Guru
2 bulan lalu · 183 view · 5 menit baca · Lingkungan 14770_23633.jpg
Lepistes Kulübü

Ancaman Sampah dan Krisis Air Bersih

Refleksi Hari Bumi Sedunia

Bukan tanpa alasan aktivis lingkungan memperingati Hari Bumi (Earth Day) sedunia setiap tanggal 22 April. Hal ini untuk mengingatkan kepada masyarakat dunia akan kesadaran dan apresiasi terhadap planet yang ditinggali manusia. 

National Geographic melansir gagasan untuk menyelamatkan bumi dari krisis ekologi muncul dari seorang senator Amerika Serikat asal Wisconsin, Gaylord Anton Nelson pada tahun 1970, seorang pengajar lingkungan hidup. 

Ide ini bermula ketika dia berpidato di negara bagian Seattle 1969 yang membahas tentang isu-isu kontroversial, di antaranya tentang bumi. Selanjutnya disebarluaskan dan diperingati sejak tahun 1970.

Ancaman yang dihadapi bumi sangat banyak, tetapi ada dua masalah besar dan berat yang dihadapi bumi saat ini, yaitu ancaman sampah dan krisis air bersih yang belanda bumi.

Ancaman Sampah dan Solusinya

Beragam kerusakan lingkungan di bumi ini menyebabkan turunnya kualitas lingkungan serta dapat mengakibatkan terjadinya bencana seperti banjir, longsor, kekeringan, kebakaran hutan, maupun krisis air bersih. 

Kerusakan lingkungan secara global disebabkan oleh perbuatan manusia dan akan berdampak pada manusia juga. Tidak bisa dimungkiri sampah merupakan salah satu yang turut andil dalam penurunan kualitas lingkungan hidup.

Ancaman sampah merupakan permasalahan yang sangat serius dan perlu segera penanganan yang berkelanjutan, jadi tidak hanya berupa program semata. Program yang digulirkan oleh pemerintah hanya semata untuk memenuhi kelengkapan anggaran di bidang lingkungan hidup belaka. 

Walaupun pemerintah telah menerbitkan UU Pengelolaan Sampah Nomor 18 Tahun 2008, beserta Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga, tetapi undang-undang dan peraturan pemerintah tersebut masih berjalan di tempat.

Permasalahan sampah bukan hanya isu lokal, tetapi juga isu nasional dan internasional. Karena sampah berpotensi untuk menimbulkan permasalah bencana lingkungan dan mengganggu kesehatan. 

Sampah juga sumber konflik antara masyarakat dengan masyarkat, antara masyarakat dengan pemerintah, dan antara pemerintah daerah dengan pemerintah daerah. Beberapa contoh konflik di beberapa daerah yang bersumber dari permasalahan.


Beberapa program yang dicanangkan pemerintah pusat atau daerah, seperti penyuluhan, workshop, diklat, seminar tentang sampah, membentuk bank sampah, pengelolaan sampah dengan sistem 3 R (reuse, recycle, reduce), program sekolah adiwiyata, serta program adipura bagi kota/kabupaten hanya sekedar prestise kepala daerah. 

Program tersebut belum mampu mengatasi permasalahan sampah yang setiap hari semakin rumit dan jumlah sampah semakin menggunung, terutama sampah plastik yang tidak bisa terurai sepanjang masa.

Program pengelolaan sampah sudah banyak dilakukan secara perorangan, kelompok masyarakat, lembaga pendidikan, dunia usaha atau LSM dengan bekerja secara mandiri atau kemitraan dengan pemerintah. 

Contoh program pengelolaan sampah menjadi barang-barang yang lebih bermanfaat tetapi belum mampu secara sempurna menyelesaikan persoalan sampah. Laju produksi dan pembuangan sampah tidak seimbangan yang menangani pengelolaan sampah.

Ancaman sampah sudah sangat kronis dan perlu segera dicari solusinya dengan mencanangkan Gerakan Pengelolaan Sampah secara nasional dengan dasar menjalankan amanat UU Pengelolaan Sampah Nomor 18 Tahun 2008, saatnya perang melawan sampah dengan melakukan mitigasi sampah. Maka langkah-langkah yang perlu dilakukan, di antaranya;

Pertama, perlu adanya kesadaran dan tanggungjawab berbagai pihak dalam penanggulangi permasalahan sampah dengan tupoksi masing-masing. Terutama membangun kesadaran masyarakat tidak membuang sampah di sembarang tempat, karena mengubah perilaku masyarakat dengan budaya yang “menyampah” lebih sulit dari pada memberikan program.

Kedua, manajemen pengelolaan sampah yang modern. Saatnya Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Badan Lingkungan Hidup, dinas-dinas yang terkait, serta dunia usaha untuk merapatkan barisan bekerjasama dengan stakeholder yang kompeten menangani permasalahan sampah.

