Kalau saja saya terlahir sebagai pohon atau binatang jalang, mungkin saat ini saya hanya bisa menangis tersedu sepanjang hari melihat dan mendengar kisruh tranportasi online di Kota Jekardah itu. Tapi karena nyatanya saya manusia, saya sudah malu berurai air mata untuk keadaan bumi. Selagi masih bisa bernafas dan mencari uang dalam balutan polusi, saya tak peduli, apalagi sampai harus berisak-isak tangis begitu.

Hah manusia, katanya alim, tapi seperti tak ada saja sosok yang mengatur rezeki di atas sana. Lagian, kalo pihak ini dan pihak itu mau bergabung dan berjalan beriringan, transportasi umum negara ini bakal lebih mantap.

Kalau saya terlahir sebagai pohon atau binatang jalang, mungkin saya akan bilang, “Wahai manusia, kalian sudah masuk dalam lingkaran setan!” Ya, terpaksa kata-kata itu dilontarkan. Lihat, setiap manusia memiliki ambisi dan keinginan untuk beli kendaraan pribadi dengan alasan utama menghindari sengatan matahari. Setiap hari satu persatu manusia mulai berpikir mencari cara untuk mengumpulkan uang agar bisa beli kendaraan pribadi.

Bagaimana tidak hal ini persis macam lingkaran setan. Anggap saja hari ini ada seratus orang menghindari tajamnya matahari dengan cara membeli mobil, esoknya bertambah lagi, kemudian bertambah, bertambah dan bertambah. Kendaraan pribadi tumpah ruah di jalanan. Emisi gas buang meningkat hebat.

Efeknya, tak lain tak bukan semakin memicu pemanasan global dan matahari pun kian tajam. Selanjutnya, lima ratus, seribu, dua ribu, hingga lima puluh ribu manusia juga berencana, berkeinginan dan berlomba-lomba untuk memiliki mobil pribadi. Begitu-begitu saja terus, sampai bumi meledak.

Lucu! Manusia menghindari sengatan matahari dengan cara memiliki alat yang sebenarnya hanya akan memicu matahari untuk lebih tajam dan pedih. Hey manusia, kok begitu caranya??

Pertanyaan itu akan saya lontarkan kalau saja saya adalah pohon atau binatang jalang. Tapi karena saya manusia, saya hanya bisa diam dan mencoba menikmati hari ini tanpa harus memikirkan bagaimana keadaan bumi untuk anak cucu saya nantinya.

Ngapain juga mikirin bumi? Mending ikut-ikutan heboh dalam polemik mesin-mesin itu. Silakan Pak Pemerintah. Mau ditambah lagi motor, mobil dan kendaraan bermesin lainnya untuk mendukung jalannya ekonomi agar semakin menggeliat untuk para bos-bos, silakan!

Bayangkan, kendaraan bermotor di Jekardah dan sekitarnya naik 12 persen per tahun. Setidaknya berdasarkan data Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, jumlah kendaraan bermotor di Jekardah dan sekitarnya bertambah sebanyak 6 ribu unit kendaraan per hari. Edan! Nggak macet gimana coba?

Laju pertumbuhan kendaraan pribadi tak terbendung, sedangkan ruas jalan tiada bertambah secara signifikan. Istilahnya, kita para manusia sudah sepakat untuk bersama-sama menciptakan polusi udara, macet dan banjir, tapi anehnya kok malah nggak sadar dan selalu heboh mencari kambing hitam ya?

Ya begitulah, karena saya bukan pohon atau binatang jalang, melainkan hanya seorang manusia. Maklum, manusia sekarang nggak butuh alam. Kita para manusia lebih butuh uang, uang dan uang (Sengaja tiga kali, biar kayak Bento).

Mau bagaimana lagi, toh dengan uang kita bisa menyaksikan pemandangan alam yang indah melalui gadget canggih dengan signal internet lebih ngebut dari Rio Haryanto, membeli buah-buahan dalam kemasan (Walau cuma ekstrak doang), dan menyaksikan kawanan binatang bermain liar melalui tayangan National Geographic.  

Kalau saya terlahir sebagai pohon atau binatang jalang, mungkin sejak hari-hari yang lalu saya sudah mulai menghitung dan mengkaji pengaruh sumber emisi gas buang terhadap perubahan iklim dan keadaan sekitar. Di kota-kota besar, kontribusi gas buang kendaraan bermotor sebagai sumber polusi udara mencapai 70 persen, lebih tinggi dari cerobong asap pabrik yang menyumbang emisi berkisar 15 persen.

Tapi ya gimana ya, saya manusia, makanya saya malah menghitung dan mengkaji berapa banyak lagi uang yang dibutuhkan untuk dapat membeli mobil biar tak kena panas, biar penuh gengsi, trendi dan biar tak dicap miskin.

Kalau saya terlahir sebagai pohon atau binatang jalang, saya mulai cemas dan khawatir dengan keadaan bumi. Setidaknya dalam 40 tahun terakhir, lapisan es di kutub telah mencair hingga 40 persen akibat peningkatan suhu bumi.

Hal ini membuat semakin naiknya permukaan laut serta perubahan arus laut yang mengakibatkan perubahan iklim. Yah, tapi saya hanya manusia, maklumlah pola pikir manusia zaman ini lebih peduli terhadap berapa banyak lapisan yang bisa mendukungnya agar dapat meraih tahta dan harta.

Kalau saya terlahir sebagai pohon atau binatang jalang, mungkin hari ini saya cemas dan gemetaran dengan wajah pucat pasi. Ya, soalnya saya masih trauma dengan kebakaran hutan di beberapa kawasan Indonesia tahun lalu.

Bagaimana tidak, 13 juta hektar hutan rusak, dan terparahnya terjadi di Indonesia. Saya juga sedih melihat teman-teman saya sesama pohon telah berakhir menjadi abu. Begitupun jika saya adalah binatang liar, saya terisak melihat teman-teman lain kehilangan ‘rumah’.

Hah, tapi ternyata saya hanya manusia. Mau bagaimana lagi, sebagai seorang manusia haruslah heboh dan hujat sana-sini hanya ketika hutan terbakar dan menciptakan kepulan asap di mana-mana. Tapi setelah api padam, mari berhiruk pikuk lagi untuk meningkatkan ekonomi masing-masing diri.

Hutan, pohon dan binatang?? Bodo amat! (Menurut saya, mulai saat ini baiknya siapkan masker dan peralatan lainnya guna menyambut kebakaran hutan 2016. Istilahnya, sedia payung sebelum hujan. Kita kan manusia!)

Andai saja saya benar-benar dilahirkan sebagai pohon atau binatang jalang, saya tertarik untuk ikut bergabung dengan 7 ribu kota di dunia dalam kegiatan Earth Hour. Tapi mau gimana, saya tak punya saklar lampu untuk dipadamkan. Ah sudahlah, saya terima saja takdir ini sebagai manusia.

Manusia kan ciptaan Tuhan juga. Walau saya adalah manusia yang over sibuk dengan rutinitas mengejar tahta dan harta, manusia yang tak peduli dengan alam, manusia yang cuek bebek dengan kegiatan Earth Hour (dengan alasan takut kemalingan atau nggak mau ketinggalan sinetron Turki itu), dan manusia yang kura-kura dalam perahu tentang keadaan bumi yang telah sekarat.

Oh, andai saja saya tumbuhan atau binatang jalang, betapa bahagianya menghirup udara segar, menari dimainkan angin dan terus menjulang tinggi sambil memuja-Nya. Tapi saya hanya manusia, manusia yang lebih tertarik dengan pola hidup materialis, konsumtif dan hedonis.