Penulis
3 tahun lalu · 246 view · 3 min baca · Gaya Hidup woman-offering-tea-sudan_unamid_flickr_ne.jpg
Seorang penjual teh / kopi di Sudan sedang bekerja melayani pembelinya (sumber: Google.com)

Andai Tak Ada Kafein di Sudan

Dear Quretaholic, para pembaca Qureta yang budiman.

Sepulang kuliah, sering kali saya memilih meluangkan waktu barang satu jam-dua jam ngangkring di warung-warung dadakan yang banyak ditemui di sepanjang jalan raya menuju basecamp. Mayoritas penjualnya adalah perempuan- perempuan imigran dari Ethiopia. Kopi yang biasa saya pesan pun khas Ethiopia. Bagi penikmat kopi tentu tahu bagaimana kopi Ethiopia selalu tidak pernah gagal menawarkan cita rasa khasnya.

Tampilan warung dadakan yang terkesan sederhana pun tidak jadi masalah bagi saya, dan saya kira seluruh pribumi Sudan. Hampir setiap warung yang saya temui tidak pernah sepi pengunjung. Maklum, minum segelas kopi atau ja bana dan teh atau syaiy di sini merupakan kebiasaan yang sudah menjadi budaya yang mereka lakoni pagi, siang dan malam.

Tidak jarang dalam aktivitas menjalani makhluk sosial di warung-warung itu, saya larut dalam perbincangan mulai soal politik, ekonomi, budaya hingga tidak jarang berujung pada transaksi-transaksi undangan diner dengan pribumi Sudan yang mayoritas ramah, santun, sederhana, sufi dan moderat.

Sebenarnya, untuk urusan tema perbincangan, sebagian pribumi terkesan menghindar jika sudah mengarah pada tema politik. Sebab bagi mereka, politik itu hanya angin lewat, tidak begitu penting dan berpengaruh dalam sirkulasi kehidupan pribadi dan keluarga mereka. Dan segala hal yang tidak pernah menyita pikiran mereka adalah politik.

Mereka tidaklah hidup dalam bayang-bayang kampanye politisi. Sering kali acuh bahkan. Dan kerap jika saya membuka pembicaraan mengenai politisi ini atau itu, mereka jawab dengan enteng dan guyon, “Hello, mereka hanya terlihat serius saat dimimbar, tapi ndak bisa seserius kita saat minum teh.”

Politik tidak pernah membuat mereka benar-benar bertengkar. Mungkin karena gaya pikir mereka yang nyufi? Politik adalah sederet urusan duniawi yang ‘mampir ngombe’?  hanya wak kaji yang tahu!

Ketiga tema tersebut memanglah sering lalu lalang dalam pembicaraan. Namun tak sepenuhnya mereka anggap serius melebihi keseriusan mereka menikmati secangkir kopi maupun teh. Meskipun secara lahiriah mereka menjalani kehidupan serba terbatas, namun siapa sangka kebahagiaan mampu mereka dapatkan justru dengan cara yang sederhana?

Kadang saya dibuat heran oleh pribumi Sudan. Jika saya bandingkan secara teori ekonomi, mereka yang tergolong usia produktif, begitu betah berlama-lama di warung dibanding bekerja extra-time untuk mengumpulkan uang. Tampaknya teori-teori saya itu harus dijungkir balikan pada fakta bahwa saya sering ditraktir. Ha ha ha

“Tidak ada yang lebih menunjukan status ekonomi seseorang di Sudan ini, sebelum ia minum kopi dan teh secara rutin di pagi, siang dan malam hari.”

Ngopi adalah bahasa kebudayan mereka. Tidak ada yang lebih mewakili keserasian mereka dalam berbudaya, bertabiat, berinteraksi sosial dan bernegosiasi secara jantan kecuali mereka tunjukan hanya di warung-warung sambil minum kopi atau teh.

Bahasa terbaik untuk meminta maaf saat kita punya salah dengan seseorang adalah cukup dengan mengajaknya ngangkring, traktir minum kopi atau teh di pinggir jalan. Separah apapun masalah mereka. Para pembaca, akan dibuat bingung jika kedapatan di jalan melihat dua orang yang bertikai soal tabrakan mobil yang lantas lima menit kemudian mereka saling tertawa terbahak-bahak begitu lepas di warung sambil ngopi bareng. Sumpah!

Mereka hidup sebagai manusia yang utuh di warung-warung dadakan sederhana itu. Tidak ada kekerasan, tidak ada paksaan dan hidup dalam toleransi sosial yang natural. Seseorang berhak menuntut hak-hak mereka di warung kopi, seperti berpendapat, menyanggah atau nambah gula. Namun mereka tidak mengabaikan kewajiban mereka sebagai manusia yang hidup berdampingan, beragama, bersuku dan berbudaya luhur.

Saya harus bercerita, soal toleransi, mereka yang sufi itu, sah-sah saja dan merasa aman-aman saja saat diladeni penjual kopi atau teh dari perempuan Ethiopia yang mayoritas non-muslim itu. Mereka juga tidak berat meninggalkan warung dan perbincangan saat adzan berkumandang untuk melaksanakan sholat di masjid, lantas setelahnya lanjut ngopi lagi. ngobrol lagi. nggedabrus lagi. ngakak lagi.

Mereka tidak pernah membuat jarak. Misalnya, antara perokok aktif maupun pasif. Keduanya mengambil sikap pribadi dan bijak. Mereka tidak pernah mempertentangkan hukum secara serius, kecuali ujung-ujungnya tetep santai, penuh kemesraan dan ngopi lagi.

Di negeri yang secara lahiriah serba kekurangan ini, saya tidak berhenti-hentinya terus merenung, andaikan tidak ada warung dadakan yang sederhana itu, lantas dengan cara apalagi mereka mampu menampung setiap pahit kehidupan yang harus mereka jalani bertahun-tahun tanpa perenggangan?

Saya bayangkan jika pemerintah dengan arogan menutup paksa seluruh warung-warung dadakan itu. Barangkali akan ada demonstrasi besar-besaran. Revolusi jasmine dan Arab Spring jilid dua akan dimulai dari sini. Orang-orang dengan tensi tinggi mengamuk karena kurang kafein.

Merusak gedung-gedung pemerintahan karena salah paham politik. Saling membunuh dan saling meneror, kembali ke jahiliyah. Membakar tempat-tempat ibadah karena gagal memahami agama yang indah. “Dengan tanpa adanya ruang santai, mereka akan kembali sadar pada kepahitan hidup.”

Khartoum, 2016

Artikel Terkait