47803_42627.jpg
Foto: pxhere
Cerpen · 4 menit baca

Anggrek Kopi

Istriku tercinta, subuh tadi kepalaku pening sekali. Maka, seusai salam terakhir, kuputuskan bergegas pulang. Tanpa menunggumu. Penglihatanku kabur. Segala yang kulihat bekejaran. Tak tentu arahnya. Entah mendekat entah menjauh. Sehingga sepetang tadi kaulah yang memungut sandalku dan membawanya pulang dalam keadaan berlumur airmata. 

Maafkan aku, istriku. Sepasang sandalyang kau hadiahkan di hari jadi pernikahan kita ke empat puluh tujuh, setahun laluitu tak mampu lagi kujapitkan di antara jari-jari kaki tuaku.

Istriku tersayang, ketika malam kian larut kau tak menemukanku telentang di sampingmu, itu bukan karena aku enggan mendengarkan ceritamu. Aku hanya ingin berteman sepi. Seperti yang kau tahu, semenjak jadi wartawan sampai pensiun dari jabatan redaktur koran, aku selalu butuh kesepian untuk menulis. Malam ini aku melakukan itu untukmu. Semoga kau mafhum.

Istriku terkasih, sepagi tadi kopi buatanmu terasa terlalu pahit di lidahku. Kau lupa tak menyajikannya dengan senyum. Itu sumber kepahitan yang kurasakan di setiap teguk kopiku. Kau juga tak menemaniku minum kopi sepagi tadi. Kau buru-buru pergi ke pasar. Katamu, hari ini pasar akan terlalu ramai kalau tidak belanja pagi.

Dengan tas plastik di cengkeraman tangan, kau pergi tanpa mencium punggung tanganku. Di ambang kepergianmu, kepalaku pening. Pening sekali, istriku. 

***

Aku melipat kembali tulisan tanganmu yang tercetak di kertas kusam itu. Mataku lembab. Kumasukkan lipatan itu ke dalam amplop bergambar jantung yang kau sket dengan agak berantakan. Air merembes dari kedua sisi mataku. Menderas. Di balik selimut rumah sakit, aku memeluk erat amplopmu. Setelah itu, aku tak tahu lagi apa yang terjadi pada tubuhku.

***

Di sebuah taman, kulihat kau duduk termenung. Secangkir kopi hitam di sebelahmu. Siapa yang membuatkanmu kopi? Pasti seorang perempuan muda dengan gincu merah di bibirnya. Ah, suamiku. Kau tak ubahnya mantan pacarku ketika kuliah dulu. Doyan perempuan, batinku.

“Di taman seindah ini, aku tak menemukan keindahan lain. Parasmu memenuhi setiap peziarahan mataku. Cuma kamu yang indah, istriku. Cuma kamu yang cantik tanpa gincu. Perempuanku satu, istriku. Cuma kamu.”

Kamu menutup kalimatmu dengan seteguk kopi hitam yang nampak mulai dingin. Aku menampakkan sikap tak peduli pada kalimatmu. Sekalipun dalam hati, kebun anggrekku telah siap dipanen.

“Istriku...” Kali ini suaramu lirih, bersamaan dengan itu kau raih jari-jemariku. Kau mengamati detilnya seperti saat pertunangan kita. Itu lima puluh satu tahun silam. Matamu berhenti pada dua cincin yang melingkar di jari manisku. Kau memandanginya dengan rindu yang tak berkesudahan.

“Apa kabar anggrekmu?”

Sudah seminggu ini aku dirawat inap di rumah sakit. Banyak sekali peralatan medis yang menempel di tubuh rentaku. Nafasku sudah sepenggal-penggal, maka dokter memasang selang pernafasan di hidungku. Jika kau lihat di punggung tanganku ada bekas suntikan, itu karena aku perlu diinfus. Di mulutku terpasang selang, kata dokter itu alat bantu makan. 

Di organ kewanitaanku juga terpasang selang. Aku pipis melalui alat itu. Si Bungsu yang setiap hari pulang pergi antara rumah dan rumah sakit untuk merawatku dan anggrek pemberianmu. Seminggu ini, suami si Bungsu baru sekali ke rumah sakit. Itu waktu mengantarku. Hari-hari berikutnya tak kutemui lagi. Setiap hari, si Bungsu seorang diri menemaniku.

Si Sulung beserta istri dan kedua anaknya baru datang pagi tadi. Istrinya melarang anak-anak tak masuk sekolah. Sehingga baru di akhir pekan si Sulung bisa memboyongnya kemari.

“Istriku, kau harus segera pulang. Cucu-cucumu pasti rindu ceritamu. Si Bungsu dan si Sulung pasti sedang bingung mencarimu.”

Kau mengucapkan kalimat itu lalu pergi. Nampak begitu bergegas.  Bahkan kau tak sempat mempersembahkan punggung tanganmu untuk kucium. Sejujurnya, aku begitu merindukan kebiasaan itu, suamiku. Berlama-lama menempelkan bibirku pada punggung tanganmu.

***

Suamiku, tercinta. Kenapa kau meninggalkanku ketika waktu jelas-jelas berpihak dan mempersilakan kita berada di taman yang sama? Aku begitu ingin menahan lajumu. Ingin kupeluk erat tubuh jangkungmu yang renta sekuat tenagaku. Karena aku tak ingin kau pergi lagi, suamiku. 

Sungguh, aku kesepian tanpamu. Bahkan, sekadar mencium punggung tanganmu saja aku tak bisa. Itu membuat rinduku semakin menyiksa, suamiku. Aku ingin kamu. Aku ingin kau turut sertakan ke manapun kau pergi, suamiku. Seperti dulu. 

Suamiku tersayang, empat tahun terhitung sejak hari kepergianmu, setiap hari aku membaca suratmu. Setiap pagi aku masih menyeduh kopi dan membiarkannya dingin begitu saja di sampingku. Sebab aku tetap tak doyan kopi sekalipun seusai kepergianmu hidupku begitu pahit. Kopi tak cukup mampu mewakili apa yang mendera hatiku. Sejujurnya, aku ingin segera menyusulmu.

Suamiku terkasih, ini surat pertama yang kutulis untukmu. Dua hari dua malam aku tidak bisa tidur menulis ini. Setelah kepergianmu, aku membacai buku-buku yang berjejer di rak di sudut kamar kita. Bumi Manusia. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Kumpulan Sajak Chairil Anwar. Olenka. Gadis Pantai

Sesekali aku kliru mengutip kalimat Soe Hok Gie di Catatan Seorang Demonstran. Juga kliru menukil sajak Rendra yang lebih pas untuk orasi demonstrasi. Hehe. Makhlum, aku masih terbawa jiwa jalanan sewaktu jadi aktivis mahasiswa. 

Aku mencatat kalimat-kalimat puitis dengan tujuan di kemudian hari bisa kugunakan menulis surat balasan untukmu. Padamu, sesekali aku ingin romantis. Suamiku, kapan aku boleh menyusulmu? Aku dicekam rindu yang tak berkesudahan.

***

Pagi ini, rumah kita ramai sekali. Seperti empat tahun silam. Saat kematianmu.