Paradigma ilmu pengetahuan (sains) mendesak untuk dikampanyekan, oleh kita yang memiliki nalar dan akal sehat, sebagaimana produk atau politik dikampanyekan. Bukan untuk tujuan bisnis atau kekuasaan, tapi untuk membangun budaya nalar, menyemai scientific temper (perangai ilmiah) sebagai gaya hidup. 

Sains penting, karena, mengutip fisikawan Richard Feynman: “metode bagi manusia agar tidak mudah dibodohi; karena sejatinya manusia adalah makhluk yang paling gampang dibodohi.”

Khususnya saat ini, di era pasca-kebenaran (post-truth), fakta-alternatif, politik identitas dan semangat tribalisme semakin menggejala. Ketika perdebatan atau tafsir tentang realitas mulai mengarah ke pemikiran anti-sains. Ketika pikiran tanpa-nalar memiliki platform yang sama dengan yang nalar. 

Maraknya pseudosains, obscurantisme, teori konspirasi, matinya ekspertise, dan sejenisnya di era pasca-kebenaran (post-truth) yang melanda kehidupan masyarakat dunia sekarang ini.

Sains tidak seperti ideologi atau politik yang sering memecah-belah, sains menyatukan manusia. Untuk pertama kali dalam sejarah peradaban, manusia bisa bersatu dalam satu metode, satu pemikiran bersama, mengabaikan latar belakang kultural dan identitas.

Sering terjadi di kehidupan masyarakat kekinian,  tidak berfungsinya ilmu sains atau ilmu pengetahuan  sebagai dasar atau pijakan seseorang untuk berpikir. Terkadang disfungsional ini dipakai untuk memberikan pendapat mengenai suatu hal yang terkesan memaksa. Para pakar atau Ilmuwan biasa menyebut fenomena ini  dengan pseudosains.

Jika anda sedang browsing di internet, ada beberapa artikel yang memuat suatu uraian yang terkesan ilmiah tetapi jauh dari kata ilmiah, contohnya antara lain munculnya fenomena pseudosains di era pandemi Covid-19 karena masih adanya ketidakpastian sains tentang pemahaman manusia terhadap karakteristik virus SARS-CoV-2, penyakit dan komplikasi yang ditimbulkannya, hingga terapi preventif kuratif yang tepat untuk mengeradikasi Covid-19. 

Fenomena Segitiga Bermuda, suatu daerah di mana peristiwa yang tidak dapat dijelaskan, seperti hilangnya kapal dan pesawat terbang. Teori Bumi Rata  Klaim bahwa, karena Bumi terlihat dan terasa rata, itu harus datar dan berbentuk cakram, dan lain sebagainya. 

Mulai dari kehidupan sehari-hari hingga bidang yang bersifat ilmiah pun terkena fenomena ini, jadi apa sih pseudosains itu?

Istilah pseudosains, pertama kali muncul pada 1800-an, kombinasi dari bahasa Yunani, pseudo, yang berarti semu atau palsu, dan bahasa Latin scientia, yang berarti pengetahuan. Pseudosains memiliki konotasi negatif karena sering menunjukkan objek yang mendapat label ini digambarkan sebagai suatu yang tak akurat, tidak valid, dan berujung tidak dipercayanya sebagai ilmu pengetahuan.

Pseudosains juga dapat didefinisikan kumpulan kepercayaan dan praktik yang salah tanpa dilandasi alur metode ilmiah yang benar (Cover JA, 1998). Filsuf Karl Popper mengklasifikasi pseudosains sebagai demarkasi good science dan bad science.

Secara umum, Pseudoscience adalah suatu istilah yang digunakan untuk merujuk pada suatu bidang yang menyerupai ilmu pengetahuan namun sebenarnya bukan merupakan ilmu pengetahuan. Sesuatu yang menyerupai ilmu pengetahuan ini tidak valid dan memiliki banyak kekurangan, tidak rasional dan cenderung dogmatis. Dengan kata lain ilmu-palsu.

Pseudosains bisa juga dikatakan kumpulan pandangan yang berada di luar lingkup ilmiah. seni, nilai, kreatifitas, spiritualitas, sugesti, dan bagi banyak orang, merupakan aspek yang sangat penting dari eksistensi manusia. Subyek non-sains biasanya mudah dipisahkan dari sains.

Pseudo-sains muncul ketika ada yang mengklaim bahwa telah dibuktikan secara ilmiah, Padahal sebenarnya tidak. Keyakinan dan kepercayaan kadang-kadang menjadi pseudo-sains ketika ada orang yang berusaha mempopulerkan suatu keyakinan atau kepercayaan sebagai sesuatu fakta yang sudah terbukti secara ilmiah . Argumentasi seperti ini seringkali muncul ketika sains belum dapat menemukan jawabannya

Karakteristik kunci dari pseudosains adalah bahwa hal itu tidak sesuai dengan metode ilmiah. Ini berarti bahwa klaim ilmu ini terhadap suatu hal tidak dapat diuji, dan tidak mengikuti urutan logis. Banyak konsep-konsep ilmiah tidak dapat diuji dengan peralatan yang ada. Pseudosains tidak memiliki dukungan ilmiah, dan tidak dapat diuji.

