2 tahun lalu · 130 view · 1 menit baca · Lainnya 6201367147_4b602a3949_b.jpg
Foto: flickr.com

Andai Saya Yuyun

Andai saya Yuyun, pertama yang mungkin akan saya ucapkan adalah ungkapan terimakasih saya yang sedalam-dalamnya kepada semua pihak. Mereka mau berempati pada derita yang saya alami. Mereka rela berkorban waktu dan materi hanya untuk sekadar bersuara atas nama keadilan.

Yang kedua yang akan saya luapkan andai saya Yuyun adalah kecaman sebesar-besarnya kepada mereka-mereka yang telah merampas kebebasan saya; mereka-mereka yang telah merampas hak hidup saya; merampas segala-galanya yang saya miliki dan yang ada pada diri saya.

Wajar saja, bukan? Paling tidak untuk saat-saat ini saja, tidak untuk selamanya. Karena sungguh, sama sekali saya tidak akan pernah menyesali perlakuan bejat yang telah diperuntukkan pada diri saya waktu itu.

Meski amarah dan sedih juga berselimut kuat dalam diri, tetap saja tidak akan ada terbesit dendam di hati saya, apalagi sampai berniat hendak membalas mata dengan mata, tangan dengan tangan, atau mati dengan mati. Karena berlaku demikian hanya akan membuat saya hina, tak jauh beda dengan mereka-mereka yang hina dan menghinakan itu.

Andai saya Yuyun, sebisa mungkin saya hanya akan berkata dan menyeru pada semua: “Stop semua kejahatan seperti asusila dan atau kebiadaban di muka bumi! Saya rela menjadi tumbal atasnya asal saja tak ada lagi perlakuan serupa di masa mendatang.” Hanya itu yang akan saya pinta.

Sekali lagi, sedikit pun tidak akan saya sesali pengalaman pahit yang pernah menimpa diri saya. Karena bagi saya sendiri, yang lalu biarlah berlalu. Masa depan harus tetap ditatap dengan bijak dan optimis. Bahwa memaafkan itu bukan berarti hendak melupakan. Ini yang saya pegang sekaligus menjadi nada pengharapan saya cerahnya hari esok.

Andai saya Yuyun, yang saya sesali hari ini bukanlah perlakuan bejat mereka-mereka itu. Tetapi yang benar-benar saya sesali adalah bahwa saya tidak bisa membedakan lagi mana di antara mereka yang benar-benar empati, dan mana di antara mereka yang hanya sekadar menjadikan empati pada derita saya itu sebagai kedok demi meraup keuntungan apa, saya tidak tahu.

Yang jelas, “Jangan jual deritaku! Jangan jual!” Itulah yang akan saya mohon andai saya Yuyun. Tetapi sayang, saya bukanlah Yuyun. Saya hanya bisa berandai dan beriba hati kepada anak sekecil ini. “Yuyun tetah diperkosa dan dibunuh, tetapi jangan jual berita tentang deritanya!” Kali ini saya yang memohon bukan Yuyun.