Juga, Andesit memiliki makna lain. Bisa ditelaah dari kedua suku katanya, yakni A dan Ndesit.

A Ndesit

Layah dan ulekan ini peninggalan nenek saya, mulai digunakan mengulek aneka bumbu dapur penyedap masakan sejak awal tahun 1960-an, jauh sebelum saya dilahirkan. Sebelum tahun 2000-an, layah dan ulekan menggunakan bahan dari batu sungai asli, jenis Andesit.

Andesit tak hanya menunjukkan jenis batuan unik yang berasal dari mineral alihan vulkanik gunung berapi, bermetamorfosa alami menjadi bebatuan yang kuat, kokoh memiliki kemampuan gerinda yang tinggi, termasuk menggerinda bumbu-bumbu dapur.

Juga, Andesit memiliki makna lain. Bisa ditelaah dari kedua suku katanya, yakni A dan Ndesit. Sudah jelas, bahwa A berarti huruf awal dari keduapuluh lima huruf abjad. Sementara, Ndesit itu berupa ungkapan untuk menunjukkan hal-hal yang berbau pedesaan, Ndeso.

Ndeso itu kata ganti, pronomina. Sedangkan Ndesit itu kata sifat, adjective. Ndesit karena kata sifat, maka maknanya lebih dalam dibanding Ndeso. Termasuk ketika digunakan sebagai ungkapan perasaan. Misalnya seperti ini;

"Meski sudah lama tinggal di kota besar, gaya kamu itu ya nggak papa tetep Ndeso. Tapi jangan terlalu Ndesit."

Atau begini;

"Jadi ini Pak, draft desain interior untuk rumah bersuasana desa. Ada halaman luas dengan aneka tanaman dan pohon teduh bertanah lempung yang nantinya bisa menuai suasana Ndeso. Juga ini Pak, ada penataan bagian dapurnya ada tungku tanah liat buat kayu bakar, lalu ada pogo di atasnya buat menyimpan tetek bengek blekethekan, sengaja disain dapurnya dibuat Ndesit."

Bisa juga seperti ini;

"Potongan rambutmu itu sebenarnya terlihat alami, Ndeso. Tapi nggak usah pakai kacamata hitam gitu lah, nanti malah kelihatan Ndesit."

Jadi, Ndesit itu lebih mengungkap karakter yang mendalam dibanding dari sekedar penampilan luar yang terlihat Ndeso. Istilah lainnya, maka Ndeso itu masih biasa. Ndesit jika sudah kebangetan.



…sifat Ndesit mengajarkan pemiliknya untuk cinta rumah, sayang Keluarga.

Black Sweet

Kembali ke urusan layah dan ulekan berbahan batuan Andesit, maka sudah terbukti jika alat masak ini yang dibuat sebelum tahun 2000-an, bahkan jauh sebelumnya era sebelum tahun 1970-an, kualitasnya sangatlah prima.

Tak hanya kokoh namun juga perpaduan besar ulekan yang ramah dan ergonomis bagi genggaman kebanyakan orang Indonesia, serta penampang luas layah yang tepat sebagai wadah aneka bumbu masakan yang hendak dihaluskan, telah berkontribusi menjadikan olahan masakan jauh lebih sedap.

Batuan Andesit telah menyumbang cita rasa masakan menjadi lebih Ndesit, berupa hasil olahan masakan yang memiliki karakter tersendiri.

Sebuah karakter yang melekat dalam cita rasa masakan olahan rumahan yang nikmatnya kebangetan. Andesit turut mengajarkan sebuah makna, bahwa sifat Ndesit mengajarkan pemiliknya untuk cinta rumah, sayang Keluarga.

Sementara, kualitas produk layah dan ulekan buatan tahun 2000-an jarang berbahan dasar Andesit. Entah karena batuan ini mulai langka atau dilindungi. Atau mungkin karena nama Andesit itu ada Ndesit-ndesitnya.

Sering kali layah dan ulekan era millennial terbuat dari campuran batu dan semen. Lebih banyak semen dari penampakan warna yang keabuan dibanding batu Andesit yang lebih black sweet.

Kualitas layah dan ulekan berbahan campuran semen juga memengaruhi kualitas gizi masakan.

Apabila digunakan batu Andesit sebagai penghalus bumbu dapur, maka remah batuan yang turut tergerus bercampur dengan aneka bumbu, berkualitas lebih alami seperti Alkali, Alkali tanah, Silikat juga sebagian logam transisi semacam besi, adalah mineral-mineral alami.

Sedangkan semen yang terbuat dari bahan tambahan berupa sisa pembakaran batu bara dari tungku pembangkit listrik, tentu tak sealami batuan Andesit.

Sekali lagi, Ndesit itu mewakili sifat yang lebih alami.



Sepadan makna kebahagiaan sebagai sebuah dambaan dalam menjalani kehidupan.

Awal Kehidupan

Dalam kondisi mendesak ketika mengharuskan saya turun tangan memasak nasi goreng buat sarapan pagi misalnya, maka sedapat mungkin saya gunakan layah dan ulekan buat menghaluskan bumbu-bumbu. Tak hanya dirajang lalu ditumis. Kurang menantang jika memasak hanya memainkan keahlian merajang dan menumis semata.

Orang Ndesit memang lebih suka tantangan.

Demikian juga ketika saya harus menggantikan peran istri yang tadinya mengulek bumbu kemudian ada panggilan mendadak dari pengurus RT buat membahas metode efektif penarikan iuran Satpam.

Tipikal saya ketika mendapat amanah mengulek bumbu, maka semua yang di hadapan saya bakal saya ulek tanpa kompromi.

Pernah mendapat amanah menghaluskan bumbu soto. Semua bumbu saya haluskan, termasuk jahe. Jadilah soto bersensasi wedang jahe. Akhirnya berbuah tantangan untuk memperbaiki cita rasa soto agar kembali seperti soto sebagaimana layaknya.

Orang Ndesit memang mampu memicu penyelesaian sebuah tantangan.

Sebagai pria, pertama kali mencoba mengulek bumbu menggunakan layah dan ulekan batu Andesit, pasti terlihat kaku. Tak hanya telapak tangan yang menggenggam ulekan saja yang bergoyang, tapi juga sekujur badan saya ikutan bergoyang-goyang.

Namun seiring pengalaman dan kerja keras tekun belajar, lalu irama ulekan saya pun menjadi luwes. Lemah lembut bagai harimau sedang kelaparan.

Orang Ndesit itu memang berkarakter tekun.

Layah dan ulekan berbahan Andesit memang lebih disarankan untuk digunakan sebagai bagian alat masak pengolah hidangan yang membahagiakan. Sepadan makna kebahagiaan sebagai sebuah dambaan dalam menjalani kehidupan.

Bukankah sebuah kehidupan diawali dari proses ulekan di dalem layah?

Halah.

Baca Juga: Dilema Kehidupan