Ketiga, pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sampah. Bukan sekedar program pengelolaan sampah yang sifatnya hanya stimulan, tatapi secara berkelanjutan dengan pendampingan yang intensif. Program yang berjalan selama ini hanya semata mencairkan dan menghabiskan anggaran belaka, jadi masih jauh dari nilai-nilai pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.

Krisis Air Bersih dan Aksi Alternatif 

Air memiliki peranan yang sangat vital bagi kehidupan manusia, pasalnya tidak semua orang menyadari bahwa air yang terlihat tidak terbatas itupun bisa menjadi harta karun yang sangat sulit dicari. 


Seluruh air yang ada di bumi 97% merupakan air laut,  3% air tawar, dari 3% hanya 1% saja yang terseda untuk digunakan seluruh umat manusia di muka bumi. Anda bisa banyangkan hanya 1% air bersih yang tersedia seberapa lama kita bisa memanfaatkan? Terlebih lagi populasi manusia di dunia cendrung meningkat setiap tahunnya dan manusia tidak akan pernah lepas dari air. 

Sumber air bersih yang bisa digunakan justru sangat terbatas, berbeda dengan dengan udara yang bebas kita hirup. Bahkan UNESCO sudah memprediksi bahwa tahun 2020, dunia akan mengalami krisis  global. Pada tahun 2020 bahkan air bisa menjadi komoditi seperti minyak bumi. 

Dalam situs resmi UN-Water  peringatan Hari Air Sedunia, 22 Maret 2019 mengambil tema “Leaving No One Behind” dengan harapan tak ada satupun kalangan yang tak dapat akses air bersih. Target yang ingin dicapai adanya ketersediaan dan keberlanjutan terhadap penggunaan air untuk semua kalangan di tahun 2030. 

Maka pengelolaan sumber air bersih dan penggadaan air bersih menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar karena rata-rata curah hujan yang mencapai 2.779 milimeter pertahun, Indonesia seharusnya mampu menjadi negara yang kaya akan air.

Memang ironis, 66% dari air hujan tersebut justru berubah menjadi bencana banjir dan tanah longsor (Linda Khaerani, 2017). Pada  saat kemarau tiba, Indonesia sebagai negara kaya air ini pun krisis dan kekurangan air. 

Di sisi lain, air dieksploitasi dan dikomersialisasi oleh sebagai orang untuk kepentingan kelompoknya. Maka saatnya masyarakat dan pemerintah belajar mengatasi kelangkaan air bersih di masa mendatang melalui upaya berikut;

Pertama, menyelamatkan sumber daya air sesuai dengan amanat Undang-undang Dasar 1945 pasal 33 ayat 3 menyatakan “Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikusai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.  

Kedua, menggugah kearifan ekologis pada masyarakat dengan memanfaatkan air hujan kemudian sebagian dikembalikan ke alam untuk menigkatkan kualitas lingkungan hidup. Adapun caranya adalah dengan membuat sumur serapan air hujan, membuat biopori di tanah, dan memberikan kesempatan air hujan bisa meresap tanah dengan sempurna.

Ketiga, memasyarakatkan program IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah). Air limbah dari suatu daerah permukiman dikumpulkan dan diproses dengan teknologi IPAL kemudian dipergunakan untuk berbagai keperluan selain untuk mandi, mencuci dan minum. 

Program IPAL tidaklah asing bagi aktivis lingkungan dan sebagian masyarakat yang memperoleh program pendampingan, tetapi bagi masyarkat umum yang belum mengetahui IPAL akan terasa asing. Karena mayoritas masyararakat hidup di pedesaan biasanya air limbah dialirkan ke sungai, rawa, danau, laut dan tanah, serta pesisir pantai.


Keempat, perlu kesadaran semua pihak melakukan gerakan hemat air. Salah satunya menggunakan air limbah yang sudah dikelola untuk keperluan menyiram tanaman di perkantoran dinas, kecamatan, kelurahan, lembaga pendidikan, dan di tempat umum lainnya. Serta membangun daerah serapan air, seperti: hutan desa dan Ruang Terbuka Hijau.

Upaya mengatasi ancaman sampah dan krisis air bersih bisa dilakukan dengan baik jika seluruh komponen dalam masyarakat bekerjasama. Kesadaran masyarakat dalam menjaga, merawat, dan melestarikan lingkungan menyebabkan kualitas bumi akan semakin baik. 

Menjaga bumi bukan merupakan tanggungjawab perorangan saja, namun merupakan kesadaran dari semua pihak secara bersama-sama. Selamat Hari Bumi 22 April, mari mengelola sampah dengan baik agar air besih terjaga kualitasnya.

Artikel Terkait