Andai di negeri ini toa gereja kami dapat kami putar sekencang punya mereka, maka nenek dan kakek kami di rumah yang tak mampu ke gereja akan sangat bahagia mendengarkan lantunan kitab suci kami. Andai saja.”

Indahnya hidup di negeri Indonesia ini. Hidup sebagai mayoritas yang memiliki banyak sekali kemewahan dan hak istimewa dari tanah pertiwi ini. Meski mereka dapat memiliki dan melakukan banyak hal, namun kami tidak akan pernah iri.

We know it so well that we are the minority in this country, being jealous will never solve the problem. That’s why we never feel jealous, our condition didn’t allow us to do that. 

Di setiap penjuru negeri ini, dari ujung timur ke barat, serta ujung selatan ke utara, terdengar lantunan ayat-ayat suci mereka yang sangat merdu bagi pendengar agama pemeluknya.

Sebagai agama mayoritas, mereka punya hak untuk menggunakan toa hingga terdengar ke seluruh pelosok sudut. Bahkan apabila dibandingkan dengan lantunan lagu-lagu gereja kami, suara toa kami pasti tidak akan ada suaranya. Lenyap dimakan suara yang lebih lantang.

In this country, toa kami malah hanya untuk dalam gereja saja. Tak pernah sampai ke telinga orang-orang di luar sana. Sifat toa kami adalah ke dalam, tak seperti mereka yang bisa ke dalam, ke luar dan seluar-luarnya. Because we know that, they’re the majority. The minority should understand it.

Meskipun demikian, kami tetap tidak menyimpan rasa benci. Bagi kami, mendengarkan lantunan ayat suci mereka adalah cara kami untuk membahagiakan saudara setanah air kami sendiri. Our religion teaches us to do that.

Kami memang selalu sadar diri bahwa kami bukan mayoritas dari negeri ini. Oleh sebab itu, kami tak pernah ingin menuntut banyak. Asal sudah diberikan izin membangun gereja tanpa toa yang bersuara pun kami sudah sangat bersyukur.

Bernyanyi hingga akhir ibadah pun sudah sangat bagus bagi kami. Pulang dengan aman, berkumpul kembali dengan keluarga. Tanpa harus takut dan was-was sewaktu-waktu gereja kami diserang teroris yang begitu membenci tempat ibadah kami.

Di negeri yang menjadikan kami minoritas ini, kami tetap diajarkan untuk bersyukur dan berterima kasih. Kitab kami senantiasa mengajarkan untuk senantiasa berbuat baik walau ia adalah seorang musuh yang sangat membenci diri kita sendiri.

Walau mereka telah menghancurkan gereja kami, agama kami selalu meyakinkan kami untuk tetap bisa memaafkan mereka. Walau tak mudah, namun kami harus tetap memaafkan. Meskipun luka kehilangan orang tercinta akibat aksi jihad mereka masih belum sembuh dari hati ini.

Bulan penuh rahmat sang mayoritas telah tiba. Toa di masing-masing tempat ibadah mereka setiap hari dan malam tak pernah sepi. Sungguh luar biasa kesungguhan ibadah mereka untuk mengejar pahala sebesar-besarnya.

Sungguh bahagia nasib mereka sebagai penduduk mayoritas. Bisa memainkan toa kapan pun mereka mau. Untuk membaca ayat suci mereka pun bisa mereka lakukan dengan toa, sehingga dapat didengar oleh siapa pun termasuk kami.

Hingga pernah terbesit sebuah khayalan yang hanya akan tetap menjadi khayalan. Seandainya saja gereja kami dapat menggunakan toa sekeras punya mereka, maka kami akan sangat senang sekali. Alangkah indahnya duduk-duduk di rumah sambil mendengar lagu-lagu rohani dari agama kami.

Unfortunately, kami juga tentunya harus segera sadar diri. Jumlah kami sangatlah sedikit. Kami adalah penduduk minoritas. Tak bisa berbuat dan menuntut banyak. Oleh karenanya, gereja kami tak pernah henti memberikan nasihat agar tetap sabar dan tidak boleh mendengki kepada milik orang lain.

Kami akan terus bersyukur dalam berbagai keadaan. Mereka adalah saudara setanah air. Dengki dan iri hanya akan merobek bendera merah putih yang dulu pernah diperjuangkan mati-matian oleh para pahlawan proklamasi.

Tak masalah toa kami tak dapat bersuara keras seperti toa yang mereka miliki. Kami selalu percaya, tanpa toa pun Tuhan telah dapat mendengarkan doa kami dengan jelas dan tepat, tanpa ada satu kata pun yang meleset. We always believe that. 

Menjadi mayoritas memang menyenangkan. Namun, bersabar dan menerima keadaan bahwa kami adalah golongan minoritas adalah suatu hal yang jauh lebih menyenangkan. Karena cara itulah yang akan membuat tiang bendera merah putih tetap tegak.