52262_13424.jpg
Sumber: Getty Images.
Politik · 6 menit baca

Ancaman Terbesar Bangsa Ini Bermula dari Rumah
Cara Mendeteksi dan Mengobati Politisi Beracun

Sebagai orang tua dari seorang putri berusia 7 tahun, saya dan istri membekali diri dengan mengikuti akun-akun instagram mengenai parenting. Dalam beberapa bulan ini, saya sering membaca/menonton artikel-artikel mengenai “Toxic Parenting”. 

Setelah coba meriset mengenai hal ini, saya menemukan bahwa istilah ini dipopulerkan oleh Dr. Susan Forward dalam bukunya “Toxic Parents: Overcoming Their Hurtful Legacy and Reclaiming Your Life” yang diterbitkan pada tahun 2002. Ulasan yang apik dan komprehensif dari buku ini bisa diakses di sini.

Secara singkat, label “toxic parents” ini diberikan kepada orang tua yang menciptakan kondisi yang membuat anak terpaksa untuk cinta kepada mereka. Anak dianggap sebagai alat, investasi, cerminan diri orang tua, pokoknya anak adalah segala hal yang seharusnya menguntungkan orang tua yang telah mengandung dan membesarkannya. Hal yang jelas bagi toxic parents adalah, anak bukan manusia independen yang boleh mengambil keputusan sendiri.

Istilah toxic parenting kemudian mendapatkan momentum untuk bersinar ketika akun Instagram Kei Savourie mengunggah tulisan-tulisan mengenai toxic parents di Instagram Story dan kemudian disebarkan melalui akun Facebook Gabriel Gertruida

Tanggapan yang muncul hanya melalui akun media sosial cukup mencengangkan karena ternyata tidak sedikit anak yang menjadi korban salah asuhan ini. Hal ini tidak bisa dianggap sepele, perlu dibangun sebuah kesadaran kolektif mengenai bahaya toxic parenting, karena konsekuensinya besar. 

Kenapa konsekuensinya besar? Karena keluarga adalah unit politik terkecil yang menjadi tempat pembentukan karakter bangsa.

Sesungguhnya kita sudah bisa melihat dampak dari pola asuh toxic dari relasi yang terjadi antara para politisi dengan masyarakat. Ternyata politisi juga menerapkan pola kekuasaan yang beracun. Dalam tulisan ini saya hanya akan menjabarkan 4 (Empat) ciri-ciri politisi racun berdasarkan ciri toxic parenting.

1. Mereka Selalu Punya Alasan Ketika Berbuat Salah

Politisi Racun punya seribu cara memutar kata-kata ketika berbuat salah, sehingga rakyat terjebak untuk (a) Pasrah dengan kesalahan politisi, atau (b) Percaya bahwa kesalahan mereka adalah normal dalam politik.

Contoh, wajar kalau anggota DPRD korupsi, karena sudah habis banyak uang untuk kampanye. Atau, wajar kalau korupsi, karena sulit untuk jadi bersih di sarang penyamun. Ketika hal ini terucap oleh seorang warga negara, maka sesungguhnya negara ini sudah jadi korban dari politisi racun.

2. Tidak Menyukai Ekspresi Emosi Negatif (Rakyat Harus Takut Sekaligus Cinta)

Undang-undang MD3. Meskipun pasal-pasal kontroversial sudah dibatalkan MK, tapi upaya menggolkan pasal tersebut sudah terang benderang masuk ke agenda dari politisi racun. Salah satu pasal kontroversialnya adalah bahwa DPR bisa memanggil paksa warga negara dengan bantuan kepolisian.

3. Reaktif Secara Emosional

Politisi Racun tampak memiliki kesulitan untuk mengendalikan emosinya, suka “lebay”, “drama queen”, dengan tujuan mengaburkan logika rakyat lalu memainkan emosi rakyat, memancing rasa iba, untuk kemudian memposisikan rakyat sebagai alat kekuasaan si Politisi Racun. Sepertinya bagian ini terasa sangat tidak asing dalam keseharian politik kita.

