Mahasiswa
3 bulan lalu · 6218 view · 4 min baca menit baca · Perempuan 17348_13985.jpg
Sportourism

Andai Kartini Hidup di Era Ukhti-Ukhti

Ini tahun terakhir Kartini, lebih tepatnya bulan terakhir, sebelum akhirnya diwisuda dan resmi menyandang gelar sarjana dari salah satu kampus elite di negeri ini. 

Tidak seperti teman-temannya yang makin sibuk cari jasa photo-shoot hingga setelan busana untuk wisuda, dia malah makin sering ikut-ikutan event seminar, diskusi, hingga aksi. Bahkan, baru-baru ini, ia malah sibuk menyodorkan artikel dan opini kritik terhadap #UninstallFeminism yang lagi hangat-hangatnya.

Kartini yang dikenal sebagai putri seorang tokoh yang terpandang secara agama dan politik di daerahnya sekilas memang seperti perempuan pada umumnya. Namun, ada satu sisi yang menunjukkan bahwa ia berbeda.

Secara penampilan, Kartini layaknya perempuan lainnya: ketika kuliah mengenakan blus yang dipadukan dengan long skirt, sesekali kaos dan skinny jeans, dan pastinya selalu dengan make-up, meski minimalis, namun, secara pemikiran, ia dinilai kelewat visioner.

Dalam benaknya, kesetaraan antara laki-laki dan perempuan merupakan suatu keniscayaan. Perempuan, menurutnya, bukan lagi makhluk yang dipandang hanya dari segi rupa dan raga saja. Bukan yang bisanya cuman manthuk-manthuk di hadapan kaum maskulin. Bukan lagi dipandang sebagai objek dari sistem patriarki.

Menurutnya, perempuan harusnya memiliki kesetaraan dengan laki-laki dalam politik, sosial, dan ekonomi. Tujuan dari kesetaraan tersebut tak lain adalah demi kemajuan dan keadilan untuk kehidupan perempuan, tanpa direpresi kedudukannya.


Banyak gerakan dan aksi yang telah diinisiasi oleh Kartini, mulai dari Feminism Study Club, Front Pembela Perempuan, Aksi Tolak Diskriminasi Perempuan, dan banyak lagi; sampai-sampai ia sendiri tidak tahu berapa jumlahnya.

Maka tak heran, jika teman-teman ukhtinya pada selfie-selfie di tempat hits dengan pose ‘halalin akuh’, tetapi Kartini masih sibuk diskusi bedah buku di warung kopi—iya, warung kopi, bukan kafe instagrammable yang cocok buat selfie gitu—hingga kelewat jam satu pagi.

Ketika mereka pada ngerumpi stalking-stalking akun IG ketua lembaga dakwah kampus yang gantengnya subhanallah sambil senyam-senyum gimana gitu, lha si Kartini ini malah scrolling-scrolling Mojok sambil wolak-walik bukunya Multatuli.

Menanggapi isu #UninstallFeminism dan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, Kartini tak pernah absen. Dia selalu menjadi yang pertama pasang kuda-kuda dan pasti berdiri di garda paling depan.

Dalam salah satu tulisannya, ia pun memberikan tamparan sekeras-kerasnya kepada mereka yang beranggapan bahwa feminisme tidak diperlukan oleh perempuan.

"Ketika dalih agama digunakan untuk memerangi isu-isu feminisme, menurut hemat saya, merupakan dampak dari pemahaman agama tanpa logika. Semua agama pastinya mengajarkan kemanusiaan. Penolakan kesetaraan gender atas dasar agama pastinya akan menimbulkan kontradiksi antara kemanusiaan dan agama.

Kampanye “Tubuhku Bukan Milikku” yang ukhti-ukhti sekalian gaungkan untuk menyadarkan bahwa tubuh ini merupakan otoritas yang dimiliki oleh Allah SWT (baca: Tuhan), bukan diri (perempuan) sendiri. Apalagi penolakan kesetaraan gender dikarenakan paham itu sendiri merupakan produk kaum kapitalis Barat, bukan dari tanah Arab. Maka secara otomatis label haram sudah disandarkan padanya. Menggelikan.

Ajaran ini seakan-akan dipaksakan. Karena selain dibarengi doktrin ber-Islam (baca: beragama) yang total dengan jaminan surga nantinya, hanya berlandaskan pada teks yang tertulis pada Alquran (baca: kitab suci) tanpa mempertimbangkan sisi kontekstual dari keadaan yang ada. Pemahaman teks dan kontekstual yang dibarengi dengan alasan yang logis akan menghindarkan dari praktik-praktik ibadah yang tidak fleksibel dan cenderung radikal.


Jika dibiarkan lebih jauh lagi, pastinya akan terjadi suatu ketimpangan di mana dominasi laki-laki atas perempuan akan menjadi-jadi.

Ketika tubuh perempuan diklaim sebagai otoritas Tuhan, lantas apakah tubuh laki-laki juga sama di bawah otoritas Tuhan, atau malah sebagai otoritas diri mereka sendiri? Nggak mashok blas, kan, Ukh?

Jika pembedaan yang berlebihan ini tetap dipaksakan terhadap perempuan, maka secara tidak langsung sifat kemanusiaan yang ada pada diri perempuan akan tereduksi. Bahkan bisa dibilang kemanusiaan, bagi perempuan, hanya sebatas klise belaka. 

Bagaimana tidak, setelah seorang perempuan dihalalkan, yang menjadi kekhawatiran saya adalah jika makna halal pada konteks ini menjadi tak terbatas sehingga kaum lelaki akan dengan mudahnya mengeklaim seluruh perlakuannya terhadap perempuan sebagai perintah Tuhan.

Perempuan dinilai hanya sebatas alat milik Tuhan yang dianugerahkan kepada laki-laki.

Akibatnya, kekerasan dan eksploitasi terhadap perempuan hanya akan dilihat sebagai ajaran dari kitab suci dan bagian dari takdir sebuah alat milik Tuhan, saja," tulis Kartini dalam salah satu kolom onlinenya.

Lantas tak sulit baginya menjumpai komen-komen macam “tobat, mbak”, “ayo ndang hijrah ya, ukh”, “dasar feminis liberal, munafik” yang gemrudukan nangkring di kolom komentarnya. Dan seperti biasanya, Kartini hanya senyam-senyum sendiri sambil pasang headset lalu putar lagu Nella Kharisma: Seng tenang, ben iso mikir, ojo gumelar, ojo kuatir.


“Terima kasih saya sampaikan kepada antum sekalian. benar memang. antum sekalian suci, aku hinah dan penuh dosah. aku memang nggak se hits antum yang punya follower ber-k dan diendorse produk-produk kecantikan, aku nggak secantik antum yang pake jilbab kekinian yang diulet-ulet sampek mbuletnya naudzubillah njelimet, nggak se alim antum yang mau pengajian aja fardhu ain selfi duluan, nggak se syar’i antum yang suka upload selfi bareng ‘imam masa depan’ tiap ta’arufan. Yang penting aku nggak hijrah cuma untuk pencitraan dan tren-trenan. Gimana, ukh? Apa daya, aku hinah dan penuh dosah, kan,” timpalnya dalam kolom komentar.

Beberapa hari hingga seminggu kemudian, kolom komentar (akhirnya) senyap.

“Ealah, netijen-netijen, belajar kok ya dari sosmed?” batinnya.

Artikel Terkait