Belum hilang dari ingatan kasus sate beracun di Yogyakarta yang berakhir menewaskan seorang anak. Menyusul berita seorang dokter perempuan membakar rumah pacarnya hingga menewaskan tiga orang penghuni rumah. Kedua kasus sama-sama berawal dari kemarahan kepada pasangan yang berkhianat. Kasus pertama ditinggal kawin oleh pasangannya dengan perempuan lain, kasus kedua pacar dan keluarganya tidak mau bertanggung jawab atas kehamilan pihak perempuan.

Kedua kasus tersebut menarik perhatian masyarakat luas karena pelakunya perempuan. Tetapi sebenarnya banyak kasus serupa yang pemicunya lebih sederhana, seperti gara-gara uang parkir yang nilainya dua ribu rupiah orang bisa marah, gelap mata dan berujung pembunuhan.

Bagaimana kemarahan bisa menyebabkan tindakan tidak terkendali yang berujung pada kematian orang lain? Mungkin anda pernah mendengar istilah anger management atau manajemen kemarahan. Tapi sebelum kesana ada baiknya kita memahami apa yang terjadi di otak saat kemarahan melanda. Bagaimana otak bekerja penting dipahami sehingga memudahkan kita untuk melakukan pengendalian.

Di dasar otak manusia terdapat bagian sebesar biji almond yang disebut sebagai amygdala. Terdapat sepasang amygdala di otak kita, masing-masing satu buah disetiap sisi otak.  Amygdala inilah tempat dimana emosi diberi makna, diingat dan dilekatkan pada asosiasi dan tanggapan tertentu. Amygdala adalah pusat ingatan emosional, sering juga disebut sebagai otak emosional/irasional.

Jika seseorang marah atau merasa terancam amygdala di otak akan menyala mengambil alih fungsi otak bagian lobus frontalis tepatnya di korteks prefrontal , bagian otak yang mengelola pikiran logis. Secara otomatis amygdala akan mengaktifkan respon fight-or-flight dengan mengirim pesan ke bagian tertentu dalam tubuh untuk melepaskan hormon adrenalin dan kortisol sebagai persiapan tubuh berkelahi atau melarikan diri.

Kedua hormon tersebut bersama-sama bekerja meningkatkan denyut jantung, meningkatkan aliran darah ke otot untuk memaksimalkan kecepatan dan kekuatan, meningkatkan kadar gula darah untuk menaikkan energi, melebarkan pupil mata untuk mempertajam penglihatan dan melebarkan  jalan napas untuk meningkatkan pasokan oksigen.

Saat amygdala mengambil alih kerja otak itulah segala kemungkinan tindakan di luar kendali bisa terjadi jika kita tidak segera mengembalikan fungsi berpikir logis ke lobus frontalis. Tanpa lobus frontalis kita tidak bisa berpikir jernih, membuat keputusan rasional serta mengendalikan respon. Kontrol kerja otak dibajak oleh amygdala.

Pengambilalihan fungsi tersebut oleh Daniel Goleman (1995) dalam bukunya yang berjudul Emotional Intelegent: Why It Can Matter More Than IQ disebut sebagai amygdala hijack. Menurutnya kecerdasan emosional sangat diperlukan untuk mengelola emosi serta mengarahkan perilaku dan pikiran. Kecerdasan Emosional membantu diri kita untuk mengenali, memahami dan mengelola emosi serta mengenali, memahami bagaimana emosi kita bisa memengaruhi orang lain.

Disitulah kecerdasan emosional berperan dalam respon seseorang saat menerima stimulus yang menyebabkan kemarahan. Kecerdasan emosional berperan “memaksa” otak supaya bisa kembali berpikir menggunakan lobus frontalis. Proses “memaksa” otak untuk bisa kembali berpikir jernih saat marah umum itulah yang disebut sebagai anger management.

Anger management sangat bisa dilatih supaya kemarahan tidak berakhir kepada tindakan yang merugikan atau memalukan. Anger managemen dimulai dari mengenali faktor-faktor pemicu serta tanda-tanda saat marah dan mengalami pembajakan oleh amygdala. Jika karena suatu peristiwa jantung terasa mulai berdebar, tangan berkeringat, napas cepat segeralah fokus untuk mengendalikannya.

Cobalah untuk bersikap tenang, fokus pada pernapasan. Tarik napas dan buang pelan-pelan. Tentu prakteknya tidak semudah teori. Lagi marah pol-polan kok disuruh tenang dan tarik napas buang napas pelan-pelan. Memang butuh latihan. Makanya anger management ini bagusnya dilatih dari usia anak-anak. Jika sudah dewasa baru belajar anger managemen sangat dibutuhkan konsistensi  serta niat yang kuat. Bahkan dalam beberapa kasus dibutuhkan bantuan profesional.

Dalam Islam dijelaskan mengenai bagaimana cara meredakan kemarahan. Jika saat marah dalam posisi berdiri upayakan untuk segera duduk, jika dengan duduk belum reda maka berbaringlah. Disarankan juga untuk mengambil air wudhu. Langkah-langkah sederhana tersebut bisa kita maknai sebagai usaha mengembalikan fungsi kontrol otak dari amydala ke lobus frontalis.

Perlu juga dipahami beberapa kasus kesehatan mental bisa memperberat proses pengendalian amygdala hijack. Diantaranya yang umum ditemui adalah pada seseorang yang mengalami stress dan kecemasan, ditandai dengan kekhawatiran berlebihan, perasaan tidak nyaman, perasaan tegang, sakit kepala, sakit tubuh, tekanan darah tinggi, sulit tidur. Jika sangat mengganggu maka diperlukan bantuan profesional untuk meredakan kasus kesehatan mental yang ada sebelum berlanjut menjadi gangguan serius.

Dunia modern yang penuh dengan stres seperti sekarang ini membuat kita harus lebih memperhatikan kesehatan mental. Hindari stressor-stressor yang tidak perlu supaya otak kita tidak berada dalam respon fight and flight.  Jika otak dalam situasi respon fight and flight berkepanjangan maka bisa jadi satu peristiwa tertentu langsung menyebabkan terjadinya amydala hijack yang berujung pada hal yang merugikan. Tidak hanya merugikan dalam jangka pendek tetapi bisa jadi seluruh masa depan gelap gara-gara gelap mata sesaat.

Lelitasari-Bogor, 22 Agustus 2021