16724_87548.jpg
Dok. Pribadi
Puisi · 1 menit baca

Aneh

Aku

Aku yang juga bukan aku
Bangsat sekaligus keparat
Penyuka gundah dalam kepastian
Penikmat keputusasaan dalam keputusan

Aku lenyap, lelap menahan tawa
Sakit dalam rasa kasihmu
Kasihan, aku kasihan padanya
Bunga-bunga yang malang

Kusiapkan dua gelas kopi panas
Pemuas dahaga yang bertenaga
Kusiram pada sekuntum bakung putih
Lenyaplah engkau dari tempat busuk ini!

Tapi bunga bersikeras tetap segar
Dua belas hari kemudian, aku coba untuk lari
Sembunyi dibalik alang-alang rindu
Menepi sesaat ditelaga kehampaan makna

Mencari, memaki dan menari dengan keabadian
Anggur merah berceceran diatas meja
Aku adalah kucing basah
Yang kau usir dengan siraman keras, adinda*


Malam

Lonceng tua dipukul berbunyi
Cicak berdecakan
Satu, dua dan tiga, BOOM!
Ada yang meledak, juga enak

Rasa takut berlarian dari dahi
Empat belas menit mengaduh
Diluar, dibalik dinding tipis
Angin menabrak ramai-ramai

Cahaya remang membias dari jauh
Tokek berbunyi enam kali
Diluar gubuk, lampu sentir menyala
Oranye redup dan bau minyak tanah

Terkesiaplah aroma hujan
Tanah basah beraroma pandan
 Dingin jadi selunak agar-agar
Seperti bibirmu yang aku coba sentuh

Jangan engkau berkata tidak
Berkata ya, juga engkau jangan
Satu, dua dan tiga kau tertawa
Ada cermin perak di kakimu

Telingaku sakit sebelah
Berdenyut empat kali
Mataku sepat merindu bayang
Engkau yang ada disini

Saya, engkau, jangan lari!
Saya, engkau jangan sembunyi!
Mencari, mengitari, menghindari
Memaki, mendiam dan membumi*


Kepala

Kepalaku sakit sejak malam
Perutku panas dikepung lapar
Burung-burung berisik mencicit
Bak pulsa listrik yang habis pakai

Pusing, kecewa dan sedih
Penyesalan pun silih berganti
Andaikan waktu itu.. kalau saja aku..
Bebas makna, hidup dekonstruksi

Gatal, gatal, rambutku gatal!
Pening, pusing, hebatnya tujuh keliling.
Kemarin, kini atau esok sama saja
Mengulangi berulang-ulang

Benci, benci benci!
Aroma pagi seperti canda
Siang begitu fana
Dini hari begitu nyata

Bangsat! Hidupku tak kunjung jelas
Meneguk gelisah tiada habisnya
Meringkuk dalam penjara kebebasan
Nisbi alami, oh semesta..

Kenapa pula aku harus pusing?
Kenapa juga beta harus pening?
Kenapa juga mesti berpikir?
O tuan, resiko punya kepala!*


Luka

Dua pasang sepatu kulihat
Didepan kamar kos kekasih
Mendadak lupa, mendadak tertawa
Mendadak berduka

Mendera sakit tanpa tanda
Erangan manja menggema teduh
Serangan asmara, menggeliiat menelisik
Memasuki dan merasuki lubang kunci surga

Sepasang sepatu asing
Sepasang wedges pemberianku
Khianat terindah yang tak berbayang
Di balik kos mu, juga dibalik kausmu

Pukul dua siang
Kuputuskan dalam sukma
Perasaanku terbelah dengan nyaman
Membara dalam tungku kepercayaan

Enyahlah waktu, pergilah membatu
Biarkan aku meragu seribu dalam perih
Sejenak menikmati indahnya kepalsuan
Seperti bibirmu yang adalah candu