Andaikan Shakespeare orang Surabaya, mungkin ia mewarisi keberanian dan kekerasan kepala penduduk lokalnya. Seperti dalam goresan tinta merah sejarah, Surabaya merupakan wujud nyata tanah jihad dan lahan hakiki perjuangan umat. Tanpa mengenal kasta, tanpa aling-aling budaya hingga tak perlu lagi memandang agama.

“Lebih baik Surabaya banjir digenangi darah, daripada harus kembali dijajah,” begitu kata Bung Tomo kala itu lewat frekuensi-frekuensi pendek gelombang radionya. Kalimat yang lugas, singkat padat, dan jelas. Tapi, dampaknya membuat bulu kuduk menggigil luar biasa. Apalagi, bagi arek Surabaya yang entah bagaimana, kata “jancuk” sampai punya nilai romantisme tersendiri.

Andaikan William Sheakspeare orang pantai utara Jawa, mungkin ia akan jadi pengagum, pecinta, sekaligus pendamba kedalaman makna tembang “ilir-ilir” Sunan Kalijaga. Berjam-jam ia akan merenung untuk kemudian meneguk seteguk kopi khas Lasem yang konon tidak ada duanya itu.

Bahkan barangkali ia akan sering bersilaturahmi pada Kanjeng Sunan Kalijaga. Berdiskusi, bertukar pikiran karena sepertinya keduanya tahu, mereka berjuang dengan metode yang hampir sama untuk tujuan yang mungkin sama pula.

Shakespeare dan Tembang Ilir-Ilir

William Shakespeare, seorang penulis berkebangsaan Inggris yang seringkali disebut orang sebagai salah satu sastrawan terbesar di negerinya. Karya-karyanya melegenda dan telah diterjemahkan ke dalam hampir semua bahasa di dunia.

Kisah romantis Romeo dan Juliet serta tragedi Hamlet hanyalah secuil dari kekayaan intelektual yang ia tinggalkan pada kita saat ini. Hingga tak jarang, kutipan-kutipannya laris-manis dijadikan rujukan untuk berpikir, merenung, untuk kemudian merealisasikannya dalam tindakan.

Suatu ketika Shakespare berkata, “Bumi ini memiliki melodi bagi mereka yang mau mendengarkan.” Melodi? Ya, melodi. Melodi memanglah sebatas me·lo·di, suatu susunan tiga nada atau lebih dalam musik yang terdengar berurutan secara logis serta berirama dan mengungkapkan suatu gagasan bila dimaknai secara sempit.

Lebih dari itu, melodi sering dikenakan orang untuk menggambarkan retorika. Utamanya dalam kehidupan, suatu lika-liku perjalanan hidup. Bahkan jika lebih global lagi, melodi adalah suatu keindahan yang harus disadari dalam kondisi terburuk sekalipun.

Kanjeng Sunan tampaknya paham benar melodi bumi yang tengah ia injaki. Melodi indah bernama ibu pertiwi. Melodi itu sudah berbunyi sejak dulu. Keindahannya sudah nyata di depan mata. Tapi sayang, penduduknya masih membutakan diri. Tidur. Tak peduli sedikit pun.

Lir-ilir, ilir-ilir, tandure wes sumilir. Bangunlah, kamu, bangun! Menggeliatlah, kamu, dari matimu! Bangunkanlah akal pikiran, bangunkanlah hati nuranimu! Lihatlah, sawah-sawahmu sudah menghijau,” tutur Kanjeng Sunan kala itu menerjemahkan melodi alam.

Wayang dan Panggung Sandiwara Shakespeare

Shakespeare hidup di zaman Renaisans Eropa, era hidup kembalinya pembelajaran klasik, kecintaan terhadap seni, musik, dan arsitektur. Suatu dunia yang kolot seperti bangkit dari duduk bersimpuhnya.

Eropa mulai menggeliat. Banyak di antara mereka mulai belajar membaca, banyak juga yang tidak ingin tinggal di kelas sosial tempat mereka dilahirkan. Banyak petualang Renaisans menggunakan cara mereka sendiri untuk mengembangkan kehidupan mereka. Shakespeare adalah salah satu dari orang-orang tersebut.

Shakespare sudah berjuang. Ia telah menuliskan 38 sandiwara tragedi, komedi, sejarah, dan 154 sonata, 2 puisi naratif, dan puisi-puisi lain. Satu yang istimewa dari karya Shakespeare adalah topik yang diangkat beragam, mulai dari roman komik hingga perang saudara, dari permainan domestik hingga kejadian politik.

Namun sejatinya semua berawal dari kegelisahan yang sama. Apa artinya untuk hidup? Bagaimana cara kita hidup? Apa yang harus kita lakukan? Sandiwara Shakespeare menawarkan pemahaman yang mendalam terhadap pertanyaan-pertanyaan itu.

Mempelajarinya ibarat mempelajari hidup dari berbagai sudut pandang: psikologis, politis, filosofis, sosial, spiritual. Memainkan peranan sandiwara Shakespeare di panggung membuat seseorang menyadari seberapa dalam seseorang harus menarik nafas supaya suaranya dapat terdengar sampai ujung ruangan.

Andaikan Shakespeare orang Jawa, mungkin ia tidak akan pernah mementaskan sandiwara sarat emosi, Romeo dan Juliet-nya. Tapi mungkin lebih dari itu, ia akan meramaikan dunia pewayangan Jawa. Menceritakan romantisme Rama dan Sinta beriringan melodi gamelan. Bahkan mungkin akan ada satu dimensi kegelisahan yang akan muncul saat ia mementaskan wayang. Dimensi sesudah mati: akan ke manakah kita kelak?

Seperti wayang-wayang yang dipentaskan Kanjeng Sunan, cerita-cerita pewayangannya kemudian dikumpulkan dalam kitab-kitab cerita wayang yang sampai sekarang masih ada. Jimat Kalimasada, Dewa Ruci, Petruk Jadi Raja dan Wahyu Widayat untuk menyebutkan beberapa mahakarya Kanjeng Sunan, yang semuanya menjadi alat bagi Sunan untuk memberi pembelajar pada masyarakat.

Andaikan Shakespeare orang Jawa, mungkin ia akan ikut memberikan sumbangsih kejenakaan karakter dalam tokoh Punakawan. Karena semua orang tahu, dia punya selera humor yang cukup bagus.