98875_33879.jpg
Anggun, penyanyi Indonesia pertama yang meraih penghargaan World Music Award (Foto: tempo.co)
Sosok · 7 menit baca

Anggun dan Merah Putih Nasionalisme

Menjadi artis Indonesia pertama yang lagunya bertengger di chart Billboard pastinya membanggakan. Menjadi artis Indonesia pertama yang diabadikan di museum bergengsi Madame Tussauds tentu adalah hal yang sungguh menakjubkan.

Anggun C. Sasmi atau singkatnya dikenal dengan Anggun, sukses menggapai impian internasionalnya sejak tahun 1997. Albumnya bertajuk Snow on Sahara terjual lebih dari 1 juta keping dan dirilis ke 33 negara termasuk Amerika Serikat. 

Sayangnya, banyak yang menitikberatkan keputusannya untuk mengubah kewarganegaraannya menjadi warga negara Prancis. Apa Anggun yang jarang terlihat memakai batik atau kebaya sudah dipastikan tidak cinta Indonesia lagi? Apa Anggun yang tidak pernah mencampur-aduk bahasa dalam berbicara sudah bukan orang Indonesia lagi? Apa benar sementah itu? Mari kita kaji lebih dalam.

Tinggal dan berkarir di negeri Napoleon Bonaparte pastinya membuat pemikiran, sudut pandang, dan mental seorang Anggun menjadi lebih kaya. Orang Perancis sangat bangga dengan bahasa yang mereka miliki. Mereka menganggap bahasanya adalah bahasa terindah di dunia.

Mereka akan sangat senang jika orang non-Perancis berusaha bertutur dengan bahasa mereka. Mempelajari bahasa dari suatu bangsa tertentu pastinya membutuhkan waktu yang lama. Bahasa sangatlah kompleks dan subtil. Usaha belajar bahasa inilah yang sangat dihargai.

Mental inilah yang tak dimiliki orang Indonesia. Kita lebih senang langsung berbicara bahasa Inggris kepada warga asing dan membiarkan mereka nyaman berada di Indonesia karena mereka tak butuh belajar bahasa Indonesia dengan alasan banyak orang di Indonesia yang bisa bahasa Inggris. Rumit halnya jika berkunjung ke Perancis. Meski mengerti bahasa Inggris, mereka malas berbicara dengan bahasa itu.

Orang indonesia tak banyak yang sadar bahwa bahasa adalah ciri khas, urat nadi nasionalisme, pusaka sejarah, dan juga identitas budaya. Mempelajari suatu bahasa tidaklah hanya soal menerjemahkan satu kata atau satu kalimat, tapi juga mempelajari budaya dan sejarahnya. Kecintaan suatu negara tidak hanya bisa diukur oleh kapan terakhir kali pakai baju batik. Nasionalisme tak sedangkal itu, namun lebih luas perspektifnya.

Tentang ini, berikut pandangan Anggun sebagaimana diwawancarai oleh penulis kondang Alberthine Endah:

Buat aku sih kaya semacem paspor atau make baju batik itu kan hanya sebagai atribut superfisial. Justru buat aku nasionalisme itu terletak bukan di situ, tapi di dalam bahasa.

Aku prihatin sekali, tahun lalu aku baca artikel di Jakarta Post, dibilang bahwa banyak anak kecil di Indonesia, terutama di Jakarta yang gak bisa bahasa Indonesia karena orangtuanya menyekolahkan ke sekolah internasional yang walhasil anak itu jadi gak terlalu sosial karena bisa bergaulnya hanya dengan orang-orang yang bisa bahasa Inggris atau anak-anak kecil lain di sekolah tersebut, tapi keluar dari situ gak bisa. Dan itu buat aku sangat disayangkan.

Aku ngerti maksudnya untuk membiasakan anak-anaknya dengan bahasa Inggris. Tapi apakah harus melepaskan identitas? Karena buat aku bahasa itu identitas. Ini nasionalisme yang benar.

Anggun menerima penghargaan “Chevalier Des Arts et Lettres” dari pemerintah Perancis karena dinilai telah mempromosikan budaya negerinya melalui album-albumnya yang berbahasa Perancis. Pemerintah Perancis sangat apresiatif sekali rupanya ketika melihat seorang penyanyi non-Perancis membuat album dengan bahasa ibu mereka.

