Kadang melihat begitu kompleksnya tindakan intoleran membuat saya ingin kembali ke zaman penjajahan. Dulu kata kakek saya, tidak ada yang namanya satu bangsa saling hujat-menghujat, tidak ada pemeluk agama yang saling serang-menyerang dan tidak ada tindakan intoleran lainnya.

Semua bangsa pada waktu itu memiliki tujuan yang sama “merdeka”. Musuh mereka sama “penjajah”.

Memang benar apa yang diprediksi oleh Presiden Soekarno dulu, bahwa perjuangan zaman dulu lebih mudah karena melawan bangsa penjajah sedangkan perjuangan kini lebih sulit karena melawan bangsa sendiri. Kini, hujatan menjadi makanan sehari-hari apalagi begitu melihat media sosial padahal katanya kita sama-sama Indonesia.

Saya jadi teringat akan sosok kiai dari Tebuireng Jombang, KH Hasyim Asyari. Kiai dengan gelar pahlawan itu, dulu, sudah biasa bolak-balik masuk penjara gara-gara menolak kehadiran penjajah. Kisah hidup beliau pun sudah dibukukan dan difilmkan sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi beliau dalam menyatukan bangsa ini.

Fatwa Resolusi Jihad, salah satu dedikasi beliau, sebuah fatwa yang menyatukan bangsa pada waktu itu membuat rakyat berbondong-bondong melawan penjajah dengan senjata ala kadarnya. Bagi mereka nyawa hilang demi negara adalah sebuah kehormatan baik di sisi Tuhan maupun di sisi negara. Tapi kini, perlahan-lahan banyak dari kita ingin mendapatkan apa yang seharusnya negara berikan bukan apa yang ingin kita berikan pada negara.

Resolusi Jihad bukanlah makna jihad sebagaimana kelompok terorisme lakukan. Penggunaan kata "jihad" selalu diidentikan dengan gerakan terorisme. Padahal jauh sebelum persitiwa 9/11 terjadi, istilah jihad sudah sering dilakukan khususnya bagi negara yang ingin melepaskan diri dari derita kolonialisme. 

Tentu, kita sudah tidak asing lagi dengan peristiwa 10 November di Surabaya atau biasa kita kenal dengan hari pahlawan karena di sekolahan sudah kita pelajari bahkan sering masuk ke dalam soal ujian. Padahal di balik peristiwa itu, ada peran Resolusi Jihad yang seolah dilupakan oleh bangsa ini.

Adalah Gus Sholah, cucu dari KH Hasyim Asyari, adik kandung Gus Dur dan pemimpin Pesantren Tebuireng, yang terus berjuang agar Resolusi Jihad diterapkan di kehidupan sehari-hari dan diakui oleh bangsa kita. Pesantren Tebuireng sebagai tempat saya menuntut ilmu dulu mengajari saya betapa Resolusi Jihad adalah cerminan perjuangan pahlawan kita. Resolusi Jihad adalah tamparan keras bagi kita yang masih bersikap intoleran dan saling hujat-menghujat.

Jihad dalam Fatwa Resolusi Jihad KH Hasyim Asyari memiliki tiga arti penting. Pertama, jihad membela negara dan melawan penjajah hukumnya adalah fardlu ‘ain. Kedua, jihad melawan penjajah termasuk dalam kategori jihad fi sabilillah sehingga bagi kaum muslim yang meninggal dalam medan peperangan disebut sebagai syuhada. Ketiga, mereka yang mengkhianati perjuangan umat Islam dengan memecah-belah persatuan dan menjadi kaki tangan penjajah, wajib hukumnya dibunuh.

Tapi apakah esensi Resolusi Jihad masih relevan dengan sekarang? Mengingat kita sudah lama merdeka. Jika kita telusuri lebih dalam lagi, ternyata ada nilai-nilai yang tersirat dalam Resolusi Jihad yang mana masih relevan dengan kebutuhan sekarang dan nanti.

Dalam kitab karangan KH Hasyim Asyari, Risalah Ahl Al- Sunnah Wa Al-Jama’ah  yang beliau kutip dari hadis Nabi, ada lima poin penting yang berkaitan dengan kehidupan beragama dan bernegara yakni mendengar, mentaati, berjihad, hijrah dan berada dalam jamaah (organisasi).

Pertama, berkaitan dengan sikap mendengar, banyak orang dibutakan oleh informasi karena tidak mau mendengar. Seseorang yang belum tentu mencuri, misalnya, kita adili bersama lalu dibakar hidup-hidup. Tentu saja, kejadian tersebut tidak akan terjadi manakala kita mau mendengar sepatah-dua kata penjelasan dari seseorang terduga pencuri.

Selain itu, kini, orang berlomba-lomba berorasi dan mengatakan dirinya paling benar baik di dunia maya maupun di dunia nyata tanpa mau mendengar kritikan, masukan dan nasihat dari orang lain. Seolah-olah dirinyalah yang paling benar.

Kedua, berkaitan dengan sikap mentaati, bahwasannya sikap mentaati tidak hanya berlaku dalam urusan pribadi dengan Tuhannya melainkan juga mentaati antar sesama dalam kehidupan bernegara.

Munculnya peristiwa-peristiwa intoleran, terjadi semakin masif karena manusia tidak mentaati norma-norma dalam kehidupan bernegara. Mereka rela berbondong-bondong membakar, mencela, menjarah sampai membunuh seseorang yang diduga beraliran sesat dengan dalih perintah Tuhan. Apakah dengan begitu kita benar-benar mentaati perintah Tuhan?