4. Mengendalikan Pikiran dengan Uang dan Kekuasaan

Indikasi bahwa rakyat teracuni oleh para politisi racun adalah ketika rakyat merasa berhutang dengan politisi (dalam hal ini anggota legislatif). Ya, hal paling absurd dalam kehidupan manusia adalah, hanya karena dibagi sembako dan amplop atau didatangi ketika berduka atau berpesta, rakyat dibuat merasa berhutang pada wakil mereka. Dengan harapan, rakyat menganggap wakilnya bekerja! 

Pola hegemoni ini juga sering ditemui di toxic parents, ketika anak dibuat seakan-akan berutang karena sudah dirawat dan disekolahkan. Padahal hal-hal demikian memang konsekuensi yang mendasar ketika sepasang manusia ingin punya anak.

Orang Tua Jahat dan Politisi Racun

Dr. Forward dalam bukunya mengkategorikan tipe-tipe orang tua toxic menjadi 7 (Tujuh) macam, yaitu :

  1. Orang tua Godlike, yang mengkondisikan diri mereka adalah dewa bagi anaknya, dan anak tidak bisa berbuat apapun tanpa jasa orang tua.
  2. Orang tua Cupet (inadequate), orang tua yang memaksa anak untuk melayani kebutuhan orang tua dan menghilangkan hak-hak anak untuk tumbuh kembang.
  3. Pengendali, anak tidak boleh berbeda dari orang tua. Sama sekali.
  4. Mulut Pedes, orang tua yang selalu merendahkan anak di depan umum secara verbal.
  5. Ringan Tangan, orang tua yang suka main fisik untuk menghukum atau “mendisiplinkan” anak.
  6. Alkoholik, jenis orang tua yang racunnya paling lengkap.
  7. Penjahat Seks, jenis orang tua dengan kejahatan paling tinggi, karena mengkhianati seluruh konsep kemanusiaan. Memanfaatkan relasi orang tua-anak yang sangat timpang, sehingga anak dibuat tidak bisa bicara, bahkan dipaksa untuk “menormalkan” kejahatan yang terjadi.

Dari penjelasan di atas, kita sebenarnya tinggal mengubah kata “orang tua” menjadi “politisi racun”, dan “anak” menjadi “rakyat”. Saking masifnya proses peracunan bangsa, pola yang sama bisa kita lihat mulai dari unit politik terkecil yaitu keluarga dan diamplifikasi di level nasional oleh politisi racun. Mulai sekarang, kita bisa cetak sebuah panduan untuk menilai seorang politisi racun berdasarkan tipe apa.

Apa Akibat Racun Ini?

Menurut Catherine Huang, ada beberapa dampak dari pola asuh yang beracun. Dalam tulisan ini saya akan menjelaskan 4 (empat) saja, karena sangat relevan dengan yang juga terjadi di level negara, yaitu :

1. Risiko Tinggi Mengalami Gangguan Kecemasan

Seandainya beberapa pasal dalam UU MD3 tidak dibatalkan MK, maka kita tidak bisa secara sembarangan berbicara tentang anggota DPR. Bayangkan kondisi yang harus kita lalui sehari-hari, di mana tidak ada keleluasaan untuk sekadar curhat di media sosial tentang kejengkelan kita. 

Bayangkan kita harus selalu menengok ke belakang ketika sedang diskusi di warung kopi, untuk memastikan tidak ada yang menguping. Kecemasan seperti ini pernah mau dibangun oleh para politisi racun. Bahkan tanpa UU MD3 sekalipun, ada ketakutan akan komentar politik kita menyinggung pendukung seorang politisi.

