Dahulu kala, hidup pohon apel yang rindang dan berbuah lebat. Setiap hari, ada seorang anak kecil yang senang sekali bermain dengannya. Anak kecil itu adalah sahabat si pohon. Namun, setelah beranjak dewasa, Ia tak pernah lagi bermain dengan Si Pohon Apel.

Ia hanya datang sewaktu-waktu membutuhkan pertolongan. Ketika Ia mengeluh tak punya uang, Si Pohon Apel memberikan seluruh buahnya untuk Ia jual. Ketika Ia mengeluh tak punya rumah, Si Pohon Apel memberikan ranting-ranting kokohnya. Begitu pun ketika Ia mengeluh ingin berlayar di samudra yang luas, Si Pohon Apel memintanya untuk membuat perahu dari batang pohonnya yang kuat.

Cerita tersebut bermakna sangat dalam tentang bagaimana seharusnya relasi manusia dengan alam. Menganggap alam sebagaimana sahabat layaknya si anak kecil itu. Bukan malah mengekspolitasinya dengan mengambil segala yang alam punya untuk memenuhi kebutuhan kita layaknya apa yang dilakukan si anak itu setelah dewasa.

Sastra menyajikan sudut pandang yang berbeda ketika menyajikan relasi manusia dan alam. Hubungan alam dan manusia dalam sastra berbeda dari cara bagaimana buku-buku sains menjelaskan tentang alam. Sastra mampu menghadirkan kisah subjektif manusia dan alam seperti layaknya kisah Si Pohon Apel itu, yakni menyajikan kisah alam dengan perspektif yang personal.

Leopold mengungkapkan dalil yang menarik tentang bagaimana kita selama ini melihat alam. “Berpikirlah seperti gunung, hanya gunung yang telah hidup cukup lama untuk mendengarkan secara objektif lolongan serigala,” kata Leopold.

Apa yang diungkapkannya itu membawa manusia menyadari untuk sedikit lebih rumit memahami alam. Ia berpesan agar kita membawa segenap kekuatan objektivitas teknologi dan ilmu pengetahuan untuk memahami alam.

Namun, apakah standar itu membawa kita benar-benar merasakan kedekatan dengan alam? Apakah standar itu bisa membawa kita merenungkan hubungan manusia dan alam secara personal?

Melalui buku-buku sains, kita mungkin bisa mengetahui nama-nama ilmiah hewan maupun tumbuhan yang menandai karakter mereka. Kita mungkin jadi tahu juga tentang bagaimana kerusakan alam terjadi. Alih-alih mendekatkan kita, semua pengetahuan itu gagal mengubah perspektif kita terhadap alam. Semua itu gagal membuat hubungan kita dan alam menjadi lebih personal.

Semua pengetahuan itu telah luput menyadarkan kita untuk mampu keluar dari pandangan antroprosentrik. Sebuah pandangan yang menggiring kita untuk berpikir bahwa alam hidup untuk kita, bukan bersama kita.

Sebaliknya, kehadiran sastra menyajikan relasi manusia dan alam dengan cara berbeda, bukan ingin meneguhkan antroprosentrik itu, tapi dengan cara menggugatnya. Itulah yang tersirat dalam kisah Si Pohon Apel, bahwa manusia dan alam sejatinya hidup selaras, saling berdampingan, serta membutuhkan satu sama lain. 

Segala pesan keselarasan dan hidup berdampingan dengan alam hadir dalam jenis sastra yang belakangan disebut sebagai sastra hijau. Dalam bayangan kita, mungkin sastra jenis ini serupa dokumenter dari majalah National Geographic. Penulis sastra hijau dalam hal ini bisa jadi bukan dari ahli biologi, geografi, ataupun ilmuwan ekologis profesional lainnya.

Sastra hijau memiliki beberapa prasyarat sendiri. Pertama, ia menganggap penting untuk memaparkan kisah eksploitasi manusia terhadap lingkungan. Artinya, penting bagi sastra hijau untuk merekam aktivitas yang dilakukan manusia terhadap alam sebagai cerminan atas kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Yang terpenting dari sastra hijau adalah ide pembebasan bumi dari kehancuran dan implementasinya. Sastra hijau harus mampu memengaruhi pola pikir dan sikap masyarakat terhadap penghancuran bumi. Hal ini sesuai dengan visi dan misi sastra hijau, yaitu sastra yang berperan dalam penyadaran dan pencerahan yang diharapkan dapat mengubah gaya hidup perusak menjadi pemelihara bumi (Pranoto, 2014).  

Simaklah bagaimana Dee atau Ayu Utami menyajikan kisah dalam perspektif ekologis. Misalnya, kisah dalam novel Partikel karya Dee atau Bilangan Fu karya Ayu Utami. Mereka tidak hanya menyajikan gambaran ekologis alam, tetapi juga bagaimana proyeksi pribadi manusia atas alam. Tentang bagaimana Zarah atau Parang Jati memandang Orang Hutan atau tanah Sewugunung berpengaruh dalam hidup mereka.

Sastra hijau berada pada dua cara menerjemahkan alam. Di satu sisi, alam dalam sastra hijau bisa dilihat sebagai alam yang metafor.

Dalam kisah Si Pohon Apel itu bisa saja pohon tersebut adalah metafora dari sifat manusia. Ada yang menggambarkan bahwa pohon apel itu adalah metafora dari sosok orang tua kita. Sama halnya dengan kisah-kisah fabel yang sering didongengkan orang tua kepada kita.

Metafora menjadi unsur yang menarik dalam sastra. Karena metaforis itulah narasi-narasi dalam sastra menghadirkan kepada manusia ingatan yang lebih panjang daripada penjelasan ilmiah pada buku-buku sains.

Di sisi lain, gambaran alam dalam sastra justru adalah representasi alam yang sebenarnya, bukan alam yang metaforis. Misalnya, hutan di Kalimantan yang diceritakan dalam novel Dee diungkapkan sebagaimana mestinya, tentang luas hutan, jenis tanah, maupun tumbuhan dan hewan yang hidup di sana. Dua sisi ini tentunya bisa melengkapi satu sama lain.

Tulisan-tulisan ilmiah menjadi berjarak dengan manusia adalah hal yang tidak bisa dielakkan karena kerumitannya. Oleh karena itu, sastra memiliki peran mempersempit jarak pemahaman manusia atas alam.

Lagi pula, manusia bisa menjadi dekat secara emosional dengan alam karena membaca karya-karya sastra. Jadi, sangat mungkin sastra mampu mengubah perspektif dan perilaku manusia seperti halnya seorang Mahatma Gandhi terpengaruh oleh Leo Toolstoy atau Pramoedya Ananta Toer terinspirasi dari tulisan sastrawan Multatuli.

Begitu pula, diri kita yang berubah setelah membaca karya sastra tertentu misalnya. Jadi, apa judul karya sastra yang telah mengubah cara berpikirmu?