Inilah bentuk rasa bangga mereka terhadap bahasa dan budaya mereka bisa dikenal orang luar. Inilah mental orang Perancis memandang bahasa. Lalu, apa ada hubungannya dengan Anggun, bahasa, musik, dan keartisannya? Mari kita telusuri lebih dalam.

Sudut Pandang Indonesia

Dalam sebuah wawancara oleh Channel News Asia sekitar tahun 2000, Anggun berkata, “I want to show my identity in intelligent way, the album is still very indonesian in the feel, in the lyrical point of view. When you read the lyrics even though the language is English, the point of view, the theme or the sounds still sound Indonesian. It comes from an Indonesian point of view. I like to show the Indonesian part in a very subtle way, it’s like putting on perfume. You can smell it but you can’t see”.

Jelaslah, Anggun punya caranya sendiri dalam menyisipkan keindonesiaannya di dalam album-albumnya. Meski ditulis dengan bahasa Inggris, namun tema, sudut pandang, dan perspektifnya sebenarnya sangatlah Indonesia. Orang tak bisa melihat di mana keindonesiaannya, tapi bisa merasakannya bagaikan parfum yang tak bisa dilihat wanginya namun akan tercium. 

Bahasa Indonesia di Album-Album Internasional

Anggun telah merilis 6 album bahasa Prancis dan 5 album bahasa Inggris. Uniknya, Anggun sering memasukkan kosakata dan kalimat bahasa Indonesia di lagu-lagunya. Hebatnya, album tersebut tersebar di banyak negara. Dan pastinya, banyak orang-orang asing yang mendengarkan bahasa Indonesia.

Kira-kira lagu-lagu apa saja yang Anggun beri sentuhan bahasa Indonesia?

1. “On The Breath of An Angel” dari album Snow on Sahara (1997)

    “Di semua bahasa, semua warna

     Ku pahami kata yang kau ukir indah

     Nyanyi beku angin, cairkan sengat surya

     Di relung hatiku bernyanyi bidadari”

2. “Le Depart” dari album Snow on Sahara (1997)

    “Atas nama bulan aku ajak anda dalam perjalanan mimpi ini”

3. "Selamanya” dari album Snow on Sahara (1997). Lagu ini berlirik bahasa Indonesia seluruhnya.

4. “Valparaiso” dari album Snow on Sahara (1997). Lagu ini menyelipkan salah satu kota di Indonesia

    “Cause at my window there’s a moon from here to Cali and Bandung”

5. “Dream of Me” dari album Snow on Sahara (1997)

    “Hembusan bayu...”

    “Dan ku hangatkan semua mimpi”

    “Hanya dirimu yang kunanti”

    “Semua keinginan hati”

6. “A Rose in The Wind” dari album Snow on Sahara (1997)

    “Biarkan ku jadi kompasmu, kan ku tunjukkan laharmu arah gunung api di masa kecilku”

    “Bawalah ku bersama anginmu”

7. “Still Reminds Me” dari album Chrysalis (2000) dirilis di 15 negara di Asia dan Eropa

    “Ku hitung jari-jari”

    “Jemariku”

8. “Selamat Tidur” dari album Elevation (2008) dirilis di Prancis, Rusia, Belgia, Taiwan, Malaysia, Indonesia, dan lainnya

    “Kirana bobo, oh Kirana bobo

     Kalau tidak bobo digigit nyamuk

     Bobo lah bobo, Kiranaku sayang

     Kalau tidak bobo digigit nyamuk”

9. “A Nos Enfants” & "Toujours Un Ailleurs" dari album Toujours Un Ailleurs (2015). Di dalam lagu ini, Anggun merekam suara putrinya Kirana. Rilis di Prancis dan Belgia

    “Main pasir, bikin istana, terus minum jus kelapa”

    “Main sama dek Ambar, dek Nara, dan dek Bulan

     Terus aku kangen sama eyang”

11. “Il Suffit” dari album Toujours Un Ailleurs (2015)

      “Kau seorang, kau seorang”

12. “La Mer est Sans Fin” Tri Yann feat Anggun dalam album milik Tri Yann, Marines. Dilis di Prancis

      “i can’t cross over, siapkan perahu untuk kita”


Bahasa Indonesia di Penghargaan Internasional

Mundur ke tahun 2002, World Music Award di Monte Carlo, Monako. Dalam penghargaan bergengsi ini, Anggun dipercaya membacakan nominasi Best Selling Japanese Artist dan juga Best Selling Chinese Artist. Dan kata-kata pertama yang ia lontarkan di atas panggung adalah “Selamat Malam”.