2. Risiko Mengalami Gangguan Stress Pascatrauma

Saya bukan ahli kejiwaan, sehingga tidak mungkin bicara mengenai teknis gangguan stress pascatrauma. Tapi sebagai pengamat sosial, maka saya bisa melihat ada gejala yang bisa dihubungkan, misalnya: pola pikir negatif, putus asa menghadapi masa depan, mudah marah. 

Kalau Anda menemukan seorang atau sekelompok politisi sedang mengajak Anda agar marah, agar berpikiran negatif, atau memberikan kecemasan berlebih tentang masa depan bangsa, maka waspadalah karena Anda sedang diracun.

3. Sulit Untuk Mengatakan Tidak

Contoh kasus : misalnya anda ingin protes terhadap seorang anggota DPRD yang ingkar terhadap janjinya kepada anda, lalu di suatu kesempatan anda bertemu dan anda diberikan janji lain lagi. 

Anda tahu bahwa janji kedua lebih tidak mungkin ditepati, tapi anda tidak bisa mengatakan “tidak”, bahkan lebih parah, anda merasa harus tetap mencintai politisi racun tersebut. Kalau ini terjadi pada anda, maka racun dari para politisi sudah meresap ke dalam diri.

4. Keterikatan Pada Hubungan Yang Tidak Sehat

Masyarakat sulit mengatakan tidak pada politisi racun, tapi masyarakat sinis kepada politisi baru yang menawarkan ide baru? Itu gejala paling nyata dan jelas bahwa kita sudah diracuni secara sengaja oleh politisi racun. 

Ketika terlontar dari mulut masyarakat kalimat: “Ah, tau apa dia, masih bocah kok mau masuk politik”, padahal dia tahu persis kebusukan politisi racun yang sedang menjabat, maka perlu ada tindakan detoksifikasi agar racun tidak menyebar lebih parah.

Bagaimana Mengobati Racun Ini?

Berdasarkan pembacaan saya terhadap kasus toxic parenting, semua artikel menyarankan untuk putus hubungan dengan pelaku pola asuh racun ini. Setelah itu juga tidak serta merta permasalahan hilang. 

Hal yang sama berlaku dengan korban politisi racun. Setelah seumur hidup kita diracuni oleh para politisi racun, maka tidak mungkin kita berubah dalam waktu semalam, seminggu, sebulan, bahkan setahun. Butuh upaya kolektif dari masyarakat untuk sadar dan bangkit melawan ketertindasan para Politisi Racun ini.

Langkah-langkah awal yang bisa diambil adalah :

  1. Jangan melupakan kejahatan mereka. Kita harus sadar penuh bahwa politisi racun sengaja merusak masyarakat demi kepentingan mereka.
  2. Putuskan hubungan dengan politisi racun. Alasan apapun yang mereka keluarkan, jangan percaya lagi! Kenali mereka dengan ciri-ciri yang sudah dijabarkan sebelumnya. Lalu buang mereka dari pikiran anda.
  3. Kenali potensi diri kita sebagai masyarakat. Dalam sebuah sistem politik yang baik, maka kekuatan utama suatu negara adalah masyarakatnya. Kita harus mempelajari apa saja kelebihan kita, apa saja yang seharusnya menjadi hak kita, dan apa yang sudah menjadi kewajiban kita untuk bersama Politisi Sehat bekerja sama membangun bangsa.
  4. Bangun komunikasi yang sehat dan seimbang dengan Politisi Sehat. Politisi dipilih dan bekerja atas dasar pilihan sadar kita sebagai masyarakat. Kalau kita sudah sadar mengenai kejahatan para politisi racun, maka jangan pernah pilih politisi yang masuk ke kategori itu lagi, dan mulai beralih ke politisi baru yang Sehat.

Kita hanya bisa melakukan ini apabila kita sadar bahwa kita adalah korban, dan kita perlu berusaha bersama. Tanpa ada kesadaran kolektif, maka kita akan selamanya menjadi alat para politisi racun.