Pada akhir tahun 2019 hingga saat ini kita masih ditakutkan dengan ancaman virus korona, angka kematian akibat virus ini juga masih terbilang tinggi di berbagai wilayah. Selain itu, pada pertengahan April dunia kembali dihebohkan dengan kabar kematian masal di India akibat virus korona.

Saat ini negara Indonesia mulai menutup akses masuk warga negara Indonesia yang datang dari luar negara baik melalui jalur darat, laut maupun udara agar penyebaran virus korona gelombang kedua tidak masuk ke negara Indonesia.

Sebab berita covid-19 gelombang kedua yang mencengangkan ini telah menciptakan kekhawatiran bagi masyarakat. Perlu diketahui sebenarnya kita sudah hidup berdampingan dengan virus maupun bakteri sejak dulu. 

Manusia sudah mengkonsumsi obat anti bakteri dan atau vaksin bakteri maupun virus seabad yang lalu, semenjak Alexander menemukan penisilin. Kemunculan virus maupun bakteri juga berkaitan erat dengan perubahan suhu yang dipicu oleh fenomena pemanasan global.

Dampak Pemanasan Global

Pemanasan global merupakan suatu fenomena yang di picu oleh kegiatan manusia terutama dalam hal penggunaan bahan fosil maupun pengalihan hutan menjadi lahan perkebunan, pertambangan, perumahan, dan lain seterusnya.

Kegiatan tersebut berdampak pada kenaikan kadar karbon dioksida (CO2) di atmosfer dan menyebabkan terjadinya mekanisme efek rumah kaca. Disebut dengan efek rumah kaca karena adanya peningkatan suhu bumi akibat suhu panas yang terjebak di dalam atmosfer bumi.

Prosesnya mirip seperti rumah kaca yang berfungsi untuk menjaga kehangatan suhu tanaman di dalamnya. Peningkatan suhu dalam rumah kaca terjadi karena adanya pantulan sinar matahari oleh benda-benda yang ada di dalam rumah kaca yang terhalang oleh dinding kaca, maka udara panas tidak dapat keluar (greenhouse effect).

Salah satu akibat dari pemanasan global ini yakni mencairnya es di kutub utara akibat suhu udara yang meningkat, membuat bakteri dan virus yang telah lama tidur akan bangun kembali. Lantas apa yang akan terjadi jika kita dihadapkan dengan bakteri dan virus purba yang hidup ribuan tahun terdahulu?

Diketahui pada tahun 2016 lalu, di tempat terpencil Siberia yakni semenanjung Yamal ada seorang laki laki berusia 12 tahun meninggal dan sekurangnya ada 20 orang dirawat akibat terinfeksi antraks. Padahal penyakit ini sudah lama tidak menjangkit daerah tersebut.

Menurut para ahli, penyakit antraks dulu menyerang rusa kutub maupun mamalia lainnya yang disebabkan oleh jenis bakteri Bacillus anthracis. Bakteri ini mempunyai kemampuan dalam membuat spora yang memungkin dia untuk berhibernasi dalam suhu ekstrim. 

Mencairnya es di kutub utara akan membuat bangkai rusa kutub terbebas dan melepaskan antraks ke air dan tanah di dekatnya, lalu masuk ke dalam persediaan makanan. 

Lebih dari 2.000 rusa penggembalaan di dekatnya menjadi terinfeksi, yang kemudian menyebabkan terjadinya infeksi penyakit tersebut pada manusia. Lantas apakah hanya bakteri Bachilus antharacis saja? kemungkinan besar masih banyak jenis bakteri dan virus yang masih belum kita ketahui. 

Dalam sebuah studi pada tahun 2014 Claverie mampu mengaktifkan kembali virus yang telah terkubur selama 30.000 tahun yang lalu, dikenal sebagai Pithovirus sibericum dan Mollivirus sibericum, mereka meupakan virus raksasa sebab ukuran mereka lebih besar dan bisa terlihat di bawah mikroskop biasa.

Menurut Claverie “kebanyakan virus dilemahkan dengan cepat di luar inangnya, dengan cara pengeringan atau degradasi spontan” namun semakin besar ukuran virus semakin susah untuk dibunuh sebab susunan DNA ataupun RNA semakin kompleks.

Selain itu virus yang telah lama terkubur di dalam es juga mempunyai ketahanan tubuh yang sangat kuat sebab hanya jenis virus dan bakteri tertentu yang mampu bertahan dalam suhu ekstrim dan sedikit makanan. Sehingga ini menjadi dasar bahwa virus dan bakteri ini bisa menjadi ancaman baru dalam penyebaran wabah di kemudian hari

Walaupun sebenarnya pasti ada tumbuhan ataupun fungi pada zaman itu mempunyai anti bakteri tersebut, sebab tumbuhan maupun fungi secara alami memproduksi anti bakteri untuk melindungi tubuhnya agar tidak terinfeksi bakteri pathogen tersebut.

Namun tak semua tumbuhan yang hidup pada zaman sekarang sama dengan tumbuhan masa lalu, sebab semua mahluk hidup pada dasarnya akan melakukan evolusi untuk bisa survive di di alam.

Jadi Apakah Kita Harus Takut dengan Hal ini ?

Dalam hal ini salah satu argument bahwa resiko adanya pathogen purba secara inheren masih belum diketahui, sehingga kita cukup waspada dalam menangani ini  namun yang perlu diwaspadai adalah ancaman pasti dalam perubahan iklim

Penyakit yang mungkin terjadi adalah penyakit dari sisi selatan bumi,  bukan hal mustahil wabah penyakit selatan bermigrasi ke bagian utara bumi  contohnya wabah malaria, kolera hingga demam berdarah sebab pathogen ini berkembang di udara yang hangat.

Namun jika bakteri dan virus itu memang benar ada, maka system kekebalan tubuh kita pasti belum siap untuk menerima bakteri dan virus purba tersebut namun saya yakin penyakit tersebut bisa disembuhkan dengan antibiotic maupun vaksin yang akan terus berkembang sama halnya dengan virus korona .