Carl Sagan dalam bukunya “The Demon Haunted World”, yang membahas perihal pseudosains yang bisa kita renungkan dan cermati. Dalam bukunya, Carl Sagan menjelaskan bahwa cabang sains memiliki pseudosains pasangannya sendiri. 

Ahli geofisika menghadapi bumi datar, Bumi bolong, Bumi dengan sumbu naik-turun dengan liar, benua-benua yang timbul dan tenggelam dengan cepat, belum lagi peramal gempa, Ahli fisika, segerombolan amatir penyangkal relativitas, dan barangkali fusi dingin. Ahli kimia menghadapi alkimia. Ahli psikologi menghadapi banyak bagian psikoanalisis dan nyaris seluruh parapsikologi

Carl sagan menulis didalam bukunya ini bahwa sains merupakan jawaban untuk menangkal segala sesuatu yang berhubungan dengan pseudosains. Karena sains memuat  literatur-literatur ilmiah yang ditulis oleh para ilmuwan setelah melewati tahap yang tidak singkat. 

Untuk menciptakan literatur harus ada peer review. Terdapat standar yang ketat untuk kejujuran dan akurasi. Dalam pseudosains,  literatur-literatur yang ada tidak mengalami proses yang Panjang dimulai dari review sampai publikasi, hal ini membuat pernyataan yang ditujukan tidak terdapat adanya standar untuk mencapai peryataan yang valid. produk-produk ilmiah dapat direproduksi.

Masyarakat menuntut hasil yang dapat diandalkan. Segala eksperimen yang dilakukan harus dapat dijelaskan dengan tepat sehingga eksperimen tersebut dapat diulangi secara presisi. Pengulangan ini dilakukan dalam rangka perbaikan hasil atau penerapan dalam kasus atau peristiwa lainnya. Sedangkan dalam pseudosains, produk-produk psudo tidak dapat direproduksi atau diverifikasi. 

Meskipun ada studi atau eksperimen, tetapi begitu samar-samar digambarkan. Studi atau eksperimen tersebut pun prosedurnya kurang jelas sehingga masyarakat umum tidak mengetahui apa yang sebenarnya dilakukan dalam studi atau eksperimen atau bagaimana hal itu dilakukan dalam studi atau eksperimen.

Dalam sains, kegagalan dalam satu studi memang selalu dicari, karena teori-teori yang salah seringkali dapat membuat prediksi yang tepat meskipun itu karena faktor kebetulan. Dengan kegagalan ini akan tercipta teori yang benar. Ketika teori yang benar telah ditemukan prediksi yang dibuatkun tidak akan salah. Dalam pseudosains kegagalan akan selalu diabaikan, dimaafkan, disembunyikan, tidak dihitung,  dirasionalisasikan agar selalu benar, dilupakan, dan dihindari.

Sagan mewariskan sikap skeptisisme kepada para pembaca yang tampaknya menjadi hal yang hangat dan positif: alat yang digunakan untuk mengungkap keajaiban nyata dunia di sekitar kita, serta untuk menghilangkan delusi. 

Dalam perjalanan pembedahan kebodohan manusia yang menyenangkan, ia menceritakan beberapa anekdot yang indah. Dia cukup percaya diri untuk berbicara secara berpengetahuan tentang kenyataan yang sebenarnya dan dia mengkritisi sikap budaya masyarakat Amerika dan lainnya yang mengabaikan pendidikan dan menolak keingintahuan sistematis.

Sains dan Pencarian Kebenaran

Upaya “mencari kebenaran”, terinspirasi pemikiran Popper, perlu dimulai dengan membuat garis pemisah yang jelas antara sikap subyektif dan obyektif. Dengan metode demarkasi sains vs pseudo-sains dan falsifikasi. Dimulai dengan memilah antara yang epistemik (bagaimana kita tahu) dengan yang ontologis (realitas yang ada).

Upaya mencari kebenaran bersifat subyektif. Tidak ada pengetahuan epistemik yang obyektif. Termasuk sains dengan metode ilmiahnya. Pengetahuan epistemik adalah konstruksi manusia. Kita menamai susunan atom, struktur kimia, organisme, spesies, hingga sistem planet dan galaksi secara arbriter berbasis konsensus (dalam hal ini konsensus subyektif saintis dan ilmuwan).

Menafsirkan realitas ontologis adalah upaya mencari makna hidup. Pencarian makna lazimnya adalah wilayah agama, spiritualitas, atau filsafat. Sains tidak menyentuh pemaknaan, karena abstrak. Pertanyaan saintifik yang valid bukanlah “apa makna kehidupan”, melainkan “bagaimana membuat hidup lebih bermakna”. 

Makna hidup pada akhirnya harus dihadapkan atau didamaikan dengan “hal-hal yang tidak menyenangkan” dengan dunia. Misalnya soal penderitaan, ketidak-adilan, kejahatan, termasuk pandemi.

