2 minggu lalu · 84 view · 4 min baca · Politik 90468_23518.jpg
©Jérôme Rommé

Ancaman dan Kembalinya WNI dari Suriah

Berita tentang nasib warga Indonesia yang bergabung dengan ISIS dan sekarang ingin pulang atau diminta untuk segera dipulangkan sedang hangat-hangatnya. Banyak media sudah meliput dan menulis tentang ini.

Ada pro dan kontra tentunya tentang isu tersebut. Artikel ini mencoba untuk melihatnya dari perspektif intelijen. 

Cara pandang intelijen selalu berangkat dari ada atau tidaknya suatu ancaman. Bahkan dari sejak potensi ancaman belum berwujud, sudah harus bisa dideteksi. Ancaman dapat dikelola dengan fungsi intelijen, yaitu salah satunya adalah pengamanan.

Menurut Hank Prunckun dalam Handbook of Scientific Methods of Inquiry for Intelligence Analysis (2010), dalam menganalisis ancaman memiliki rumusan: maksud (niat, kehendak) + kapabilitas = ancaman. Maksud atau niat dapat dibagi lagi dalam dimensi Hasrat dan Pengharapan. Sementara Kapabilitas memiliki dimensi Pengetahuan dan Sumber Daya

Niat (Intent) adalah tingkat keyakinan keberhasilan calon pelaku untuk melakukan aksinya. Kapabilitas adalah tingkat kemampuan calon pelaku untuk dapat membuat kerusakan pada target. 

Hasrat (Desire) adalah tingkat hasrat dan antusiasme calon pelaku untuk menyebabkan kerusakan dalam mengejar tujuan mereka. Pengharapan (Expectation) adalah tingkat keyakinan calon pelaku akan berhasil mencapai tujuannya. 


Pengetahuan (Knowledge) adalah memiliki informasi dan pengetahuan yang dapat digunakan seperti membuat peralatan, merencanakan aksi dan lainnya. Sumber Daya (Resource) adalah termasuk pendanaan, keterampilan (atau pengalaman), dan bahan yang diperlukan untuk bertindak sesuai rencana.

Kita akan menganalisis secara ringkas dari masing-masing dimensi di atas. Pertama adalah dimensi Hasrat (Desire). 

Seberapa besar hasrat dari para WNI yang akan kembali dari Suriah setelah bergabung ISIS (returnee) dalam meneruskan kembali ‘jihad’ setelah sampai di Indonesia? Jawaban dari pertanyaan ini tidak mudah. Tidak ada yang tahu pasti hasrat atau keinginan seseorang. 

Mungkin para returnee tampak sudah tidak ingin melanjutkan aksi di Indonesia atau telah memutus afiliasi dengan ISIS, tapi dalam hati dan pikirannya tentu tak ada yang tahu seperti apa. Diperlukan investigasi mendalam dengan menggunakan berbagai teknik interogasi dan wawancara kepada para returnee beserta keluarganya, termasuk anak-anaknya, untuk mendapat gambaran tentang seberapa besar keinginan mereka meneruskan ‘jihad’ dan menebar ancaman di tanah air.

Dimensi berikutnya adalah pengharapan atau expectation. Bagaimana returnee dapat yakin dan mampu mencapai tujuannya? 

Tujuannya katakanlah berperang dan menebar teror untuk mencapai suatu ‘negara’ yang mereka cita-citakan. Mereka dapat merasa yakin atau percaya diri jika tahu misalnya pengawasan dari pemangku kepentingan keamanan nasional rendah; seperti lembaga keamanan lemah, budaya korupsi, banyaknya isu-isu dalam negeri yang memerlukan pengawasan sehingga aparat luput mengawasi dan lain sebagainya. 

Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan keamanan maksimal dari pihak pemangku kepentingan agar returnee tidak dapat memiliki pengharapan tinggi untuk melakukan perencanaan apalagi sampai tindakan teror. 

