2 tahun lalu · 55 view · 6 menit baca · Gaya Hidup download_17.jpg
Sumber : Google

Anda Berhenti Merokok atau Saya Turun?

Suatu ketika di tengah jam pelajaran, guru saya menawarkan pembahasan mengenai batang tembakau. Daripada suntuk, kami setuju. Di penghujung bahasan, guru saya berkata dengan penuh keyakinan di sorot matanya, “Jika kalian pulang sekolah dengan angkutan umum dan mendapati supirnya merokok, katakan: Anda berhenti merokok atau saya turun?”

Kala itu saya dan teman-teman hanya berpandangan dan menimbang-nimbang nasihat guru kami dalam hati masing-masing. Selepas pelajaran, saya dan beberapa teman berdiskusi soal peluang keberhasilan teguran itu. Di tengah pembicaraan, seorang teman berkata, “Palingan kita yang didepak dari mobil angkutan. Apalah daya anak-anak terhadap orang dewasa di mata adat dan sopan santun.”

Budaya timur menerjemahkan sikap menggurui terhadap orang yang lebih tua sebagai hal yang menyimpangi norma kesopanan—dasarnya jelas, orang dewasa punya berkali lipat pengalaman hidup. Walaupun saya dan teman-teman saya sepenuhnya yakin bahwa rokok memang pantas pelarangannya, kami memilih patuh.

Tidak mungkin saya mentah-mentah memuntahkan fakta bahwa menurut dr. Widyastuti Soerojo dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), 75% zat berbahaya rokok akan dialokasikan ke asap rokok, alih-alih 25% zat berbahayanya terisap ke tubuh perokok. Respon yang kemungkinan besar akan saya terima adalah sebuah pelototan  yang dengan sinis berkata, “Lihatlah anak ini. Baru juga SMA sudah berlagak seperti pakar kesehatan.”

Dengan dominasinya terhadap pemasukan negara dan topangannya terhadap 6,1 pekerja industrinya (termasuk 1,8 juta petani tembakau dan cengkeh), peredaran rokok sulit ditumbangkan.

Terlebih beberapa penelitian yang mengungkap manfaat tembakau dalam mengurangi risiko kanker payudara dan kanker kulit (jurnal National Cancer Institute), penyakit Parkinson (jurnal Neurologi, Maret 2007) hingga membunuh kuman penyebab TBC (University of Central Florida) segera membungkam mereka yang melayangkan protes. Menghadapi tuntutan para perokok pasif yang 3-50 kali lipat lebih berisiko terkontaminasi zat berbahaya lewat hembusan asap, para perokok aktif menegakkan hak perokok yang berangkat dari hak asasi manusia.

Asap rokok akrab dengan gugusan pulau nusantara. Sejak masih nyaman di rahim ibu, tidak sedikit anak-anak Indonesia yang sudah berkenalan dengan asap rokok. Jika bukan karena anggota keluarga mereka adalah perokok, 90 juta perokok di antara 250 juta penduduk nusantara adalah agen yang potensial untuk mengakrabkan generasi-generasi selanjutnya dengan batang tembakau.

Tidak heran Atlas Tobacco dalam risetnya menyebutkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah perokok terbanyak di dunia. Jika dihitung-hitung, maka tidak menutup kemungkinan bahwa 160 juta penduduk yang tidak aktif merokok adalah perokok pasif. Dengan penelitian yang tidak menyebutkan khasiat asap hasil pembakaran tak sempurna tembakau, pantaslah para perokok pasif mencanangkan hak non-perokok untuk membela kesehatan mereka.

Karena eratnya hubungan dengan eksistensi bangsa, rokok tidak segan menawarkan efek buruknya secara langsung. Entah untuk sopan santun atau ucapan terima kasih atas kontribusinya, Indonesia memberi toleransi bersyarat atas nikotin yang menjelajahi pulau dan lautnya. Syaratnya tidak muluk-muluk: perusahaan rokok tidak patut bungkam atas dampak negatif produk mereka dan etika patut membatasi konsumsi rokok atas mereka yang masih di bawah umur.

Hal ini membuat kami harus kenyang akan peringatan soal bahaya rokok—baik seperti yang disampaikan orang tua dan guru-guru non perokok maupun yang diungkap sendiri oleh produsen rokok di penghujung iklannya. Tapi seolah meninggalkan nilai kepedulian terhadap sesama, beragam media yang menyuarakan bahaya rokok hanya menjelaskan dampak fisik bagi para perokok.

Alangkah baiknya apabila bahaya menjadi perokok pasif dan pengaruh asap rokok terhadap lingkungan sekitar lebih dipublikasikan lagi agar masyarakat luas tidak hanya menoleransi keberadaan rokok tanpa menyadari bagaimana rokok itu sendiri intoleran terhadap mereka.

Tapi di tengah masyarakat yang tingkat stresnya mengalami peningkatan sejak lebih dari 20 tahun (Journal of Applied Social Psychology), apalah artinya kerusakan fisik yang lambat tampak dibanding kenikmatan psikis yang serta merta menjangkiti.

Di samping itu, status kejantanan (yang oleh sejarah budaya diwariskan dengan menggandeng batang tembakau) mudah saja membutakan konsumen atas bayang-bayang kanker, impotensi, dan lain sebagainya di masa depan seperti halnya cinta yang membutakan sepasang kekasih atas patah hati dan pengkhianatan.