Manusia tidak perlu mencari kebenaran, melainkan cukup bagaimana menjalani hidup dengan benar. Kebenaran mungkin tidak akan ditemukan, karena tidak jelas lokus-nya. Namun manusia bisa merumuskan hal-hal benar. Kebenaran pada akhirnya adalah soal konsensus manusia, seperti kebenaran moralitas, misalnya, adalah sebuah probabilitas. 

Alih-alih terobsesi kebenaran, lebih relevan memastikan untuk terus-menerus berupaya mengurangi kesalahan. Rhichard Rorty dalam “The Contingency of Language” menyatakan “truth Is made rather than found.” Kebenaran sebagai konstruksi manusia, bisa dikonstruksi dan didekonstruksi.

Bukan tugas sains untuk mencari dan menemukan kebenaran. Sains hanya membantu menjelaskan realitas dunia. Secara umum, temuan sains telah membuka kesadaran manusia untuk meninggalkan paradigma antroposentris yang mengistimewakan manusia sebagai pusat dunia. 

Manusia tidak istimewa, cuma satu dari sekian banyak mahluk hidup, dan bukan ciptaan entitas supranatural. Stephen Hawking menyebut: “manusia adalah buih kimia di permukaan tipikal planet, yang mengorbit mengelilingi tipikal matahari, di tepian tipikal galaksi.”

Manusia muncul dari proses evolusi kehidupan yang panjang, berbagi genetik dengan semua mahluk hidup, dari bakteri sampai gorila. Secara genetik perbedaan manusia dan simpanse kurang dari dua persen. 

Namun perbedaan kecil ini memungkinkan manusia membangun metropolitan, membuat roket, mendarat di bulan dan mungkin menjelajahi planet; sementara simpanse tetap simpanse. Apa yang membedakan? Manusia memiliki sains, simpanse tidak. Ini kebenaran faktual yang patut dirayakan.

Apa yang harus kita lakukan untuk melawan ancaman pseudosains di era Post Truth?

Melawan segala bentuk pseudosains adalahn dengan sains itu sendiri (ilmu Pengetahuan). Gagasan maupun ide harus dilawan dengan gagasan atau ide yang sesuai dengan metodologi keilmuan dari berbagai aspek epistemologis, aksiologis, hingga ontologis. 

Sains dibangun dari sumber-bumber fisis yang dapat dikaji ulang oleh orang lain dan semua yang bersifat sains bermula dari premis-premis empiris dan bebas dibuktikan oleh siapapun. Perhatikan saja, ketika seorang saintis memulai segala sesuatu, maka ia berangkat dari makna filosofis yang didasari norma-norma profesionalisme yang selalu digelutinya.

Seperti yang Carl Sagan tuliskan dalam bukunya, Sagan kemudian mengingatkan akan dua sikap yang perlu dirawat dan dilakukan dalam memahami sains, yakni berupa berpikir kritis dan bersikap skeptis. 

Lebih lanjut, ia juga menjelaskan akan hakikat dari sains itu sendiri. Sains bukan sebatas kumpulan data maupun fakta, melainkan ia adalah sebuah cara berpikir. Frasa “cara berpikir” inilah yang kemudian harus ditekankan dan menjadi perhatian pada ruang-ruang diskursus pengetahuan.

Di luar itu, ketika ditarik pada periodesasi peradaban keilmuan, ada tiga masa yang telah berjalan, yakni zaman iman (faith age), zaman nalar (reason age), dan zaman tafsir (interpretation age). Dan pada saat ini peradaban berada pada zaman tafsir. Tidak salah ketika meminjam aforisma yang pernah diungkapkan oleh Friedrich Nietzsche—tak ada fakta, yang ada hanyalah interpretasi. 

Mafhum, orang kemudian mudah melakukan penafsiran tanpa memperhatikan otoritas keilmuan yang ada. Dilema ini kemudian melahirkan jurang pemisah antara ilmuwan dan non ilmuwan, antara tirai ketakpahaman dan persoalan komunikasi.

Kita yang memiliki nalar dan akal sehat harus memberikan pemahaman atau menyampaikan manfaat dari sains itu sendiri ke berbagai media seperti radio, tv, surat kabar. Dan lain-lain supaya masyarakat sadar akan pentingnya sains. Pemahaman mendasar mengenai sains dan metodenya harus tersedai dengan seluas-luasnya. 

Terlepas dari banyaknya kesempatan penyalahgunaan sains dapat membantu masyarakat keluar dari kemiskinan dan kemunduran pemikiran. Sains juga mengingatkan kita mengenai bahaya-bahaya yang diperkenalkan oleh teknologi. Sains mengajari kita tentang masalah-masalah terdalam terkait asal-usul, hakikat dan nasib spesies.

Sains sangat diperlukan pada zaman sekarang ini untuk membantu menemukan kebenaran yang jarang terlihat dan banyak yang hilang dalam sebuah kebingungan. Diperlukan sebuah dedikasi dan keberanian untuk menanamkan sikap saintis yang senantiasa berpikir kritis serta terbuka untuk menghilangkan segala tipu muslihat yang para penipu ciptakan terlebih di era post truth sekarang ini.