Intinya adalah bagaimana menciptakan kondisi agar meminimalkan atau bahkan menihilkan harapan returnee untuk merencanakan aksi dan mencapai tujuan besarnya. Misalnya dengan menjalankan semua undang-undang berlaku yang terkait keamanan dan teror secara tegas dan adil.

Ancaman tergantung dari niat dan kapabilitas atau kemampuan. Kedua dimensi yang baru dibahas di atas, Hasrat dan Pengharapan, adalah bagian dari Niat. Lalu, seberapa besar niat dari returnee untuk merencanakan dan meneror berdasarkan tingkat hasrat dan pengharapan? 

Kesimpulan sementaranya adalah para pemangku kepentingan dapat meminimalkan tingkat Pengharapan dengan salah satu caranya adalah melakukan pengawasan dan menindak sesuai undang-undang berlaku secara tegas. Sementara, dalam dimensi Hasrat, tidak ada yang mengetahui isi hati dan pikiran seseorang. 


Meskipun begitu, hasrat dapat diminimalkan dengan program seperti melakukan pemutusan hubungan dengan kelompok teror, pendidikan kewarganegaraan, dan keagamaan yang moderat.

Sekarang kita akan membahas tentang Kapabilitas. Kapabilitas memiliki dua dimensi: Pengetahuan (knowledge) dan Sumber Daya (resource). Pengetahuan dari para returnee yang didapat dari perjalanan ke Suriah dan sekitarnya tentu sangat beragam. Keahlian dalam persenjataan, taktik perang, membuat bom, survival, propaganda dan lainnya. 

Apakah semua returnee memiliki pengetahuan mendalam tersebut? Kita harus hati-hati dalam menentukan tingkat kedalaman pengetahuan ini. Mungkin ada yang digolongkan ahli, namun ada juga yang tidak tahu apa-apa tentang itu semua alias hanya ‘ikut-ikutan’. Makin ia banyak pengetahuannya, makin tinggi nilai dari dimensi ini.

Kemudian dalam dimensi Sumber Daya, salah satu yang penting adalah pendanaan. Seberapa mampu secara keuangan seorang returnee dapat ‘memodali’ suatu aksi teror? Apakah masih ada sumber dana gelap, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, yang bisa mereka akses untuk pembelian bahan-bahan membuat bom, misalnya? 

Perlu penyelidikan lebih dalam untuk mengetahui sumber daya keuangan mereka. Aliran dana mereka dalam sistem perbankan tradisional atau digital perlu diperiksa sebelum diizinkan kembali serta nantinya harus terus diawasi.

Dari dimensi Kapabilitas atau kemampuan dapat disimpulkan secara cepat bahwa dimensi ini lebih dapat dikendalikan oleh pemerintah atau aparat keamanan beserta pihak organisasi sipil serta masyarakat luas selaku bagian dari pemangku kepentingan keamanan nasional. Kuncinya adalah bagaimana mengerdilkan kapabilitas returnee untuk merencanakan aksi-aksinya. 

Pengendalian sumber daya tentunya mampu dikerjakan oleh pemerintah dan aparat keamanan. Misalnya dengan menyelidiki aliran keuangan returnee sebelum diizinkan kembali dan terus mengawasinya. Pengetahuan (knowledge) mereka juga dapat diketahui dari awal, paling tidak, untuk awalnya, dilihat lewat jejak digital.

Dari rumus Ancaman yang dijelaskan di atas, dapat dilihat seberapa tinggi ancaman seseorang returnee masuk kembali ke tanah air. Makin tinggi nilai masing-masing dimensi, akan makin tinggi juga nilai ancamannya. 

Meski ancaman tinggi, kita perlu menganalisis lagi masalah kerentanan dan risiko. Sehingga jika kita tahu tentang nilai ancaman, kerentanan, dan risiko, strategi perencanaan pencegahan, pengamanan, respons, dan pemulihan dapat dilakukan.

Wacana pemulangan tidak perlu ditakuti berlebihan, namun jangan juga dipandang sebelah mata. Perlu ketelitian analisis, juga akuntabel dan transparan, sebelum akhirnya diputuskan bagaimana kebijakan terbaiknya.

Artikel Terkait