36862_88644.jpg
https://tirto.id/dilan-1990-tembus-37-juta-penonton-dalam-12-hari-tayang-cEob
Hiburan · 3 menit baca

Andaikan Dilan Anak Pesantren

Andaikan Dilan anak pesantren, misalnya Pesantren Gontor, niscaya dia mengerti sedikit banyak bahasa Arab.

Dilan akan tahu membedakan antara sapaan untuk laki-laki atau sapaan untuk perempuan. Dengan begitu, Dilan justru akan memakai khitab muannas "iqrai" (اقرئي) kepada Milea saat serah-terima surat pendekatan, dan tidak bilang "iqra" (اقرأ).

Tapi, apakah akan selucu muka datar Dilan yang non-santri yang lupa kata ajaib yang sempat bergaung di Gua Hira itu? Entahlah!

Andaikan Dilan anak pesantren, mungkin dia tidak akan terlalu leluasa berkomunikasi dengan Milea. Bagaimana mungkin, dalam setting tahun 1990an itu, tidaklah mudah bagi santri pesantren untuk menelpon rumah, apalagi pacar.

Petugas wartel pesantren pasti akan mencuri-curi dengar tentang apa, bagaimana, dan dengan siapa dia bicara. Sekali dia ketahuan menelpon lawan jenis non-keluarga, niscaya Dilan akan disidang.

Andai Dilan anak pesantren, lebih tidak mudah lagi berkirim dan menerima surat kepada dan dari Milea. Keluar-masuknya surat akan disensor bagian keamanan.

Dan sekali ketahuan berkirim surat cinta, niscaya Dilan akan dipersoalkan. Dengan demikian, rindu Dilan tidak hanya berat, tapi akan amat sangat maha berat. Belum tentu rindu itu akan tertanggung oleh sosok setegar Dilan!

Satu-satunya peluang Dilan untuk melepas rindu adalah saat liburan. Itu pun hanya dua kali dalam selang setahun. Dan kemungkinan, pandangan dunia Dilan tentang hubungan laki-perempuan pun akan berubah.

Dilan kemungkinan sudah mengenal konsep kholwat. Betapa terlarangnya berkholwat dengan lawan jenis karena wujudnya orang ketiga berupa setan yang akan menggoda mereka yang dimabuk asmara untuk bermaksiat.

Dilan kemungkinan tidak akan seberani Dilan yang non-santri. Dilan mungkin akan keluar keringat dingin saat menyapa perempuan yang bukan mahromnya.

Dia tidak akan berani berpegangan apalagi berpelukan dan berciuman. Andaipun mereka berboncengan, Dilan akan berpikir bahwa antara dirinya dan Milea ada setan yang menumpang. Betapa berat tarikan motornya untuk bonceng tiga. Dan betapa tidak romantisnya!

Besar kemungkinan pula Dilan tidak akan terlibat geng motor. Jangankan ikut geng motor, memakai celana jins dan jaket begituan pun Dilan akan merasa berdosa. Dilan akan memakai celana bahan dan akan lebih sering pula mengenakan baju takwa.

Getar asmara boleh jadi akan terjadi saat liburan, di lingkungan masjid, saat subuh berjamaah, tarawih, atau tadarus Ramadan. Apakah getaran asmara itu lebih lemah ketimbang saat Dilan menyerahkan hadiah ulang tahun untuk Milea ketika mata pelajaran sedang berlangsung di SMA? Entahlah. Dalam lautan dapat dikira, getar asmara siapa yang tahu?

Andai Dilan anak pesantren, bukan hanya Milea yang naksir dirinya. Kemungkinan kakak kelas laki-laki yang melihatnya imut pun mungkin akan tergetar.

Dilan yang asal Bandung tentu akan banyak didekati dan ditraktir kakak kelas yang juga haus asmara. Dan ada pula kemungkinan Dilan akan mondar-mandir di depan rumah Pak Kiai, sekadar untuk memastikan Halimah atau Fatimah ada di rumah.

Kalau perlu, Dilan akan berdoa maksimal agar diangkat menjadi sekretaris yang mengelola dapur keluarga Pak Kiai. Interaksi dengan lawan jenis, sekalipun dengan Simbok dapur yang setengah manis akan sangat berharga. Percayalah!

Andai Dilan anak pesantren, dia pasti akan menjadi favorit untuk kegiatan muhadharah alias pidato. Kalaupun tidak sedang bertugas sebagai pembicara, dia mesti akan diminta mengambil istinbath alias kesimpulan dari pidato kawan-kawannya yang sedang bertugas. Saat itulah dia bisa menjadi singa podium atau singa di meja karena dibolehkan naik meja untuk orasi yang berapi-api atau sekadar stand-up comedy.

Andai Dilan anak pesantren di tahun 1990an, kemungkinan dia pun akan ngefans kepada Imam Khomaini. Ketika itu, tensi Sunni-Syiah tidak senorak sekarang. Dan para santri memandang Khomaini sebagai simbol Revolusi Islam yang berhasil menumbangkan rezim Shah Iran yang lalim dan sekuler.

Kemungkinan pula, Dilan akan aktif ikut pengajian di Masjid Salman Bandung, kalau kuliah di sana. Kalau dia pintar, dia akan membaca buku-buku Murtadha Mutahhari atau Ali Syariati atau bahkan Fazlur Rahman.

Apakah dia akan menjadi Syiah, kawin mut'ah dengan Milea dan seterusnya? Entahlah. Sebaiknya saya dan Anda tidak usah terlalu jauh berfantasi dan berspekulasi.

Andai Dilan anak pesantren, apakah dia akan ikut bertutur dengan ungkapan akhi-ukhti, meminta Milea berhijab dan menikah dini agar segera halal? Apakah dia akan ikut halaqah dan kegiatan usrah atau menjadi mentor bagi kawan-kawannya dari sekolah umum yang haus agama? Entahlah. Kita tidak pernah tahu trajectory alias tikungan-tikungan kehidupan yang pasti akan dilalui seseorang.

Sampai di sini, saya sudahi saja catatan ini sebelum melantur dan tersesat terlalu jauh. Ini hanya coretan seorang penonton film Dilan 1990 yang galau dan gatal ingin menulis tapi melihat sudah terlalu banyak ulasan tentang Dilan dari segala segi.

Semoga coretan ini berguna, karena yang baik datang dari Allah, yang kurang baik datang dari diri saya pribadi.

Yang jelas, Dilan yang santri pasti akan berbeda dari Dilan yang sedang tayang sekarang. Dan belum tentu seasyik ini!

Yang perlu disyukuri, banyak juga masyarakat Indonesia yang ngefans dengan Dilan alamiah yang sudah ditonton 5 juta orang itu, bukan al-akh Dilan atau Dilan yang saya atau kita bayangkan sebagai santri. Bukankah begitu, bukan?