Jurnalis
4 minggu lalu · 455 view · 5 min baca · Gaya Hidup 88150_63023.jpg
Dok: Kimi Hime

Andai Kimi Hime Berhijab

Tren YouTuber

Jangan jengkel dengan judul. Entah Anda seorang aktivis, feminis, atau hanya pria merana karena sulit melupakan sebuah senyuman yang terlalu manis. 

Sekali lagi, jangan sampai judul bikin Anda sinis. Walaupun benar, di sini yang akan saya tuliskan adalah tentang seorang gadis yang juga punya senyum yang manis; Kimi Hime.

Jangan juga jengkel kenapa Kimi Hime dikait-kaitkan dengan hijab. Bukankah hijab itu adalah sesuatu yang sakral, identik dengan perintah agama, perintah Tuhan? Sementara pemilik nama asli Kimberly Khoe itu, kan ...

Sudah, jangan berdebat. Sebab berdebat dengan diri sendiri, tetap hanyalah untuk memenangkan diri sendiri. Termasuk jika Anda berbicara tentang Kimi Hime, hanya berdasarkan keyakinan dan segala apa yang Anda yakini; tanpa peduli apa yang menjadi keyakinan orang lain, bisa bias, cuma untuk memenangkan diri sendiri.

Sampai hari ini, perdebatan tentang Kimi Hime belum selesai. Terlebih, sepanjang pekan lalu, lembaga-lembaga negara terhormat pun turun tangan cuma untuk menghadapi Kimi Hime yang harus tampil seorang diri. Mereka di lembaga-lembaga negara itu tampil sebagai manusia terhormat, dan Kimi diposisikan sebagai orang tidak terhormat.

Ya, satu pihak merasa lebih terhormat dibandingkan pihak lain, karena sekadar urusan pakaian dan cara berkreasi. Kimi dinilai tidak pantas tampil dengan gayanya selama ini, dan mereka yang "mengeroyok" dirinya; kementerian terkait, legislatif, hingga kalangan media, merasa selalu pantas untuk masuk ke mana saja. Termasuk, ruang paling privasi dari kebebasan seseorang.


Di sinilah saya berimajinasi liar. Dalam arti, saya membayangkan kalau saja Kimi Hime tampil dengan hijab, maka betapa aroma surga bertiup kencang di antero YouTube! Semua yang menonton YouTube bakal menjadi calon penghuni surga, hanya dengan melihat hijabnya!

Kok, imajinasinya terasa terlalu mengada-ada? Ya, inilah kelebihan imajinasi, cenderung mengada-ada, dan memang tidak ada halangan untuk mengada-ada. 

Toh, tak sedikit juga yang merasa hidup dalam realitas seutuhnya, pun tak merasa diri mereka terlalu mengada-ada. Padahal, setiap hari ada saja tingkah mereka yang makin mengada-ada.

Salah satu kebiasaan mengada-ada adalah ketika ada orang yang takut berdosa, tapi sering tidak merasa berdosa menyalahkan orang lain karena dosa-dosanya sendiri. 

Salah dua kebiasaan mengada-ada itu adalah ketika ada para orang tua yang tidak becus mendidik anak-anak mereka, lagi-lagi kesalahan ditimpakan hanya kepada orang-orang di luar sana. Sementara mereka sendiri, mereka bebas dari kesalahan setelah menyalahkan orang lain. Salah satunya; salahkan Kimi Hime!

Salah tiga kebiasaan mengada-ada tersebut adalah para warganet yang merasa punya hak untuk mengatur dan mendikte seseorang harus tampil bagaimana dan mesti bagaimana. Padahal, warganet yang berkuota terbatas hingga tak terbatas tetap punya keterbatasan; bahkan mengatur diri sendiri saja tak selalu becus mereka lakukan.

Ya, begitulah gambaran nyata, betapa kita terlalu sibuk dengan kesibukan orang, tanpa pernah menyibukkan diri untuk mencari kesibukan. Kurang kesibukan itulah yang tampaknya bikin banyak orang terlihat sibuk; namun hanya sibuk mengurus orang lain dan mereka sendiri tak menghasilkan apa-apa. 

Kesibukan begini tidak jauh berbeda dengan sebagian pengguna hijab yang merasa sudah di atas manusia lainnya hanya berkat satu kain di kepala mereka. Hanya karena sehelai kain tersebut, tak sedikit yang sinis yang memilih tidak menyembah kain. 

Lho, kok bahasa saya bisa begitu, ya? Bahasa yang tidak ada bau surga sama sekali, nih. Ya, gimana, ya? 

Begitulah realitas yang acap saya temukan sehari-hari. Ada saja yang merasa telah mampu menutup rambut dan kepala mereka, lalu juga terperangkap dalam perasaan bahwa mereka lebih suci dibandingkan orang lain. Padahal, idealnya, silakan saja menutup kepala, tapi jangan sampai menutup pikiran.


