Publik Indonesia sedang digegerkan dengan akhir dari drama kasus penyiraman air keras kepada Novel Basweden. Hakim akhirnya memutuskan tersangka penyiraman air keras kepada Novel Basweden dituntut 1 tahun penjara. Berita ini viral di beberapa media, baik media massa maupun media sosial.

Kritik mulai berdatangan, mulai dari pakar hukum, aktivis, bahkan beberapa publik figur serta kreator konten ikut mengkritisi hukum di Indonesia. Menurut mereka, ada yang janggal dan tidak masuk akal dengan keputusan hakim dalam persidangan.

Pada tulisan ini saya tidak akan berbicara mendalam terkait wilayah hukum dalam kasus Novel Basweden, karena itu bukan domain saya dalam membicarakan pasal-pasal hukum yang ada di Indonesia. Yang menarik bagi saya pada kasus Novel Baswedan adalah terkait kritik anekdot yang dilayangkan Bintang Emon dalam videonya yang berdurasi kurang dari 2 menit.  

Dalam video tersebut Bintang Emon dengan khas humornya mengkritik keras keadilan yang ada di Indonesia. Bagaimana tidak, tuntutan jaksa menyebut dalam persidangan penyiram air keras terhadap Novel Baswedan bahwa apa yang dilakukan adalah sebuah ketidaksengajaan. Lantas statement inilah yang dijadikan Bintang Emon sebagai bahan kritik dalam konten videonya dan viral di berbagai media mainstream maupun media sosial.

Selang beberapa hari, setelah video Bintang Emon viral, muncul berita hangat bahwa Bintang Emon dituduh mengonsumsi narkoba. Berita ini sempat viral dan menggegerkan publik di media massa maupun media sosial.

Bintang Emon Mulai Terancam dan Stres

Sejak munculnya berita tentang Bintang Emon dituding mengonsumsi narkoba, Bintang Emon mulai stres. Banyak dukungan muncul dari sesama pekerja seni yang menganggap bahwa Bintang Emon menggunakan narkoba hanya fitnah belaka.

Mulai dari Pandji Pragiwaksono, Ernest Prakasa, Tretan Muslim, dan masih banyak sekali teman-teman publik figur yang memberikan dukungan kepada Bintang Emon. Mereka meyakini bahwa Bintang Emon hanya menyampaikan pendapatnya, sehingga tidak adil jika muncul fitnah yang menganggap bahwa Bintang Emon menggunakan narkoba.

Banyak yang tidak percaya dengan berita tuduhan Bintang Emon menggunakan narkoba, pasalnya Bintang Emon termasuk salah satu komika yang antipati dengan barang-barang haram tersebut. Jadi aneh rasanya jika muncul berita yang menganggap kalau Bintang Emon menggunakan narkoba.

Untuk menghilangan stres, akhirnya Bintang Emon memutuskan untuk langsung menjalani tes narkoba di Rumah Sakit Pondok Indah Puri Indah. Setelah keluar hasilnya negatif, Bintang Emon langsung memamerkan hasilnya di akun instagram miliknya. Hal ini untuk meminimalisasi berita yang telah menfitnah dirinya.

Konsep Panoptikon dan Ancaman Bintang Emon

Konsep Panoptikon yang diusung Foucault dengan menggunakan model penjara yang awalnya didesain oleh Bentham. Menurut Foucault, penjara tersebut berfungsi untuk membuat para tahanan dalam penjara menjadi disiplin dan merasa bertanggung jawab untuk mematuhi aturan.

Asumsi bahwa dia akan mendapat hukuman jika tingkah lakunya selama dalam penjara begitu buruk, maka para tahanan akan bertingkah laku sesuai peraturan yang telah ditetapkan karena mereka merasa selalu diperhatikan.

Penjara ini sedang dirasakan Bintang Emon setelah videonya yang mengkritik keadilan di Indonesia viral. Bintang Emon mulai berhati-hati dalam melakukan tindakan maupun ucapan. Gerak-geriknya sedang diawasi oleh kekuasaan. Bisa jadi kalau Bintang Emon salah bertindak, maka dipastikan banyak oknum yang memanfaatkan momen itu untuk menjatuhkan serta menyerang Bintang Emon dengan dalih undang-undang yang ada di Indonesia.

Kini hidup Bintang Emon tidak leluasa dalam menjalani kehidupannya. Hidupnya merasa diawasi, ke mana pun dan di mana pun dia berada. Bintang Emon mulai sadar sepenuhnya bahwa dirinya selalu menjadi objek pantauan, pada akhirnya dia seperti kehilangan kebebasan berpendapat, sungguh sangat miris.

Dampak dari Konsep Panoptikon terhadap Masyarakat 

Foucault (1995) melihat bahwa dampak terbesar dari panoptikon adalah untuk menstimulasi kesadaran dan pandangan masyarakat yang meyakini adanya fungsi kekuasaan yang berlangsung secara otomatis tanpa kita sadari dalam kehidupan sehari-hari.

Pada dasarnya setiap orang memiliki kebebasan berpendapat sesuai dengan undang-undang yang berlaku di Indonesia. Kini kebebasan itu mulai diawasi dengan munculnya panoptik-panoptik penguasa. Segala hal yang harusnya bersifat privat berubah menjadi konsumsi publik.

Tak heran jika beberapa akun milik Bintang Emon mulai muncul percobaan pembobolan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.  

Dalam podcastnya bersama Deddy Corbuzier, Bintang Emon mengakui dirinya mulai berhati-hati dalam menyampaikan pendapat. Dia menyadari hidupnya selalu diawasi oleh pihak lain yang bisa memantau, mengintai, menyadap, memata-matai, dan menelanjangi dirinya, tanpa memandang waktu dan tempat.

Sungguh miris hidup ini, bayangkan kita hidup di zaman yang teknologi serba canggih. Harusnya kita memiliki kebebasan penuh dalam berpendapat, justru kita terkungkung pada konsep panoptik penguasa.

Ke mana pun kita sedang diawasi. Mungkin kita baru sadar ketika kita melakukan penginstalan aplikasi di smartphone, Kita dianjurkan untuk mengisi data diri, saat itulah teknologi sedang mengintai dan mengawasi kita.

Hal itulah yang sedang dirasakan Bintang Emon sekarang. Hidupnya selalu diawasi dan di kontrol oleh pihak yang merasa tersakiti dan memiliki kuasa.