“Jika kamu tak ingin sakit, jangan mencintai, tetapi jika tidak mencintai untuk apa kamu hidup?”. Demikianlah kata-kata bijak yang pernah diungkapkan oleh Agustinus, seorang filsuf dan teolog Kristen.

Kata-kata indah ini terus merasuk pikiranku dan menggerakkan hati kecilku sehingga membuat aku terkesima dan terkagum bahagia kala mendengar dan merenungkannya. Gema kata ini seolah merongrong jiwa siapa saja yang ingin mencinta dalam hidup terutama mencinta sampai korbankan rasa sakit.

Mencintai dengan korbankan rasa sakit tidak semua orang berani untuk melakukannya. Namun, kegemahan cinta terus dilanjutkan dan dihidupi terlepas dari berani atau tidaknya orang untuk menghadapi rasa sakit itu. Gemah cinta inilah yang sinarkan oleh kakakku, Anggun Permatasari, di dalam hidupnya.

Hadir di Gereja setiap minggu untuk rayakan Ekaristi sudah menjadi kewajiban dan rutinitas kak Anggun. Baginya, jika tidak menghadiri perayaan Ekaristi, maka hidupnya seakan hampa. Ia merasa ada yang kurang jika tidak mengawali hari hidupnya dalam sepekan dengan menghadiri perayaan Ekaristi di Gereja.

Aku tak tahu pasti, apakah kak Anggun mengikuti perayaan Ekaristi itu dengan penuh sadar atau tidak. Namun, yang pasti bahwa buah Ekaristi yang dirayakan sungguh hidup dalam dirinya sehingga ia selalu melakukan segala pekerjaannya dengan baik. Karena kebaikannya, ia menjadi kebanggaan banyak orang.

Selain itu, kak Anggun juga sangat aktif dalam kegiatan Gereja lainnya. Apalagi kegiatan Orang Muda Katolik (OMK), ia pasti yang terdepan dan penggeraknya. Ia juga menjadi salah satu pendengar dan penasehatku kala aku melakukan suatu kesalahan atau menceritakan segala hal persoalanku padanya.

Aku menyadari bahwa apa yang dilakukan kakakku itu sangat baik sehingga membuat dirinya semangat menjalani hari hidupnya terutama dalam melayani Tuhan pada berbagai kegiatan di Gereja.

Beda dengan aku yang jarang aktif di Gereja. Aku lebih suka senang-senangan dengan teman-temanku. Yah, memang tidak salah kalau aku sisihkan waktuku bersama teman-teman. Tetapi kebanyakan waktu dalam hidupku sampai usia dua puluh dua tahun ini aku habiskan tanpa mempunyai suatu tujuan yang pasti.

“Metha, kamu pakai bajunya ngepres gitu? Ini Gereja loh, bukan taman Nostalgia. Kamu pakai baju seperti orang lagi mau pacaran di taman-taman aja. Gak sopan itu.” Kak Anggun menegur aku yang sudah rapi untuk bertemu pacar dan teman-temanku pagi ini di Taman Nostalgia.

“Kak, hari ini aku nggak bisa ke Gereja karena aku udah janjian sama pacar dan teman-temanku. Kami akan bertemu di taman Nostalgia dan jalan-jalan keliling kota hari ini. Nanti ada waktu baru aku pergi aja, kak!” Aku menjelaskan kepada kak Anggun yang menuntut dan memaksaku untuk bersamanya ke Gereja.

“Apa-apaan sih kamu Metha! Nggak boleh begitu! Nanti setelah pulang dari Gereja baru pergi dan ketemuan sama pacar dan teman-teman kamu!” cetus kak Anggun dengan nada kesal atas sikap malasku itu.

“Tapi kak, kami udah janjian akan bertemu dan jalan-jalan keliling kota pagi ini. Lagian, udah rindu pun. Ah, kakak seperti gak ngerti aja kalau orang lagi rindu”, sahutku cemberut melihat sikap tegas kak Anggun.

“Met, kamu tau nggak! Kerinduan cinta di dalam kodrat kita tidak bisa dipuaskan oleh apa pun yang lebih kecil daripada Allah, yang Tak Terbatas. Begitu pun manusia dan semua hal material yang ada di dunia ini.” Jelas kak Anggun meniru para pengkotbah.

Sambung kak Anggun, “Met, kakak tahu bahwa dalam dirimu ada hasrat mendalam untuk melampiaskan perasaan rindumu. Tapi, kamu harus ingat bahwa kadang perasaan itu hanya bersifat sementara. Jadi kamu jangan melulu ikuti kata perasaanmu tapi ikuti juga pikiran yang benar tentang rasa rindumu itu.

 “Sumber kerinduan itu ada pada Tuhan bukan pada pacar atau teman-temanmu Met. Apabila kamu tidak mau datang kepada Sang Sumber Rindu yang hadir melalui perayaan Ekaristi, bagaimana mungkin kamu dapat mencapai kerinduan terdalam kamu itu Met?” Lanjut kak Anggun.

“Iya sih kak. Tapi bagiku, pacar dan teman-temanku itu juga menjadi tempat curhatku saat aku hadapi masalah terutama tentang perkuliahanku. Yah, walau aku tahu bahwa mereka hanya melengkapi rasa rinduku dan tidak mampu memenuhi kerinduan terdalamku.” Aku menggerutu pada kak Anggun.

Kak Anggun menatapku tenang, lalu dengan senyum mengatakan, “Met, selama kita masih menjadi manusia yang berziarah di dunia ini pasti akan ditantang oleh berbagai persoalan seperti yang engkau pernah alami. Tiada seorang pun yang luput dari hal itu.

 “Ketika menghadapi tantangan dalam hidup, hanya sedikit orang yang datang pada Tuhan untuk meminta pertolongan dari-Nya. Mereka tidak sadar kalau tanpa Tuhan mereka tidak mampu melakukan apa-apa. Inilah persoalan yang seharusnya terus kita sadari dalam hidup kita Met.” Sambung kak Anggun.

Setelah mendengar ceramah dari kak Anggun, aku tertunduk malu. Memang, tertarik akan hal-hal duniawi itulah yang sering aku lakukan selama ini. Aku lebih suka mencari kenyamanan pada hal-hal material daripada mendekatkan diriku dengan Tuhan dalam kegiatan Gereja yang ada.

Perlahan aku mulai sadar bahwa persoalanku tidak akan selesai kalau aku tidak membawanya pada Tuhan. Tidak satu jalan pun yang akan aku temui kalau aku hanya mengandalkan kekuatanku sendiri.

Aku juga semakin sadar bahwa tidak ada hal material apa pun di dunia ini yang mampu memenuhi kerinduan terdalamku akan suatu kebahagiaan yang sempurna. Hanya dalam Tuhanlah semuanya itu terpenuhi. Jadi, untuk apa aku sibuk mencari sesuatu yang tidak membawa kebahagiaan sempurna untukku.

Kata-kata bijak kakak membuat hatiku luluh. Aku baru menyadari, ternyata pertemuan yang aku alami bersama Tuhan dalam perayaan Ekaristi jauh lebih penting daripada hanya senang-senang dan sibuk dengan hal-hal duniawi yang ada.

Mulai saat itu, aku berkomitmen bahwa Lebih baik aku bernostalgia bersama Tuhan dengan menghadiri perayaan Ekaristi pada hari minggu dan dalam kegiatan rohani lainnya daripada hanya bernostalgia dengan teman-temanku melulu.

Terima kasih kak Anggun. Cara hidup dan perhatianmu telah menyinarkan hidupku. Kamu sungguh menganggunkan.