pintar mengumbar komentar
Membayar makelar rakyat terlantar
Riau terkapar menggelepar nanar

Pejabat menghindar mengingkar
Sekadar berkelakar gemar berujar
Riau terkapar menggelepar nanar

Hutan belukar terbakar berkobar
Angkara menghajar mendadar nazar
Riau terkapar menggelepar nanar

Riau Disekap Asap

Riau dibekap asap
Asap melelap memengap
Asap mengerjap mendekap
Asap melesap mengertap

Nafas megap-megap
Mata menatap gelap
Mulut tergagap harap
Riau meratap kalap

Pesan Bulan Sabit

Bulan sabit menggantung di langit.
Menyapa insan menggores pesan.

"Terimalah bulan baru tanpa ragu
dengan sahdu selalu di kalbu.
Berbekal tawakal senantiasa
dengan sabar berkobar," ujarnya.

"Jalan membentang masih panjang
dicekik matahari siang. Dihadang
mendung dan hujan deras
juga lolong serigala beringas," katanya pungkas.

Malam makin kelam
bulan sabit tenggelam.

Sing Cung Kyi Hi

Berharap hujan melimpah ruah
Pada musim semi yang basah
Di awal musim tanam tahun ini
Bawa keberuntungan mendaki

Leleh peluh kian jadi menderas
Di bawah terik mentari melepas
Kerja senantiasa tanpa ragu
Seiring datangnya tahun baru

Sing Cung Kyi Hi untuk kawanku
Selamat merayakan musim baru
Gong Xi Fa Cai bagimu kukirim
Rezeki membuncah di awal musim

Angin Akhir Oktober

Angin akhir Oktober mengirim kabar
meski panas mentari legam membakar.
Ketika Istana Merdeka menyapanya rindu menggebu
mengharu biru kepada pemimpin negeri nomor satu.

Ia datang bagai meteor dari langit.
Atau mungkinkah ia seorang ksatria piningit?
Barangkali ia juga membawa pesan wingit.

Sementara itu meja pesta masih diliputi sisa
remah-remah kenduri korupsi merajalela.
Badai korupsi hampir saja merobohkan pilar
istana karena aromanya menenggelamkan nalar.

Ia datang dengan kasih sayang.
Membawa bendera madani membentang.
Kabarkan kesejahteraan dengan lantang.

Angin akhir Oktober mendesir mengukir tabir
menyingkap gebalau risau di titik nadir.
Ketika Istana Merdeka memeluknya erat-erat
di luar rakyat menunggunya dalam kerja yang penat.

Titir Rindu Kali Ciliwung

Saat hujan dan mendung seperti sekarang ini
Kau tentu teringat terpaku selalu padaku, Ani
Kala tersaji secangkir kopi dan seporsi soto mi
Lalu kita lahap tandas di dekat Taman Topi

Kau tahu aku mengukir takdir di kota hujan
Rimbun tetes air menggunung di Kali Ciliwung
Mengalir deras menghempas menakutkan
Hingga Jakarta dikepung banjir yang murung

Karena kau tinggal di kota hilir jauh dari hulu
Air meruah tumpah bukan daku kirimkan padamu
Itu titir rindu bulan Januari seperti yang dulu-dulu
Seperti suling dan salung nyanyikan senandung pilu

Elegi Getir Kampung Air

Kampung Air menggigir bau anyir
Hujan menumpah ruah mengalir
Air menimbun hati kian berdesir
Air menitir mencari jalan mengikir

Sejak kompeni gendam kota tua
Jayakarta bebaskan bumiputera
Air melimpah di Kampung Air sana
Kemarau tak hentikan bening tirta

Kampung air adalah ladang air
Di kala banjir datang mengukir
Lewati Jelakeng lalu meminggir
Tambahkan pilu menderu getir