85814_60315.jpg
Pexel
Cerpen · 2 menit baca

Andai Aku Seorang Sayid
Surat seorang hiperbolis

Dalam kisah lalunya, kita sudah mengetahui bahwa Maman adalah pecinta yang gagal. Ia jatuh hati, mencintai, dicintai, dikhianati, memafhumi, dan akhirnya ia sendiri yang tertusuk belati. Bagi kalian, silakan tafsir sendiri. Apakah memang Maman adalah seorang yang naif, atau memang ia terkena kutukan.

Kalian bebas berpendapat, karena yang sama-sama kini kita ketahui, para warga Indonesia sebagian besar kini mulai tinggi angka mengomentarinya. Namun, begitulah Maman. Ia akan bahagia sejadi-jadinya, tapi jika ia terpuruk, ia akan menangis sejadi-jadinya. Hiperbolis, berlebihan, menye-menye, cengeng, dan sebagainya.

Dalam kisah kali ini, kita tidak akan menemukan kisah panjang lebar seperti sebelumnya. Namun, kita akan membaca surat yang pernah ditulis Maman untuk perempuan yang saban hari mematahkan hatinya kembali. Surat yang kalian bisa tafsirkan sendiri maknanya. Kalian tak akan pernah bisa mendapatkan jawaban tuntas jika bertanya pada Maman. Maka daripada itu, para penikmat romansa, silakan nikmati. 

---

Di tengah malam, tengah bulan, tengah ruang, dan tengah tergesa-gesa, Maman menulis surat untuk perempuan yang ia kasihi. Maman baru kembali dari kenyataan pahit, pernyataan perempuan itu sesungguhnya, namun memang realitasnya. Seperti saat kau melompat dari gedung lantai seratus, kau jatuhi dirimu, dan akhirnya berujung mampus. Itu, mungkin yang kini sedang dirasakan Maman.

Sampai kapan pun, adat dan mayoritas orang dalam agamanya tak akan pernah memandang dengan wajar. Jika ia bersama perempuan yang dikasihinya, ia akan masuk ke dalam neraka bernama asosial, dan dicampakkan oleh sebagian masyarakat. Dan, khususnya keluarga.

Pada hari itu, Maman menulis dengan tergesa-gesa. Hatinya, suaranya, dan air matanya :

Andai aku seorang sayid 
Lahir dari keluarga mulia, dijadikan patron dalam asa, menjadi ukhwah dalam pandangan mata.

Andai aku seorang sayid
Dielukan sebagai pemuka, dijunjung sebagai seorang mulia, menjadikannya aku dipuji tanpa cela.

Andai aku seorang sayid
Semuanya menghormati, tanganku disalimi, dan ta'dzim menjadi makananku setiap hari

Andai aku seorang sayid
Seakan aku bisa memiliki dunia, akhirat digenggam tangannya, kisahku tiada duanya

Namun, 

Jika aku seorang sayid
Apakah aku bisa tetap bersamamu? Menemuimu seperti kala dulu kita berjumpa, mengadu rasa, dan tanpa khawatir perbedaan status yang menjulang di antara kita?

Jika aku seorang sayid
Masihkah kita akan tetap berjumpa, tanpa khawatir adanya aturan yang mesti dijaga oleh keluarga, tanpa mengecewakan orangtua?

Jika aku seorang sayid
Masihkah kau mau menerima aku, bukan karena darahku, dan bukan karena status mewah lainnya, melainkan karena ada cerita, yang ada dalam garis waktu di antaranya?

Jika aku seorang sayid
Maukah kau menunggu, bersabar, serta tidak menangis lagi? Karena jika aku bisa menjadi seorang sayid, aku tak akan sampai hati melihat mata teduh dan lesung pipimu yang basah karena air mata.

Namun, saat Maman ingin melanjutkan lagi surat itu, ia tak sanggup. Pergolakan batin yang menyakitinya kini.

Sungguh, Maman hanyalah pemuda biasa yang sedang jatuh hati pada seorang perempuan. Namun, apakah kisah cinta bisa berjalan seperti kisah klasik dalam setiap dongeng, maupun fiksi? Tentu tidak mungkin. Ini realitas!

Maman sungguh masih menghargai apa pun yang menjadi penghalang kisahnya. Orangtua khususnya, dan adalah kenyataan bawah perempuan yang ia kasihi kini adalah keturunan dari seorang mulia, yang Maman sungguh juga mencintainya. Ia tak sampai hati. 

---

Maman menutup suratnya itu. Ia simpan, hingga ia ketahui (kadang) ada suatu hal yang tak bisa ia lawan. Meski Maman mengetahui adalah agama yang kini dianutnya menjunjung tinggi egaliterisme, tapi kali ini ia mengalah, atau mungkin dirinya sendiri memang hanya seorang pecundang.

Di tepi kamarnya, ia terlelap, dan menangis.