Dalam hidup, mungkin ada masanya dimana kita menyesali keputusan yang telah kita buat.  Menolak takdir yang diberikan Tuhan pada kita.  Lantas menjadikan keluhan sebagai hobi karena tak berhasil mendapatkan hal-hal yang kita dambakan dan impikan. 

Setelah segala hal di atas menimpa diri kita, kita kerap kali memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan berandai-andai.  “Seandainya dulu saya tak begini, mungkin sekarang saya sudah begini,” begitulah ucap kita lirih, di tengah persoalan hidup yang semakin ke sini serasa semakin berat untuk ditanggung. 

Dulu saat saya masih menjadi santri di salah satu pondok pesantren di Kota Garut, saya kerap kali berandai-andai.  Saat itu saya duduk di bangku aliyah, dan kerap kali menyalahkan keputusan saya bertahun-tahun lalu untuk memilih pesantren sebagai sekolah saya.

Sebenarnya  alasan utama saya setuju didaftarkan ke pondok pesantren oleh orang tua dulu, karena saat itu saya merasa dengan masuk pesantren saya bisa bebas dari aturan orang tua.  Tapi, nyatanya saya salah besar. 

Memang benar, saya bebas dari aturan orang tua saya, namun, saya malah terjerat oleh aturan pondok yang lebih ketat.  Sialan memang.

Pengandaian saya saat itu, kira-kira begini.

“Andai saya dulu masuk SMP bukan pesantren, saya bisa mempelajari ilmu-ilmu umum lebih fokus lagi.  Tanpa harus dipusingkan dengan hapalan hadist dan ayat Al-qur’an yang kerap kali saya hapalkan dengan penuh keterpaksaan”.

“Andai saya dulu tak masuk pesantren dan memilih jalur sekolah negeri, saya tak akan seterkekang ini”.  Dan berbagai jenis pengandaian lainnya.  Mulai dari A sampai Z.   

Lantas dengan bekal pengandaian tersebut, imajinasi saya berkembang membentuk sebuah cerita kehidupan saya jika saya memilih SMP sebagai sekolah saya.  

Saya dengan seragam SMP kerap kali aktif di dalam kelas dan dengan mudah memahami ilmu-ilmu umum yang saya suka (saya lebih suka ilmu umum dibanding agama). 

Lantas sepulang sekolah saya akan menyempatkan waktu untuk mengunjungi rumah teman saya.   Mengerjakan tugas kelompok bersama.  

Jika sedang ada uang lebih, saya dan teman saya akan jalan-jalan ke mal, menonton film di bioskop, atau mungkin mengobrol riang dengan segepok tugas di cafe di sudut kota. 

Kemudian setelah menyelesaikan pendidikan 3 tahun lamanya, akhirnya saya bisa memasuki bangku SMA dengan segala jenis keindahannya yang kerap kali digambarkan dalam sinetron tanah air.  

Membuat rencana libur akhir pekan dengan teman, ikut kelas persiapan PTN, menikmati masa remaja, dan setumpuk hal lainnya yang kerap kali tak bisa saya rasakan selama berada di pesantren. 

Tak dinyanya, ternyata saya bisa menghabiskan sejam sampai dua jam dalam sehari, tanpa melakukan apa-apa sama sekali hanya untuk berandai-andai. Hanya untuk merangkai cerita fiktif dalam hidup saya yang tak akan pernah saya alami. 

Sudah tahu begitu, ternyata kebiasaan berandai-andai saya tak juga kunjung hilang.  Setelah lulus dari pesantren dan  melanjutkan pendidikan di salah satu universitas negeri, saya masih saja memberikan jatah waktu untuk berandai-andai.  Dengan pengandaian yang berbeda dari sebelumnya. 

“Andai dulu di pondok saya bisa lebih memanfaatkan waktu dengan baik, mungkin saya bisa mendapat hasil yang lebih baik.  Kuliah di PTN pilihan pertama misal, atau bahkan di luar negeri,”serta deretan pengandaian-pengandaian lainnya. 

Yang mana sama seperti sebelumnya, didasari oleh rasa penyesalan saya terhadap diri sendiri.  Kekecewaan saya pada kehidupan masa lalu saya. 

Nyatanya lingkaran setan ini tak juga kunjung berakhir.  Saya masih saja senang berandai-andai.  Dan sudah pasti, bukan hanya saya saja yang punya hobi berandai-andai, sebagian dari kamu juga pasti susah menghilangkan hobi yang satu ini.  Menganggapnya sebagai “kerjaan penting” di waktu luang.

Perlu kamu ketahui, setelah berandai-andai cukup sering, akhirnya di satu titik saya sadar bahwa berandai-andai kerap kali menghabiskan banyak waktu saya.

Bayangkan, jika dalam sehari sedikitnya saya bisa menghabiskan waktu 20 menit untuk berandai-andai, berapa banyak waktu yang saya habiskan untuk melakukan kegiatan tersebut dalam seminggu, sebulan, bahkan setahun?!!

Waktu yang seharusnya bisa saya gunakan untuk mengembangkan bakat saya, menjalankan sesuatu yang lebih produktif misal, malah saya gunakan untuk mengimajinasikan masa lalu yang tak mungkin saya ulang kembali. 

Jadi, untuk kamu yang masih suka berandai-andai, pesan saya satu.  Sudahi kebiasaanmu itu, kawan!  Waktu akan terus berjalan.  Masa lalu tak bisa diulang. Masa depan masih kejauhan.  Lakukan apa yang bisa kita lakukan sekarang.   

Bayangkan saja, andai dulu saya tak menghabiskan banyak waktu untuk berandai-andai lantas menggunakan waktu saya untuk kegiatan produktif lainnya, entah sudah jadi apa saya sekarang.  Mungkin lebih baik dari status saya sebagai mahasiswa biasa yang tak bisa apa-apa.  Andai saja.