Padahal kemungkinan besar Anggun adalah satu-satunya orang Indonesia yang hadir di sana. Dan acara tersebut dihadiri oleh Alicia Keys, Andrea Bocelli, Enya, Kylie Minogue, Shakira, Enrique Iglesias, dan lainnya.

Kosakata Bahasa Indonesia dalam Video Klip Lagu Prancis

Sekitar tahun 2000, Anggun membuat sebuah video klip untuk lagu berbahasa Perancis-nya berjudul “Un Geste D’amour”. Disutradarai oleh Jean Baptiste Erreca dan berlokasi di Rio De Janeiro, Brazil, Anggun memasukkan kosakata bahasa Indonesia. Mulai dari "Cinta", "Apa?", "Di mana?", "Sekarang", "Ragu".

Lagu ini merupakan lagu Perancis urutan kedelapan yang paling sering diputar di seluruh radio-radio Perancis selama tahun 2000 (Menurut Francophonie Diffusion). Dan single ini tembus dalam 100 French Single Chart saat itu dengan berhasil mencapai posisi 62 dan bertahan selama 7 minggu. 

Bubuy Bulan di Televisi Perancis

Di setiap wawancara kepada media asing, jika diminta untuk menyanyikan lagu tradisional Indonesia, pasti Anggun menyanyikan Bubuy Bulan. Di sebuah stasiun televisi bergengsi di Perancis, yaitu France2, Anggun menyanyikan lagu Bubuy Bulan diiringi dengan dentingan piano. Klik disini untuk melihat video.

Asia’s Got Talent

Ajang pencarian bakat terbesar di dunia ini diisi oleh bakat-bakat dari seluruh Asia. Adalah Jay Park, David Foster dan Anggun sebagai jurinya. Tak jarang, jika ada kontestan dari Indonesia, Anggun selalu berkomentar dalam bahasa Indonesia. Acara ini disiarkan oleh AXN Asia yang tayang di 18 negara Asia.

Anggun, Jay Park dan David Foster (Foto : Elle Malaysia)

Menyanyikan Lagu Indonesia di TV Amerika

Pada tahun 1999, Anggun melakukan tour ke Amerika dan mempromosikan albumnya Snow on Sahara. Dalam acara Sessions at West 54th (yaitu program televisi musik yang juga pernah diisi oleh The Cranberries, Sheryl Crow, Macy Gray, Natalie Merchant), Anggun bernyanyi lagu berjudul “Selamanya” yang liriknya berbahasa Indonesia.

Lagu Malam Kudus di Televisi Italia

Memang bukan pertama kali Anggun diundang ke Italia untuk acara musik spesial Natal, bahkan Anggun sudah bertemu dengan Paus John Paul dan Paus Benediktus XVI.

Saat ke-4 kalinya diundang untuk Concerto di Natale, Anggun menyanyikan lagu Silent Night versi Indonesia. Acara tersebut disiarkan oleh stasiun televisi Italia, Rai 1.Anggun menyanyikan Malam Kudus di Assisi, Italia (Foto : satuharapan.com)

Fans Fanatik dari Eropa

Adalah Miriam Longhi, perempuan adal Rieti, Italia ini menggemari Anggun sejak tahun 1999 hingga saat ini. Dari sekian banyak fans bule Anggun, sepertinya Miriam-lah yang paling mahir bernyanyi lagu-lagu Anggun yang berbahasa Indonesia, seperti lagu Mimpi, Bayang-Bayang Ilusi, dan lain-lain.

Ia sering mengunggah video ia bernyanyi lagu-lagu Anggun dengan bahasa Inggris, Perancis, maupun Indonesia. Klik disini untuk menonton Miriam bernyanyi lagu berbahasa Indonesia.Miriam bertemu Anggun saat Anggun menghadiri acara PBB di Italia (Foto : Youtube)

Saat menerima penghargaan World Music Award dengan kategori Best Selling Indonesian Artist di Monaco, Anggun berkata, "Indonesia has never ever ever left me or my heart."