Tentu tidak, Nabi Muhammad sebagai contoh panutan saja tidak pernah sekalipun membakar, mencela, menjarah sampai membunuh umatnya yang berbeda keyakinan atau aliran. Kalau Nabi Muhammad berperilaku seperti demikian, tentu saja Islam tidak akan pernah sampai ke negara Indonesia tercinta ini. Begitu pula dengan agama lain, karena tidak ada satupun agama yang mengajarkan umatnya kepada amarah dan kebencian.

Ketiga, makna jihad bukan melulu soal jihad secara fisik. Jihad juga bisa berarti melawan hawa nafsu karena memang begitu kenyataanya, jihad terbesar dan tersulit adalah bagaimana kita melawan hawa nafsu yang menggerogoti hati kita. Hawa nafsu untuk meraih pundi-pundi rupiah, untuk mendapatkan jabatan sampai untuk menjadi terkenal di media sosial. Berbagai cara dilakukan agar hawa nafsu terpenuhi, kalau perlu mengorbankan kawan, lawan, kerabat sampai harga diri.

Di zaman serba digital ini, aura-aura hawa nafsu sering kita cium di smartphone, hanya dengan genggaman jari, semua propaganda dan berita hoaks mudah ditemukan dan disebarluaskan untuk menyingkirkan lawan mainnya. Media televisi pun sama, mereka rela membuat berita yang mengarah pada provokasi dan mengadu domba antar golongan demi rating dan politik semata. Apalagi menjelang Pilkada dan Pilpres, sudah lumrah hal tersebut terjadi.

Keempat, berkaitan sifat hijrah yang mana kita definisikan sebagai sikap seseorang yang beralih dari keburukan menuju kebaikan. Hijrah ini adalah salah satu obat mujarab menyembuhkan penyakit intoleran di negara tercinta ini.

Dengan hijrah, tidak ada lagi kebencian dan amarah. Dengan hijrah, seseorang akan mengubah lawan menjadi kawan, mengubah musuh menjadi teman berjuang, apalagi penjajah sudah hengkang dari bumi pertiwi puluhan tahun silam. Tidak ada istilah musuh sekarang. Lantas kenapa pula kita ramai-ramai mengatakan yang beda golongan, ras dan agama adalah musuh?

Meskipun Bapak Proklamator kita, Presiden Soekarno, mengatakan bahwa kini, kita sedang kesulitan melawan bangsa sendiri, bukan berarti mereka musuh kita karena mereka adalah bagian dari kita, sama-sama berdarah Indonesia.

Kelima, berkaitan dengan jamaah (organisasi) bisa kita kaitkan dengan definisi negara. KH Hasyim Asyari adalah sosok negarawan yang sangat peduli terhadap persatuan dan kesatuan umat bernegara.

Sebagaimana dalam kitab Risalah Ahl Al- Sunnah Wa Al-Jama’ah, beliau menghimbau dalam bernegara sepatutnya merekonsiliasi orang yang berselisih, merekatkan tali persaudaraan, bersikap dan berperliku baik terhadap sesama tetangga, dapat memahami dan melaksankan hak-hak pemimpin serta bersikap santun dan belas kasih antar sesama. Beliau melarang dengan tegas segala bentuk permusuhan, saling benci-membenci, memutuskan hubungan, dan saling hasut-menghasut.

Jika dalam judul esai saya mengatakan ingin kembali ke zaman penjajahan, lantas bagaimana kalau KH Hasyim Asyari masih hidup di tengah-tengah kita? Melihat intoleran yang semakin runcing, membaca berita provokasi dan hoaks serta macam-macam intoleran lainnya yang mudah sekali ditemukan. Mungkin kita bisa menemukan sosok beliau dalam jati diri sang cucu, Gus Sholah.

Gus Sholah adalah kiai yang sangat dicintai oleh negeri ini. Petuah dan gagasan beliau mampu merepresentasikan Islam yang toleran. Maka tak heran jika beliau mendapatkan gelar doktor kehormatan dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di bidang Manajemen Pendidikan Islam. Hal ini dirasakan oleh saya sebagai salah satu santrinya.

Dialog antar agama salah satunya. Dialog tersebut sudah sering diadakan di Pesantren Tebuireng. Mungkin sebagian orang akan memandang aneh ketika sebuah pesantren menghadirkan sosok pemimpin agama lain.

Padahal dialog antar beragama terbukti ampuh dalam menyatukan bangsa yang terpecah-belah. Sebagaimana Fatwa Resolusi Jihad yang menginginkan bangsa agar bersatu-padu bukan malah tercerai-berai. Melalui dialog, tidak ada lagi kesalah-pahaman antar pemeluk beragama.

Maka akan sangat nafi jika kita yang sudah enak-enak tinggal menerima dan merasakan kemerdekaan tanpa berperang di medan perang, malah melakukan tindakan intoleran. Sama artinya dengan kita melukai jasa dan perjuangan pahlawan kita yang sudah susah payah menyatukan bangsa ini dari Sabang sampai Merauke. Begitu pula dengan perjuangan KH Hasyim Asyari dalam Resolusi Jihadnya.

Terakhir, andai saya kembali ke zaman penjajahan. Saya akan menyampaikan berita ini pada beliau, KH Hasyim Asyari, supaya doa selalu disampaikan oleh beliau dan tentu saya akan berjuang memasukkan nilai-nilai Resolusi Jihad sehingga dikenal sebagai bagian dari sejarah yang selalu dikenang dan diteladani dalam kehidupan sehari-hari.