Sederhananya, jangan sampai merasa bahwa menutup kepala dan terlalu yakin telah mengikuti perintah Tuhan, lalu penutup kepala itu sendiri disetarakan dengan Tuhan. Sedangkan mereka yang tidak menutup kepala, lantas dicap sebagai musuh Tuhan.

Penutup kepala dipandang suci, sementara pikiran tidak suci dari kebencian, kemarahan terhadap yang berbeda, hingga melecehkan yang memilih tidak menutup kepala mereka.

Relevansi dengan kasus Kimi? Ya, tidak jauh berbeda. Ada kecenderungan begitu menggoda untuk hanya membenarkan kesibukan mengurus dosa orang lain. Terlebih mengurus dosa orang yang dipandang terkenal, maka siapa saja berpotensi ikut terkenal; tapi makin asing dengan cara berpikir yang lebih realistis dan apa adanya. Bukan cara berpikir terlalu mengada-ada. 

Sebab cara berpikir yang terlalu mengada-ada hanya asyik dengan mencari kekurangan orang lain, dan sama sekali tidak mengapresiasi apa yang sudah dilakukan orang lain. Juga, cara berpikir ini, hanya gemar memuaskan keinginan mencela dibandingkan melihat sesuatu yang agung dari seorang manusia sebagai makhluk berakal; kemampuan berpikir, berbuat, berkreasi, dan hidup dengan passion mereka.

Kimi Hime adalah salah satu contoh anak muda yang hidup dengan passion-nya. Ia bisa meraih kesejahteraan tanpa menggantungkan diri pada tangan siapa-siapa. Pun, ia tidak perlu membuang tenaganya untuk menyalahkan tetangga hingga negara. Sebab, dengan kreativitasnya, ia hidup dan tak merepotkan hidup orang lain.

Sedangkan yang terlalu rewel di media sosial saja, dan orang-orang terhormat di lembaga negara yang setara dengan mereka; acap kali menjadi beban negara. Sebab mereka hanya berpikir di tingkatan normatif saja, atau sesuatu yang dirasa cukup memuaskan perasaan kagum orang banyak. 

Mereka sendiri tak bisa menghasilkan apa-apa, dan justru sibuk menjegal pihak lain yang dianggap "terlalu kotor" meskipun menghasilkan banyak hal. 

Ya, mirip halnya pencuri uang negara yang ke mana-mana berpakaian bersih, lengkap dengan kendaraan mewahnya, lalu tersenyum sinis pada kuli-kuli di pinggir jalan yang harus mengotori badan untuk mengumpulkan rupiah. 

Mereka merasa terhormat dengan keadaan mereka yang "serbabersih" lantas tak mampu melihat kehormatan para kuli pinggir jalan yang makan dan hidup dengan tangan dan keringat sendiri tanpa perlu mencuri.

Ini tak jauh berbeda juga dengan sebagian perempuan yang berhijab lantas mencela hingga menghina yang tidak berhijab. Mereka pongah hanya karena sepotong kain di atas kepala. 


Padahal, jika mengimani hijab itu adalah sesuatu yang baik, semestinya bisa membantu mereka juga bisa berpikir baik dan melihat dengan baik; bahwa yang tidak berhijab pun tetap terhormat, dan mereka tetap disayang oleh pencipta-Nya. 

Toh, sejarah-sejarah orang besar hingga bangsa besar, tak ada pengaruh besar dari urusan penutup badan dan sejenisnya. Bukan juga karena urusan apa yang ada di atas kepala mereka, melainkan apa yang ada di dalam kepala mereka.

Begitu juga jika Anda melihat Kimi Hime hanya dari sisi caranya berpakaian yang tidak akrab dengan Anda, dan luput melihat kreativitas hingga kedisiplinan dan karakternya; Anda hanya tergoda menghinanya, namun takkan bisa belajar apa-apa di balik heboh cerita seorang Kimi Hime. Bisa jadi kelak Anda yang justru terhina, dan ia justru dihormati di mana-mana. 

Sebab, sudah kodratnya, mungkin satu hingga dua hari seseorang bisa dihormati karena apa yang ada pada tubuhnya; pakaian, perhiasan, dan semacamnya. Namun pada akhirnya, seseorang hanya akan dihormati dengan sesuatu yang ada di dalamnya; integritas hingga pengetahuan mereka yang bermanfaat untuk banyak orang. 

Ah, kok tulisan saya jadi mirip naskah ceramah, ya? Tidak apa-apa, semua ini juga saya tulis seraya menceramahi diri sendiri untuk tidak sibuk dengan kesalahan orang lain, tapi belajar bagaimana sibuk mencari kekurangan diri sendiri. Merasa diri sendiri tanpa kekurangan, tapi kurang bermanfaat untuk banyak orang; hidupmu buat apa, cuk?

Artikel Terkait