Mengingat toleransi adalah salah satu nilai budaya timur, senyum kecut dan gestur seadanya adalah sikap defensif yang paling pantas—apalagi bagi orang-orang muda macam saya dan remaja-remaja sebaya saya.

Tindakan paling keras adalah teguran yang mana hanya pantas apabila alasannya kuat: anak-anak, orang berumur, atau ruangan tertutup. Dan tanpa perlu dikata, asap rokok tidak akan peduli sekeras apa lingkungan mengisyaratkan penolakan, dia tetap agresif menyatakan eksistensinya.

Barangkali berangkat dari penuntutan hak perokok dan hak non-perokok serta toleransi yang lama kelamaan menyukarkan, pemerintah mengusahakan keadilan yang nyata. Para perokok ingin diberi kebebasan merokok, non-perokok menghendaki kebebasan dari asap rokok.

Sekali waktu pernah saya melihat sebuah ilustrasi yang menampilkan seorang perokok memakai sebuah alat semacam masker. Alat itu memiliki sistem yang tampaknya bekerja dengan mengirimkan asap dari rokok yang diisap kembali pada sang perokok tanpa menyebarkan sepeser pun asapnya ke lingkungan.

Itu adalah ide yang tepat untuk menjadi solusi dari pertikaian ini. Saya tidak tahu bagaimana pendapat para perokok atas alat itu (saya juga belum tahu apakah alat tadi benar dikembangkan atau hanya sekedar kritik sosial), tapi tampaknya pemerintah lebih memilih untuk mengambil kebijakan yang lebih praktis : Kawasan Tanpa Rokok dan Smoking Area.

Ada pernyataan yang menyebutkan bahwa peraturan ada untuk dilanggar. Terkhusus di tempat umum, smoking area tidak jarang hanya jadi pajangan. Siapa pula yang mau menghabiskan waktu dengan mengandangi diri di ruangan sempit berasap jika napas bisa bebas di tempat lapang?—ah, bukankah ini trik yang cerdas untuk menghindari konsumsi rokok di masyarakat?

Berterima kasih pada tingginya toleransi, sebagian besar perokok masih akan berpikir dua kali untuk membakar tembakaunya jika ia menolak untuk menggunakan smoking area. Sebagian kecil perokok yang tenang-tenang saja menghamburkan nikotinnya di udara bebas tinggal menunggu teguran dari pengelola tempat itu ataupun dari pengunjung di sekitarnya yang terganggu.

Di suatu tempat yang sering sekali saya kunjungi terdapat kawasan bebas rokok. Suatu ketika saya berkunjung ke sana bersama teman saya yang tidak percaya bahwa ada papan dengan tulisan “Kawasan Bebas Rokok” tergantung menjulur dari langit-langit.

Kami hanya bisa tersenyum miris karena daerah itu adalah titik yang umumnya diramaikan oleh para perokok—beserta rokok mereka tentunya. Tidak ingin berprasangka buruk, teman saya berkata, “Mungkin maksudnya di daerah ini orang bebas merokok.” Itu adalah komentar yang jenaka. Tapi saya terlalu sibuk menganggapnya dengan serius hingga hanya sempat tersenyum pendek.

Dalam penelitiannya, World Bank mendemonstrasikan bahwa umumnya apabila konsumsi rokok dikurangi, beberapa negara akan memperoleh keuntungan baru dengan dibelanjakannya uang rokok untuk barang dan jasa lainnya; yang mana hal ini dapat menyebabkan dua hal: bertambahnya pemasukan negara dan pembukaan lapangan kerja alih-alih penumpukan pengangguran industri rokok.

Berkaitan dengan wacana peningkatan harga dan pajak rokok, terdapat argumen yang menyebutkan bahwa pemerintah tidak akan kekurangan pendapatan dengan menerapkannya. Hal ini dapat terjadi karena peningkatan pajak tidak sebanding dengan penurunan konsumen rokok (perokok yang sudah kecanduan akan tetap membeli rokok tanpa peduli harganya).

Tembakau sudah menjadi bagian sejarah dan tonggak ekonomi bangsa. Rokok adalah bagian dari pergaulan rakyat. Dampak negatif dan positif saling berjejalan di dalam sebatang tembakau.

Dengan toleransi yang cerdas, golongan perokok dan golongan non-perokok akan dapat menikmati hak mereka masing-masing dan saling menghormati hak satu sama lain. Karena masa depan Indonesia tidak hanya bergantung pada IPTEK, politik, dan ekonomi, tapi juga pada kekayaan budaya dan warisan moral.

Dalam keseharian, saya sukar menyatakan ini. Tapi melalui tulisan ini, saya ingin menyampaikan bahwa kami para perokok pasif tidak akan menghalangi para perokok aktif untuk memenuhi kebutuhannya akan nikotin.

Kami hanya ingin para perokok aktif menikmati sendiri hembusan asap tembakau mereka seperti mereka menikmati isapan tembakaunya, alih-alih menawarkan nikotinnya secara cuma-cuma tanpa daya kami untuk benar-benar menolak tawaran itu. Sebagai generasi muda, saya dan teman-teman saya sangat mendambakan kebebasan kami dalam menyamankan bumi pertiwi untuk masa depan.

Hargailah kami yang tidak merokok seperti kami menghargai para perokok—hingga jika (akhirnya) saya berani berkata seperti yang diajarkan guru saya, para supir angkutan umum akan merespon dengan senyuman dan mematikan puntung rokoknya.

#LombaEsaiKemanusiaan