Mahasiswa
1 bulan lalu · 12 view · 4 menit baca · Politik 57933_77022.jpg
kataindonesia.com

Ancaman Hoaks bagi Persatuan Bangsa

Sejarah mencatat bahwa hoaks bukanlah hal baru. Cerita hoaks banyak ragamnya. Dalam dunia sains, dunia militer, bahkan dalam urusan agama sekalipun. Mulai dari hoak serius yang mempertaruhkan dan bahkan mengorbankan nyawa hingga hoaks sepele yang sekadar menggelikan para pembaca atau pendengar sebuah cerita. Anehnya, hoaks yang menggelikan juga bisa memicu peperangan.

Nyatanya, penyebaran berita hoaks bisa melaju lebih cepat daripada anak panah yang melesat meninggalkan busurnya. Hanya tinggal sekali tekan, berita hoaks bisa tersebar pada seluruh anggota grup WhatsApp.

Perkembangan teknologi telah menjadikan manusia dapat dengan mudah mengakses informasi di belahan bumi lain. Namun di balik mudahnya hal tersebut, informasi palsu juga atau hoaks bisa saja diakses oleh siapa pun.

Hoaks juga nyatanya dapat memicu terjadinya perang dunia. Pada awal September 1939, Adolf Hitler mengabarkan kepada parlemen Jerman bahwa militer Polandia telah menembaki tentara Jerman pada pukul 05.45. Ia lalu bersumpah akan membalas dendam. 

Kebohongan yang memicu Perang Dunia II itu terungkap setelah ketahuan tentara Jerman sendiri yang membunuh pasukan perbatasan Polandia. Karena sejak 1938 Jerman sudah mempersiapkan pendudukan terhadap jirannya itu.

Di tempat lain, pada 5 Februari 2003, Menteri Luar Negeri AS, Colin Powell, mengklaim memiliki bukti kepemilikan senjata pemusnah massal oleh Irak pada sebuah sidang Dewan Keamanan PBB. Meski tak mendapatkan mandat PBB, Presiden Amerika saat itu George W Bush, akhirnya tetap menginvasi Irak untuk meruntuhkan rezim Saddam Husein. Namun hingga kini senjata biologi dan kimia yang diklaim dimiliki oleh Irak tidak pernah ditemukan.

Di Indonesia, hoaks juga dapat membuat seseorang kehilangan nyawa. Di Kalimantan Barat pada tahun 2017, seorang pria berumur 53 tahun tewas diamuk massa karena dituduh sebagai penculik anak. Saat itu almarhum berniat untuk menjenguk cucunya yang baru lahir di rumah anaknya. Namun saat itu dirinya kebingungan mencari rumah anaknya.

Warga yang melihatnya langsung curiga dan menuduhnya sebagai pelaku penculikan anak sebagaimana dengan adanya kabar hoaks yang beredar kala itu. Tanpa berusaha mencari info lebih lanjut, para warga lantas mengeroyok pria itu hingga tewas. Nahas, dirinya tidak sempat melihat cucunya untuk pertama kali.

Bisa dibayangkan bahwa berita hoaks adalah ancaman untuk persatuan bangsa. Fitnah bisa saja membuat persatuan bangsa terpecah. Gencatan senjata makin menggelora hingga nyawa menjadi taruhannya.

Dalam hal ini, tentu tidak ada ampun bagi para penyebar berita hoaks di Indonesia pada khususnya. Karena sejarah sudah banyak membuktikan bahwa berita hoaks akan menyebabkan kehancuran suatu peradaban.

Salah satu hoaks yang berdampak pada perekonomian adalah beredarnya hoaks tentang telur palsu yang berbahan dasar dari karet. Kabar bohong tersebut ternyata berdampak besar pada menurunnya omzet penjualan telur di pasar hingga mencapai 40%.

Hoaks di Indonesia tak kunjung reda bisa jadi karena beberapa sebab, seperti minimnya program literasi digital ke masyarakat. Literasi digital dirasa penting untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat tentang konten apa saja yang berpotensi melanggar hukum dan tidak.

Penyebab lainnya adalah karena mudahnya berita hoaks didapatkan dari teman atau orang-orang yang kita kenal. Karena seorang manusia biasanya juga percaya dengan teman atau keluarga, maka otak kita tidak akan benar-benar menyaring informasi tersebut dan mudah untuk mempercayainya, apalagi jika orang yang memberikan berita tersebut adalah pribadi yang baik.

New York Times menyebutkan bahwa berita-berita hoaks acap kali dibumbui dengan judul yang bombastis dan menarik perhatian warganet. Perhatian ini disebut virus digital. Virus digital ini cenderung lebih mudah menjadi viral dan dipercaya oleh banyak orang yang mendapatkan informasi tersebut.

Studi dari Standford University menunjukkan bahwa anak muda utamanya remaja atau mahasiswa menilai kebenaran sebuah berita dari detail konten seperti jumlah dan besarnya foto, panjang artikel, dan lain-lain. Penelitian yang melibatkan 7.840 siswa tersebut mendapatkan hasil bahwa anak muda lebih memprioritaskan isi artikel daripada sumber berita. Hal ini menjadi alasan kenapa anak muda sangat rentang sekali dengan berita hoaks.

Dalam hal ini, tentu masyarakat khususnya pengguna internet tak bisa lepas dari ancaman berita bohong atau informasi yang bias akan kebenaran. Tak hanya itu, masyarakat juga cenderung tidak memedulikan kredibilitas dari sumber berita.

Berita hoaks juga sering kali bermuatan isu SARA. Konten-konten yang pernah dipopulerkan oleh kelompok Saracen tersebut nyatanya membuat masyarakat terpecah belah karena ulahnya. Hal tersebut dikarenakan masyarakat tidak bisa membedakan isu mana yang benar dan hoaks. 

Menteri Agama Lukman Hakim mengatakan bahwa persatuan Indonesia tidak boleh goyah hanya karena provokasi dan hasutan. Demi mewujudkan persatuan bangsa, maka berita hoaks haruslah dilawan. Berbagai langkah ampuh untuk menganggulanginya, salah satunya adalah melalui sebuah edukasi literasi bermedia sosial.

Warganet juga perlu menelusuri informasi hoaks yang tak diketahui sumbernya agar disandingkan dengan tiga atau empat media yang terdaftar di Dewan Pers. Selain itu, kita juga perlu mengontrol jempol kita untuk tidak membagikan berita yang belum teruji kebenarannya. Selain teruji, kita juga perlu mempertimbangkan kiranya apa manfaat yang akan kita dapatkan jika berita ini kita share di media sosial.

Selain itu, warganet juga perlu mengembangkan sikap skeptis apabila terdapat judul berita yang bombastis. Hal ini dikarenakan berita hoaks kerap muncul dengan judul yang terkesan WAH. 

Selain itu, berhati-hati juga dengan url palsu. Banyak situs berita hoaks yang berpura-pura menjadi sumber berita autentik dengan mengubah alamat url.

Baca Juga: Melawan Hoaks